KONTAN.CO.ID - National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memprediksi kemunculan fenomena Super El Nino pada Oktober 2026 sampai dengan Februari 2027. El Nino adalah kondisi di mana suhu air di Samudra Pasifik dekat khatulistiwa menjadi sangat hangat. Kondisi ini memicu perubahan cuaca yang signifikan di seluruh penjuru dunia.
Ekonom peringatkan harga pangan naik
Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, memperingatkan bahwa ancaman fenomena El Nino bisa memengaruhi komoditas pangan Indonesia. Sebagai gambaran, harga beras saat ini saja sudah naik, meski cadangan stok diklaim melimpah. "Fakta di lapangan bahwa harga beras itu naik di 111 kabupaten/kota. Jadi menurut saya kita harus prepare karena katanya ini El Nino yang cukup berat," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (20/5/2026). Acuviarta memperingatkan, kondisi tersebut bisa memengaruhi harga komoditas pangan Indonesia yang impor. Menurutnya, kombinasi stabilitas makro ekonomi saat ini dan perubahan cuaca memaksa Indonesia berada di posisi yang buruk. "Ada gangguan produksi pasti dan implikasinya pasti harga. Saya kira seperti itu ya," imbuhnya.Upaya BMKG
Sementara itu, Sekretaris Utama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto memaparkan perkembangan El Nino tahun ini. Dia menjelaskan, dinamika iklim global, termasuk peluang berkembangnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) menuju fase positif. Kondisi ini berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Diperkirakan, hal itu dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, karhutla, hingga gangguan pada sektor pangan dan sumber daya air. Dia menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau harus dilakukan lebih dini dan berbasis data serta prediksi iklim yang akurat. “Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” ucapnya, dilansir dari laman BMKG. Baca Juga: Suku Bunga BI Naik 50 Bps, Ini Dampaknya ke Cicilan Rumah, Mobil, dan Daya Beli Saat ini, BMKG akan terus mengembangkan layanan prediksi cuaca dan iklim untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun sektor teknis. Adapun layanan prediksi BMKG telah mampu memberikan informasi hingga tingkat desa dan kelurahan. BMKG juga memperkuat kemampuan pemantauan cuaca melalui radar cuaca dan sistem prakiraan berbasis nowcasting guna meningkatkan akurasi informasi cuaca ekstrem dan potensi hujan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan untuk mengatasi dampak El Nino tahun ini. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan setiap pelaksanaan OMC perlu direncanakan berdasarkan kondisi cuaca dan potensi pertumbuhan awan beberapa hari sebelumnya, serta dilakukan melalui koordinasi intensif dengan bidang meteorologi dan instansi terkait. Dia menambahkan, pelaksanaan OMC dilakukan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca di wilayah sasaran. Tabel: Potensi Dampak Super El Nino 2026 di Indonesia| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Penurunan curah hujan | Berpotensi terjadi di banyak wilayah Indonesia |
| Risiko kekeringan meningkat | Terutama saat musim kemarau |
| Ancaman karhutla | Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat |
| Gangguan produksi pangan | Produksi pertanian dapat terganggu |
| Harga pangan berpotensi naik | Termasuk beras dan komoditas impor |
| Tekanan terhadap daya beli | Harga kebutuhan pokok bisa meningkat |
| Gangguan sumber daya air | Pasokan air berpotensi menurun |
| Dampak ekonomi dan sosial | Berpotensi memengaruhi perekonomian masyarakat |