Si burung biru sukses merajai Indonesia



JAKARTA. Di industri taksi, Blue Bird Group merupakan pemain besar. Perusahaan taksi ini sudah terkenal di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Lombok, Manado, Medan, Palembang, Pekanbaru dan Batam.  

Memiliki 26.000 unit armada, penyedia jasa layanan taksi ini fokus membidik kelas premium.Puluhan tahun malang-melintang di bisnis taksi, kini lini usaha Blue Bird Group juga mekar ke sektor-sektor lain, seperti properti, logisitik, karoseri, dan distributor alat-alat pemadan kebakaran.

Di balik nama besar grup usaha ini ada kerja keras Mutiara Djokosoetono yang merintis berdirinya Blue Bird sejak 1972 silam. Mutiara merupakan ibu dari Purnomo Prawiro yang kini menjabat Presiden Direktur Blue Bird Group.


Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Purnomo menjadi saksi hidup perjuangan sang ibu di dalam membangun bisnis taksi ini. Purnomo berkisah, ibunya memulai usaha dari nol dengan bermodalkan 25 armada taksi. Taksi tersebut dipesan dari Surabaya untuk beroperasi di Jakarta.

Sebagai seorang ibu, motivasinya terjun ke dunia usaha sederhana saja, yakni ingin mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Penghasilnya sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri kurang mencukupi buat biaya sekolah anak-anaknya. Sementara ia ingin ketiga anaknya bisa terus sekolah hingga lulus perguruan tinggi.

Purnomo masih ingat betul ketika awal merintis usaha ibunya sempat diremehkan oleh para kompetitor dan pemerintah. Maklum, saat itu perempuan masih tabu terjun ke bisnis. “Dulu kita sempat susah mendapat izin taksi dari pemerintah karena yang menjalankan perempuan,” ujar Purnomo kepada KONTAN, belum lama ini.

Saat itu, usia Purnomo baru 25 tahun dan masih menyandang status mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).Kendati masih kuliah, Purnomo mengaku, banyak terlibat membantu ibunya membesarkan usaha.

“Banyak orang menyebut saya generasi kedua, tapi saya lebih suka disebut generasi ke-1,5. Karena saat ibu saya mendirikan usaha ini, saya juga ada di situ,” ungkapnya.

Tak heran, bila Purnomo tahu betul bagaimana ibunya merintis usaha ini. Ia mengenang, kendati banyak memandang sebelah mata, ibunya tak gentar untuk terus maju membesarkan usaha. Bahkan, di bawah kendali ibunya, Blue Bird menjadi pionir taksi modern.

Armada Blue Bird saat itu sudah memberikan fasilitas pendingin ruangan (AC), radio komunikasi dan pemasangan argometer sebagai patokan tarif yang harus dibayar penumpang. Selain mencari tambahan buat biaya sekolah ketiga anaknya, ibunya juga ingin perusahaan taksinya menjadi yang terbaik dibanding kompetitor.

Semangat itu pula yang diusung Purnomo dalam membesarkan Blue Bird sepeninggal ibunya. Kendati tidak merintis dari awal, perjalanan Purnomo membesarkan bisnis taksi ini banyak mendapat tantangan.Perjalanan Purnomo memegang kendali atas Blue Bird melewati serangkaian konflik internal keluarga. Sepeninggal ibunya yang  wafat pada 10 Juni 2000, konflik mulai bermunculan.

Sebetulnya, ibunya sudah mengantisipasi muncul konflik dengan membagi jatah bisnis keluarga ke anak-anaknya. Chandra Suharto, selaku anak sulut mendapat jatah bisnis properti dan Golden Bird.

Anak kedua, yaitu Mintarsih A. Latief diberi tanggung jawab mengelola taksi Gamya, Gas Biru dan Jasa Alam (SPBU). Sedangkan Purnomo sebagai anak bungsu diserahi tanggung jawab mengelola taksi Blue Bird.

Konflikpun terjadi dan berdampak pada taksi Gamya yang keluar dari lingkaran bisnis sepeninggal ibunya. Adapun Gas Biru dan Jasa Alam telah dijual oleh Mintarsih. Purnomo bersama kakaknya Chandra yang memiliki satu visi, kemudian berkomitmen membesarkan Blue Bird Group.

Pasca konflik, Purnomo sadar betul bahwa potensi perselisihan akan selalu ada, termasuk di dalam keluarga maupun perusahaan. Dalam menyelesaikan konflik, menurutnya, perlu dilakukan komunikasi yang baik. "Komunikasi dengan segala pihak, mutlak diperlukan," kata Purnomo.

Sukses melewati semua tantangan, roda bisnis Blue Bird Group kini melaju kencang di tangan Purnomo. Wilayah operasi armada taksinya terus mekar hingga merambah kota-kota besar lain di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Lombok, Manado, Medan, Palembang, Pekanbaru dan Batam.

Dengan cakupan wilayah operasi tersebut, Purnomo mengklaim, Blue Bird melayani 8,5 juta penumpang saban bulannya. "Blue Bird menjadi tumpuan hidup bagi 36.000 pekerja," katanya.

