Siapkan Capex Rp 4 Triliun, Tower Bersama (TBIG) Fokus Bangun Menara dan Fiber Optik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyiapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 4 triliun pada tahun 2026 untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Presiden Direktur Tower Bersama Infrastructure, Herman Setya Budi, menyatakan bahwa alokasi capex tahun ini akan difokuskan untuk pembangunan menara baru serta pengembangan jaringan fiber optik sesuai kebutuhan operator telekomunikasi.

"Untuk rencana ekspansi, kami tetap fokus pada pertumbuhan organik (organic growth), baik pembangunan menara, fiber optik, maupun konektivitas sesuai pesanan dari operator telekomunikasi. Saat ini belum ada rencana akuisisi,” ungkap Herman, dalam Agenda Paparan Publik, Selasa (9/6/2026).


Dia melanjutkan, pertumbuhan organik pada kuartal I juga terpantau cukup baik dan permintaan  sudah meningkat dibandingkan tahun 2025. 

Baca Juga: Tower Bersama (TBIG) Fokus Bangun Menara Telekomunikasi dan Fiber Optic pada 2026

TBIG tercatat memiliki 41.764 penyewaan dan 24.666 sites telekomunikasi per 31 Maret 2026. Sites telekomunikasi milik TBIG terdiri dari 24.558 menara telekomunikasi dan 108 jaringan DAS.

Selama periode Januari–Maret 2026, total penyewa pada menara telekomunikasi TBIG mencapai 41.656 tenant. Dus, maka rasio kolokasi alias tenancy ratio TBIG menjadi 1,70 kali.

Selain memperluas infrastruktur menara, TBIG juga terus mengembangkan sumber pendapatan dari bisnis non-menara.

Salah satunya lewat investasi jaringan fiber optik melalui pembangunan jaringan intersite maupun fiber to the home (FTTH) yang dilakukan berdasarkan kebutuhan dan pesanan operator. 

"Saat ini visi kami adalah menjadi penyedia konektivitas digital. Selain bisnis menara, kami membangun jaringan fiber optik antarmenara, mendukung rollout FTTH bagi operator, serta mengembangkan layanan Power as a Service," tambah  Herman.

Baca Juga: Perluasan 5G Jadi Fokus Pemerintah, Infrastruktur Fiber Optik Dinilai Krusial

Saat ini, TBIG telah menjalin kerja sama dengan XL dan berupaya memperluas kolaborasi dengan operator lainnya, seperti IOH dan Telkomsel. 

Di sisi lain, manajemen tetap optimistis bisnis menara telekomunikasi akan kembali bertumbuh pada 2026 setelah dampak konsolidasi operator yang terjadi sepanjang 2025 mulai mereda.

Menurut Herman, dampak terbesar dari merger operator telekomunikasi telah terjadi pada 2025, terutama setelah penggabungan Smartfren dan XL menjadi XLSmart.

Maka dari itu, perseroan meyakini dampak konsolidasi mulai berkurang pada tahun ini dan permintaan dari operator akan kembali meningkat.

“Untuk 2026 kami berharap mulai memperoleh pesanan baru dan dapat kembali tumbuh dengan baik. Saya optimistis pada 2026 baik jumlah tenancy maupun jumlah tower akan kembali bertumbuh," ujar Herman.

Baca Juga: Primacom Padukan Satelit, Starlink & Fiber Optik untuk Perluas Jangkauan Konektivitas

Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TBIG meraup pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun. Ini turun tipis sekitar 0,79% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 1,73 triliun. 

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan TBIG mencapai Rp 405,61 miliar di kuartal I-2026. Raihan tersebut menyusut 5,61% YoY dari posisi kuartal I-2026 yang mencapai Rp 429,23 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News