Shell Nyatakan Force Majeure untuk Pasokan LNG Qatar ke Pelanggan Global



KONTAN.CO.ID - Perusahaan energi Shell yang merupakan pedagang gas alam cair (LNG) terbesar di dunia menyatakan force majeure atas kargo LNG yang dibeli dari QatarEnergy dan dijual kembali kepada para pelanggannya di berbagai negara, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Melansir Reuters Rabu (11/3/2026), langkah ini dilakukan setelah Qatar, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, mengumumkan penghentian produksi di fasilitas LNG berkapasitas 77 juta ton per tahun (mtpa) pekan lalu dan juga menyatakan force majeure atas pengiriman LNG.

Pihak Shell menolak memberikan komentar terkait kebijakan tersebut.


Baca Juga: Dua Drone Jatuh Dekat Dubai Airport, Lalu Lintas Udara Terganggu

Sejumlah pembeli LNG Qatar lainnya, termasuk TotalEnergies dan beberapa perusahaan energi di Asia, juga telah menerima pemberitahuan force majeure dari Qatar.

Mereka kemudian memberi tahu pelanggan bahwa penjualan LNG asal Qatar tidak dapat dilakukan selama fasilitas produksi masih berhenti beroperasi, menurut dua sumber lain.

Namun, sumber yang dekat dengan TotalEnergies mengatakan perusahaan energi asal Prancis tersebut belum menyatakan force majeure.

Istilah force majeure biasanya digunakan untuk menggambarkan peristiwa di luar kendali Perusahaan seperti bencana alam yang membebaskan pihak dari kewajiban kontrak tanpa dikenakan sanksi.

Shell dan TotalEnergies sendiri memiliki kemitraan jangka panjang dengan QatarEnergy serta menjadi mitra dalam proyek ekspansi besar North Field, yang bertujuan meningkatkan kapasitas produksi LNG Qatar pada 2027.

Baca Juga: Ternyata! Arab Saudi Sudah Kerek Produksi Minyak Sebelum Serangan AS Israel ke Iran

Analis memperkirakan Shell menerima sekitar 6,8 juta ton LNG per tahun dari Qatar, sementara TotalEnergies sekitar 5,2 juta ton per tahun.

Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, sebelumnya mengatakan kepada Financial Times bahwa normalisasi pengiriman LNG dapat memakan waktu “beberapa minggu hingga beberapa bulan”, bahkan jika konflik yang sedang berlangsung berakhir hari ini.

Sumber Reuters pekan lalu juga menyebut bahwa pemberitahuan force majeure kepada pelanggan menyatakan pengiriman LNG untuk Maret masih tidak terdampak, sementara gangguan pasokan diperkirakan mulai terasa pada April.