Shell Akuisisi ARC Kanada Senilai US$16,4 Miliar untuk Genjot Produksi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan energi asal Inggris Shell resmi menyepakati akuisisi perusahaan energi Kanada ARC Resources dengan nilai transaksi mencapai US$16,4 miliar, termasuk utang. Langkah ini diumumkan pada Senin (27/4/2026) dan diperkirakan akan memperkuat kapasitas produksi minyak dan gas Shell secara signifikan.

Dalam kesepakatan tersebut, Shell menyatakan akuisisi ini akan menambah produksi sekitar 370.000 barel setara minyak per hari (boed), sekaligus membantu perusahaan mengatasi potensi penurunan produksi di masa depan akibat menurunnya produktivitas ladang-ladang tua.

Strategi Shell Hadapi Penurunan Produksi

Sebelumnya, analis memperkirakan Shell membutuhkan akuisisi besar atau penemuan cadangan baru untuk menutupi potensi penurunan produksi sebesar 350.000 hingga 800.000 boed pada pertengahan dekade mendatang. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya produktivitas aset lama yang sulit memenuhi target produksi jangka panjang.


Dengan akuisisi ARC Resources, Shell memperkuat posisi strategisnya di Kanada, terutama karena aset ARC berlokasi berdekatan dengan fasilitas produksi Shell yang memasok proyek LNG Canada.

Baca Juga: Kenaikan Harga Energi akibat Konflik Timur Tengah Ancam Pemulihan Konsumsi Global 

Proyek ini memiliki nilai strategis karena memungkinkan ekspor gas alam cair ke pasar Asia dengan waktu pengiriman yang lebih cepat dibandingkan jalur Amerika Utara lainnya.

Produksi dan Cadangan Energi Meningkat

ARC Resources sendiri mencatat produksi rata-rata mencapai 374.000 boed pada 2025, dengan komposisi 59% gas alam dan 41% minyak serta cairan hidrokarbon lainnya.

Sementara itu, produksi minyak dan gas Shell tercatat sekitar 2,8 juta boed pada akhir 2025. Akuisisi ini akan menambah sekitar 2 miliar barel cadangan energi bagi Shell, memperkuat portofolio jangka panjang perusahaan.

Struktur Pembiayaan dan Nilai Transaksi

Shell menjelaskan bahwa transaksi akan dilakukan melalui kombinasi pembayaran tunai dan saham. Pemegang saham ARC akan menerima C$8,20 dalam bentuk tunai serta 0,40247 saham Shell per saham ARC, dengan komposisi sekitar 25% tunai dan 75% saham.

Nilai ekuitas transaksi mencapai sekitar US$13,6 miliar, yang akan didanai melalui US$3,4 miliar tunai dan US$10,2 miliar dalam bentuk saham Shell. Termasuk utang bersih sekitar US$2,8 miliar, total nilai perusahaan mencapai US$16,4 miliar.

Shell menegaskan bahwa akuisisi ini diperkirakan menghasilkan imbal hasil dua digit dan meningkatkan arus kas per saham mulai 2027, tanpa mengganggu rencana investasi perusahaan yang tetap berada di kisaran US$20–22 miliar hingga 2028.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Pupuk, Produksi Pangan Global Terancam 

Target Produksi dan Strategi Jangka Panjang

Shell juga mengungkapkan bahwa rasio cadangan terhadap produksi (reserve life) pada 2025 turun menjadi kurang dari delapan tahun, dibandingkan sembilan tahun sebelumnya. Ini menjadi level terendah sejak 2021, menandakan perlunya ekspansi cadangan energi baru.

Dengan akuisisi ini, Shell menaikkan target pertumbuhan produksi tahunan majemuk (CAGR) menjadi 4% hingga dekade ini, naik dari target sebelumnya sebesar 1%. Perusahaan juga menargetkan produksi cairan sekitar 1,4 juta barel per hari tetap stabil hingga 2030 dan seterusnya.

Di pasar saham, saham Shell tercatat turun tipis 0,1% pada perdagangan 12:43 GMT, sementara indeks sektor energi Eropa justru naik 0,4%.

Kesepakatan ini menjadi salah satu transaksi besar di sektor energi global, meskipun masih lebih kecil dibandingkan akuisisi raksasa energi AS Chevron yang mengakuisisi Hess senilai US$55 miliar pada 2025.