Siapa Peter Thiel? Miliarder Pendukung Trump yang Bikin Vatikan Gelisah



KONTAN.CO.ID - Miliarder teknologi asal Amerika Serikat, Peter Thiel, menggelar serangkaian kuliah tertutup di Roma yang membahas konsep Antikristus.

Agenda yang berlangsung secara rahasia tersebut menarik perhatian pengamat dan kalangan Gereja Katolik, sekaligus memicu kecaman dari Vatikan.

Konferensi yang hanya terbuka bagi undangan itu dimulai pada Minggu (15/3) dan dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (18/3). Tidak ada akses bagi media, dan lokasi penyelenggaraannya juga tidak diumumkan secara publik.


Baca Juga: CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI, Saham Turun 7%

Diskusi Antikristus dan Masa Depan Dunia

Melansir Reuters, Thiel dikenal sebagai salah satu pendiri perusahaan teknologi analitik data Palantir Technologies, yang memiliki hubungan erat dengan lembaga pertahanan dan intelijen Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pria berusia 58 tahun tersebut semakin sering membahas isu-isu filosofis dan keagamaan.

Pada tahun lalu, ia juga menyelenggarakan diskusi serupa di San Francisco yang membahas kemungkinan munculnya figur Antikristus di panggung global.

Dalam pandangannya, sosok tersebut bisa muncul dengan menawarkan solusi bagi berbagai ancaman global, seperti perang nuklir, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga bencana akibat perubahan iklim.

Menurut Thiel, seorang Antikristus berpotensi menjanjikan pembentukan pemerintahan dunia tunggal sebagai cara untuk mencegah berbagai ancaman tersebut.

Baca Juga: Skema Kripto Justin Sun Terbongkar: Selebritas Ikut Promosi Ilegal?

Hubungan dengan Tokoh Konservatif AS

Thiel diketahui masih memiliki hubungan dekat dengan sejumlah tokoh politik di Washington. Salah satunya adalah Wakil Presiden AS JD Vance.

Kunjungan Thiel ke Roma juga terjadi setelah beberapa figur penting dari gerakan konservatif Amerika melakukan perjalanan ke Italia, termasuk Steve Bannon, Elon Musk, serta JD Vance sendiri.

Meski demikian, agenda resmi pemerintah Italia menunjukkan bahwa tidak ada jadwal pertemuan antara Thiel dan Perdana Menteri Giorgia Meloni selama kunjungannya.

Baca Juga: Eks PM Tunisia Youssef Chahed dan 4 Mantan Menteri Divonis 6 Tahun atas Korupsi

Perhatian Gereja Katolik

Kunjungan Thiel ke Roma turut menjadi perhatian Gereja Katolik. Di bawah kepemimpinan Paus Leo, Vatikan dalam beberapa kesempatan mengkritik sejumlah kebijakan sayap kanan yang berkaitan dengan Presiden AS Donald Trump.

Paus Leo juga sebelumnya memperingatkan potensi risiko yang muncul dari perkembangan kecerdasan buatan.

Spekulasi sempat muncul bahwa salah satu universitas Katolik di Roma menjadi tuan rumah konferensi tersebut. Namun, pihak universitas membantah kabar tersebut.

Agenda resmi Vatikan juga menunjukkan bahwa tidak ada jadwal pertemuan antara Thiel dan Paus Leo selama kunjungannya.

Baca Juga: Daftar Orang Terkaya di Indonesia Awal Maret 2026: Anthoni Salim Tembus 5 Besar

Kritik dari Kalangan Teolog dan Media Gereja

Pastor Paolo Benanti, yang menjadi penasihat Paus dalam isu kecerdasan buatan, menulis esai yang menyoroti peran Thiel dalam lanskap teknologi dan politik.

Dalam tulisan yang dimuat di situs Le Grand Continent, Benanti menyebut Thiel sebagai “teolog politik” di lingkungan Silicon Valley.

Menurutnya, pendekatan Thiel terhadap ideologi dan politik dapat dilihat sebagai tantangan terhadap konsensus liberal yang selama ini menjadi dasar kehidupan sipil.

Artikel tersebut bahkan menggunakan judul provokatif: “American heresy: should Peter Thiel be burned at the stake?”, yang memiliki makna "Bidah Amerika: Haruskah Peter Thiel dibakar di tiang pancang?”.

Kritik serupa juga datang dari surat kabar L'Avvenire yang dimiliki oleh konferensi uskup Italia.

Dalam beberapa artikel yang diterbitkan pekan lalu, media tersebut mengingatkan bahwa para pemimpin teknologi tidak seharusnya menentukan sendiri batasan etika bagi inovasi digital.

Baca Juga: Eks Eksekutif Dell Jadi CFO Thomson Reuters, Soroti Strategi di Era AI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News