Siapa Saja Kandidat Kuat Perdana Menteri Thailand Berikutnya?



KONTAN.CO.ID - Thailand akan menggelar pemilihan umum pada 8 Februari, dengan persaingan tiga poros partai besar untuk menentukan siapa yang akan memimpin negara Asia Tenggara tersebut dalam empat tahun ke depan.

Sebanyak 93 nama telah diajukan partai-partai politik sebagai calon perdana menteri. Dari daftar tersebut, sejumlah figur menonjol dipandang sebagai kandidat terkuat.

Berikut profil para penantang utama dilansir dari Reuters Rabu (4/2/2026):


Baca Juga: Surat Utang AS: Jepang Memimpin, Eropa Borong, BRICS Justru Jual

Anutin Charnvirakul

Anutin (59), perdana menteri sementara sekaligus ketua Partai Bhumjaithai, naik ke posisi puncak pada September tahun lalu setelah berhasil mengamankan dukungan politik hanya beberapa jam setelah pengadilan memberhentikan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra.

Langkah lobi agresifnya terhadap mitra koalisi Pheu Thai dan oposisi menegaskan reputasinya sebagai negosiator politik ulung yang pragmatis.

Meski Bhumjaithai bukan pemenang pemilu 2019 dan 2023, perolehan kursinya cukup untuk menguasai kementerian strategis seperti Dalam Negeri dan Kesehatan.

Di tengah iklim politik Thailand yang penuh rivalitas, Anutin dikenal sebagai figur penyeimbang antarelite politik. Meski berhaluan konservatif, ia mencatat sejarah dengan memimpin kebijakan dekriminalisasi ganja.

Peluang Anutin mempertahankan kursi perdana menteri akan sangat bergantung pada kekuatan tawar politiknya pascapemilu.

Baca Juga: Ringgit Perkasa Terhadap Dolar AS dan Mata Uang ASEAN, Ini Pemicunya

Natthaphong Ruengpanyawut

Natthaphong (38) adalah mantan pengusaha dan insinyur perangkat lunak yang terjun ke politik melalui Partai Future Forward pada 2019, cikal bakal Move Forward dan kini People’s Party.

Ia dikenal sebagai arsitek strategi digital partainya, yang berperan besar dalam kemenangan Move Forward pada pemilu 2023.

Setelah Move Forward dibubarkan pengadilan pada Agustus 2024 dan para pemimpinnya dilarang berpolitik, Natthaphong ditunjuk sebagai ketua People’s Party dan menjadi Pemimpin Oposisi termuda dalam sejarah parlemen Thailand.

Baca Juga: Ancaman Rusia: Balasan Militer Jika AS Pasang Senjata di Greenland

Yodchanan Wongsawat

Yodchanan (46) berasal dari klan politik berpengaruh Shinawatra. Ia adalah putra mantan Perdana Menteri Somchai Wongsawat dan keponakan Thaksin serta Yingluck Shinawatra.

Berprofesi sebagai profesor teknik biomedis di Universitas Mahidol, Yodchanan relatif baru di dunia politik.

Pengalaman pemerintahannya terbatas sebagai penasihat kebijakan teknologi. Ia sendiri menyebut posisinya sebagai “orang kecil di atas bahu raksasa”.

Sejarah panjang Pheu Thai menunjukkan bahwa enam perdana menteri dari partai ini atau pendahulunya pernah dilengserkan, sebagian lewat kudeta militer dan sebagian melalui putusan pengadilan. Jika terpilih, Yodchanan akan menghadapi tantangan besar dari sejarah tersebut.

Baca Juga: Bitcoin Anjlok ke Bawah US$ 73.000, Terendah Sejak 2024! Ada Apa?

Sihasak Phuangketkeow

Sihasak (67) adalah diplomat karier yang kini menjabat Menteri Luar Negeri. Mantan duta besar Thailand untuk Jepang, Prancis, dan PBB di Jenewa ini maju sebagai kandidat Bhumjaithai, mewakili pendekatan teknokratik partai tersebut.

Sirikanya Tansakun

Sirikanya (44), wakil ketua People’s Party, sebelumnya diproyeksikan menjadi pemimpin utama gerakan progresif setelah Move Forward dibubarkan.

Lulusan Thailand dan Prancis dengan dua gelar magister ini sempat ditunjuk sebagai calon menteri keuangan pada 2023 sebelum upaya pembentukan pemerintahan gagal.

Baca Juga: Penerbitan Obligasi Global Menembus Rekor

Abhisit Vejjajiva

Abhisit (61) pernah menjabat perdana menteri pada 2008–2011, periode yang diwarnai kekerasan politik. Ia naik ke tampuk kekuasaan setelah dua perdana menteri sebelumnya dilengserkan pengadilan.

Lahir dan besar di Inggris, lulusan Eton College dan Universitas Oxford ini dikenal piawai berpidato dan ramah media.

Meski Partai Demokrat yang dipimpinnya terus meredup, Abhisit masih berpotensi menjadi figur kompromi jika pemilu berujung kebuntuan politik.

Baca Juga: Pejabat The Fed Dorong Pemangkasan Suku Bunga Secara Agresif Tahun Ini

Veerayooth Kanchoochat

Veerayooth (46), lulusan doktor Universitas Cambridge, adalah kandidat cadangan People’s Party. Ia berpotensi maju jika Natthaphong dan Sirikanya tersandung proses hukum terkait upaya amendemen undang-undang penghinaan terhadap monarki.

Sebanyak 44 mantan legislator Move Forward saat ini tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran etik. Jika kasus berlanjut ke Mahkamah Agung, mereka terancam larangan politik jangka panjang.

Selanjutnya: Ringgit Perkasa Terhadap Dolar AS dan Mata Uang ASEAN, Ini Pemicunya

Menarik Dibaca: IHSG Bergerak Sideways, Berikut Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Rabu (4/2)