Tak salah bila Presiden Jokowi memberi perhatian ekstra pada perdagangan luar negeri untuk kabinetnya mendatang. Kondisi defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan makin mencemaskan. BPS menyebutkan, neraca perdagangan Juli 2019 defisit US$ 63,5 juta. Bila dihitung dari awal tahun, defisitnya mencapai US$ 1,9 miliar. Biangnya terutama makin besarnya impor minyak dan produk minyak. Antara produksi dan konsumsi pun kian njomplang. Konsumsi terus menanjak, jauh di atas produksi yang terus susut. Tak pelak Indonesia harus membuang banyak devisa untuk mengimpor minyak mentah dan BBM yang kian membesar kebutuhannya. Dan tak hanya minyak, sebentar lagi Indonesia secara neto juga bakal menjadi pengimpor gas.
Siap fokus berdaulat energi
Tak salah bila Presiden Jokowi memberi perhatian ekstra pada perdagangan luar negeri untuk kabinetnya mendatang. Kondisi defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan makin mencemaskan. BPS menyebutkan, neraca perdagangan Juli 2019 defisit US$ 63,5 juta. Bila dihitung dari awal tahun, defisitnya mencapai US$ 1,9 miliar. Biangnya terutama makin besarnya impor minyak dan produk minyak. Antara produksi dan konsumsi pun kian njomplang. Konsumsi terus menanjak, jauh di atas produksi yang terus susut. Tak pelak Indonesia harus membuang banyak devisa untuk mengimpor minyak mentah dan BBM yang kian membesar kebutuhannya. Dan tak hanya minyak, sebentar lagi Indonesia secara neto juga bakal menjadi pengimpor gas.