Selama di bawah kendali Purnomo, Blue Bird Group juga gencar ekspansi ke sektor usaha lain dengan mendirikan beberapa anak usaha. Di antaranya merambah sektor properti lewat anak usaha PT Pusaka Bumi Mutiara yang berdiri tahun 2010.

Sementara di sektor dukungan layanan (supporting service), ia mendirikan Pusaka Integrasi Mandiri (2008), Pusaka Buana Utama (2010), Pusaka Andalan Perkasa (2012), dan PT Pusaka Bumi Transportasi (2012). Sejak 2010, ia juga menjadi distributor tunggal alat-alat pemadam kebakaran besutan Rosenbauer Internasional dengan mendirikan Pusaka Niaga Indonesia.  

Keberhasilan Purnomo mengembangkan Blue Bird Group didasarkan beberapa prinsip yang selalu ia pegang teguh. Pertama, seorang pengusaha harus memiliki keinginan. Menurutnya, modal utama membangun sebuah bisnis bukan uang, melainkan keinginan. “Pendiri Google itu saja memulai usahanya dari sebuah garasi kok,” ungkapnya memberi contoh.

Kedua, pengusaha yang sukses bertemu dengan kesempatan yang baik. Terakhir  faktor keberuntungan dan ridho dari orang tua dan Tuhan YME. “Namun dari itu semua, yang paling penting justru seorang pengusaha sukses harus punya impian,” ujar Purnomo.

Ia mencontohkan. jika ada seorang pemuda bercita-cita menjadi tentara dan impiannya hanya sampai jenjang mayor, maka ia hanya akan mencapai jenjang itu. “Lain kalau ia punya impian menjadi jenderal. Ia pasti akan berusaha untuk sampai ke situ,” tambahnya.

Purnomo bilang, bagi seorang pengusaha, sebuah impian mungkin belum jelas cara mencapai dan jalan yang harus dipillih. Namun, semuanya bisa terjadi jika pengusaha tersebut memaksimalkan segala yang dimilikinya untuk menuju impiannya.

Tak lupa, Purnomo juga terus berusaha merealisasikan semangat ibunya dalam membesarkan usaha. Yakni, memikirkan kesejahteraan dan pendidikan bagi anak-anak, serta menjadi perusahaan yang lebih baik dari kompetitor.  

Untuk misi pendidikan terhadap anak-anak, ia bersama manajemen Blue Bird Group telah menjalankan beberapa program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk para karyawan, seperti pemberian beasiswa bagi anak pengemudi armada dan pelatihan menjahit bagi istri para pengemudi armada.

Sementara misi untuk membawa perusahaan menjadi yang lebih baik dari kompetitor, sudah tercapai. “Filosofi nama Blue Bird itu The Bird of Happiness, kebahagiaan. Saya rasa kami sudah mencapai itu,” kata Purnomo.

Kendati demikian, Purnomo mengaku tetap terobsesi menjadi lebih baik lagi di bisnis ini. Makanya, ia terus fokus membenahi sistem kerja Blue Bird. Atas seluruh usahanya ini, beberapa perusahaan transportasi publik asal Malaysia, Singapura dan Filipina sudah menemuinya Blue Bird Group untuk mempelajari sistem yang diterapkan Blue Bird.

Bahkan, menurut Purnomo mengklaim, perusahaan-perusahaan itu sudah mengajaknya kerja sama untuk membuka cabang negara mereka masing-masing. Melihat tawaran tersebut, Purnomo tak lantas mengiyakan. Ia memilih akan berkonsentrasi di Indonesia terlebih dahulu. “Kita harus memikirkan tempat kita berpijak dulu di Indonesia. Di sini harus kita kembangkan dulu secara maksimal baru ke luar negeri,” tambahnya.

Terkait kepemimpinan di Blue Bird Group, Purnomo juga sudah menyiapkannya sejak jauh hari. Menurutnya, ada enam orang yang akan “dilatih” untuk menggantikannya. Enam orang ini merupakan pemegang saham Blue Bird Group.

Mereka ini memiliki kesempatan sama untuk meneruskan kepemimpinannya di Blue Bird. Namun, dari enam orang  itu hanya ada satu atau dua orang yang berhak menempati kursi di jajaran eksekutif. Sisanya diberikan kepada tenaga professional non-pemegang saham yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Purnomo.

“Dari dulu ada kebijakan jajaran eksekutif diisi 50% yang dari keluarga dan sisanya profesional. Sekarang, kita ingin lebih banyak porsi dari kalangan profesional,” ujarnya.  

Hal ini juga untuk menghindari potensi konflik yang bisa terjadi jika para pemegang saham terlalu banyak duduk di level eksekutif. Purnomo menetapkan kriteria, penerusnya nanti harus memiliki hasrat yang kuat untuk memajukan Blue Bird Group.

Noni Sri Aryati Purnomo, putri sulung Purnomo yang kini menjabat Wakil Presiden Pengembangan Bisnis Blue Bird Group, termasuk salah seorang yang disiapkan buat meneruskan kepemimpinan di Blue Bird.

Purnomo mengaku, sengaja belum menaruh putrinya di posisi teratas. “Kalau nanti ditaruh di atas, bisa-bisa melambung dan tidak tahu apa yang terjadi di bawah,” tambahnya.     

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri