Shortfall setoran cukai diprediksi Rp 5,96 T



JAKARTA. Pemerintah memperkirakan realisasi penerimaan bea dan cukai hingga akhir tahun ini mencapai Rp 178 triliun. Target tersebut mencapai 96,8% dari target dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2016 yang sebesar Rp 183,96 triliun. Dengan demikian, selisih antara realisasi dengan target alias shortfall penerimaan bea dan cukai tahun ini mencapai sekitar Rp 5,96 triliun.

Direktur Penerimaan dan Perencanaan Strategis Ditjen Bea dan Cukai Kemkeu, Sugeng Aprianto mengatakan, penerimaan cukai pada tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai Rp 144 triliun-Rp 145 triliun. Artinya, penerimaan cukai tahun ini kurang Rp 3,1 triliun-Rp 4,1 triliun dari target tahun ini yang sebesar Rp 148,1 triliun.

Menurut Sugeng, proyeksi realisasi penerimaan cukai tersebut mempertimbangkan penerimaan cukai hasil tembakau yang lebih rendah. Sebab, produksi rokok sepanjang tahun ini mengalami penurunan.


"Jumlah produksi rokok pada tahun ini turun 0,8%-1,4% dibandingkan produksi tahun lalu," kata Sugeng kepada KONTAN, Senin (5/3).

Lebih lanjut menurutnya, rendahnya realisasi penerimaan cukai tersebut juga mempertimbangkan belum diberlakukannya pengenaan cukai terhadap produk plastik. Sementara potensi penerimaannya yang diperkirakan sebesar Rp 1 triliun telah dimasukkan dalam anggaran tahun ini.

Penerimaan bea masuk diperkirakan hanya Rp 31,35 triliun atau kurang Rp 2,05 triliun dari target yang dipatok sebesar Rp 33,4 triliun. Selisih antara perkiraan realisasi dengan target tersebut lantaran kegiatan importasi tahun ini yang lebih rendah 17% dibanding tahun lalu.

Sementara itu, penerimaan bea keluar justru diperkirakan lebih tinggi dari target yang dipatok, yaitu sebesar Rp 2,9 triliun dibanding target dalam APBN-P 2016 yang sebesar Rp 2,5 triliun. Perkiraan penerimaan bea keluar tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini