Sidang Ahok digelar, elektabilitas makin ketat



JAKARTA. Di tengah maraknya perdebatan netizen di dunia maya, sidang perdana kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama dinilai membuka mata publik mengenai kejadian yang sesungguhnya terjadi. Peta elektabilitas Pilkada DKI Jakarta pun akan menjadi semakin ketat karenanya.

Peneliti CSIS Yose Rizal mengatakan, berdasarkan survei Saiful Mujani Research-Consulting (SMRC) beberapa waktu lalu, terungkap bahwa ternyata 88,5% responden tidak tahu persis bagaimana ucapan Ahok tentang Surat Al-Maidah dan 87,1% belum pernah menonton rekaman kejadian di Pulau Seribu itu secara lengkap.

Eksepsi yang dibacakan Ahok dalam sidang perdana yang digelar Selasa (13/12) kemarin juga dirasa bisa menggiring publik untuk menilai secara berimbang. "Dengan disiarkan langsung oleh televisi, masyarakat yang bukan netizen, yang jumlahnya lebih banyak, tahu permasalahan secara lebih menyeluruh," jelasnya.


Catatan saja, kemarin, sidang perdana kasus penistaan agama yang melibatkan Ahok digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang berlokasi di eks gedung PN Jakarta Pusat. Dalam sidang kali ini Ahok membacakan nota keberatan (eksepsi) yang berisi penegasan bahwa ia tak bermaksud menistakan agama.

Yose juga menilai, kasus Ahok ini sebenarnya merugikan ketiga pasang kandidat Pilkada DKI. Kubu Agus-Sylviana dan Anies-Sandiaga dirugikan lantaran mereka dituding mengambil untung dari kegaduhan di ibukota. Tudingan diarahkan pada dua pasangan calon penantang Ahok itu karena diduga memanfaatkan dugaan penistaan agama demi kesuksesan di Pilkada. "Yang jelas, kubu Ahok yang paling dirugikan," katanya.

Padahal, menurut Yose, publik Jakarta yang punya hak pilih mengharapkan suasana damai, bukan kegaduhan karena isu SARA. Warga Jakarta juga lebih ingin para kontestan Pilkada beradu gagasan guna menyelesaikan persoalan masyarakat seperti banjir, macet, harga kebutuhan pokok yang mahal.

Direktur Populi Center Usep Saepul Ahyar menambahkan, swing voter yang dulu memilih Ahok menjadi bimbang menentukan pilihan atau cenderung diam. Pasalnya, elektabilitas Ahok sempat mencapai lebih dari 60% lantaran banyak swing voter yang memilihnya. "Berdasar survei kami, pemilih loyal Ahok sebenarnya sekitar 30%," tuturnya.

Pengamat politik Ray Rangkuti berpendapat sidang Ahok justru bisa menaikkan elektabilitas Ahok. Menurutnya, publik belum memahami persis hal yang jadi dasar penetapan Ahok sebagai tersangka. "Sidang, kesaksian para ahli yang tidak hanya berdasar 'pokoknya', nanti bisa menjelaskan masalah penistaan agama secara lebih gamblang," kata Ray.

Peneliti LIPI Ikrar Nusa BhaktiĀ  berharap, majelis hakim tidak diintervensi oleh kepentingan politik. Masyarakat juga harus menerima putusan sidang dengan lapang dada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia