Shutdown, ekonomi AS terkoreksi 0,1%



WASHINGTON. Polemik dua kubu politik Amerika Serikat kali ini menumbalkan kesejahteraan warga. Pasalnya, penghentian operasional pemerintahan AS alias shutdown diperkirakan bakal memangkas pertumbuhan ekonomi AS. Mengutip survei Bloomberg terhadap 40 ekonom, perekonomian AS diproyeksikan bakal mengurangi pertumbuhan  hingga sebesar 0,1%.

Hitungan ekonom, perlambatan ekonomi sebesar 0,1% bakal terjadi andaikan shutdown berlangsung dalam tempo seminggu. Dus, produk domestik bruto (PDB) AS pun diramal bakal berkisar antara 0%-0,4%. “Efek shutdown terhadap ekonomi AS akan jauh lebih besar jika berlangsung lebih dari seminggu," ujar Stephen Stanley, Kepala Ekonom Pierpont Securities LLC, mengutip Bloomberg.

Stanley menyebut, dampak negatif shutdown bakal minim jika hanya berlangsung kurang dari seminggu. “Jika berlangsung singkat, warga AS akan melupakan dalam waktu satu atau dua bulan mendatang,” ujar dia. Ramalan Stanley, dua pekan shutdown bakal memangkas PDB AS sebesar 0,2%. Seentara, penghentian selama sebulan akan mengurangi pertumbuhan ekonomi AS sebesar 0,5%.


Catatan saja, sekitar 800.000 pegawai negeri AS menjadi korban debat politik Partai Republik dan Partai Demokrat. Mereka adalah pegawai yang cuti sementara waktu lantaran operasional pemerintahan harus tutup buku.

Kehilangan pendapatan

Per 1 Oktober kemarin, beberapa kantor pemerintahan ditutup untuk mengurangi pengeluaran negara. Misalnya saja, penutupan taman nasional, museum dan proyek penelitian medis. Hitungan IHS Inc, penutupan sejumlah fasilitas publik membuat AS kehilangan potensi pendapatan sebesar US$ 300 juta per hari.

Nah, jika shutdown terjadi dalam tempo lebih dari seminggu, potensi pendapatan yang akan hilang mencapai sebesar US$ 15,7 triliun. Hal ini bakal memperburuk upaya AS yang tengah berjuang untuk mengalami pemulihan ekonomi AS. Catatan saja, peristiwa tragis suhtdown ini merupakan pertama kali bagi AS dalam tempo 17 tahun. Shutdown terjadi terakhir kali dalam era pemerintahan presiden Bill Clinton di tahun 1995 silam.

Penolakan Partai Republik terhadap anggaran Obamacare menjadi biang keladi terjadinya shutdown. Penghentian pemerintahan bisa berlanjut andai dua kubu politik tidak mencapai kesepakatan tentang debt ceiling.        

Editor: Dessy Rosalina