Sidang Isbat 1 Syawal 19 Maret, BRIN Prediksi Idul Fitri 2026 Beda Hari Muhammadiyah
Senin, 02 Maret 2026 09:59 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang penetapan (isbat) 1 Syawal 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H. Berikut tanggal 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 menurut Muhammadiyah dan prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dilansir dari website resmi Kemenag, Sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Informasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Abu Rokhmad, pada Minggu (1/3/2026). Pelaksanaan sidang kembali dipusatkan di Auditorium H.M. Rasjidi setelah sebelumnya sejumlah ruangan di area tersebut menjalani renovasi.
Abu Rokhmad menyampaikan bahwa persiapan sidang telah dilakukan sesuai prosedur, mencakup substansi dan dukungan teknis. “Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujarnya. Rangkaian sidang isbat meliputi: 1. Seminar posisi hilal 2. Verifikasi laporan rukyatulhilal dari berbagai daerah 3. Pelaksanaan sidang isbat 4. Pengumuman resmi penetapan 1 Syawal 1447 H oleh Menteri Agama Baca Juga: Inilah Tarif Ekspor Sawit Terbaru Mulai 2 Maret 2026, CPO Jadi 12,5% Pihak yang Terlibat Sidang isbat akan melibatkan berbagai unsur, antara lain: - Pakar astronomi dari BMKG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) - Planetarium dan observatorium - Perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam - Instansi terkait lainnya Menurut Abu Rokhmad, keterlibatan berbagai representasi tersebut memberikan legitimasi keagamaan yang kuat terhadap keputusan yang diambil. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa kesiapan teknis terus dimatangkan, termasuk koordinasi pemantauan rukyatulhilal di berbagai titik di Indonesia. “Dari sisi teknis, kami telah menyiapkan dukungan sarana dan prasarana sidang, sistem pelaporan rukyat, serta koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia. Harapannya, proses sidang dapat berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat,” jelasnya. Tonton: Selat Hormuz Ditutup! 20% Pasokan Minyak Dunia Terhambat Masyarakat Diimbau Tunggu Pengumuman Resmi Kemenag mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah setelah seluruh rangkaian sidang selesai dilaksanakan. Sebelumnya, Kemenag juga telah menggelar Rapat Persiapan Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H di Gedung Kemenag Thamrin pada 27 Februari 2026, yang dihadiri jajaran pejabat Ditjen Bimas Islam. Untuk mengakses berbagai layanan dan informasi resmi Kementerian Agama, masyarakat dapat mengunjungi portal layanan di kemenag.go.id/layanan. Tonton: Harga Emas Antam Menguat Hari ini (02 Maret 2026) Hari Raya Idul Fitri versi Muhammadiyah Sebelumnya, Organisasi keagamaan Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dengan metode hisab hakiki dan berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Berdasarkan perhitungan astronomi: - Ijtimak jelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01.09 UTC - Saat matahari terbenam, kriteria visibilitas hilal PKG 1 belum terpenuhi - Setelah pukul 24.00 UTC, kriteria PKG 2 terpenuhi di wilayah daratan Amerika - Tinggi bulan mencapai 5°23’35” dan elongasi 8°00’11” Dengan prinsip kesatuan matlak global, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan berlaku serentak di seluruh dunia pada 18 Februari 2026. Sedangkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H ditetapkan pada Jumat, 20 Maret 2026. Prediksi BRIN Dilansir dari Kompas.com, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, prediksi Idul Fitri 1447 H versi pemerintah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi ini merujuk pada posisi hilal saat maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara yang dinilai belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan terlihat apabila memenuhi dua syarat utama: - Tinggi hilal minimal 3 derajat - Sudut elongasi minimal 6,4 derajat “Pada saat maghrib 19 Maret 2026 di Indonesia, tinggi bulan umumnya kurang dari 3 derajat dan elongasi juga belum mencapai 6,4 derajat,” ujar Thomas, Senin (23/2/2026). Dengan kondisi tersebut, secara astronomi hilal diperkirakan belum dapat dirukyat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Thomas menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi konfigurasi posisi Bumi, Bulan, dan Matahari yang belum mendukung visibilitas hilal di wilayah Asia Tenggara pada tanggal tersebut. Sebaliknya, tinggi hilal dan sudut elongasi yang memenuhi kriteria MABIMS diperkirakan terjadi di wilayah: - India - Timur Tengah - Afrika - Eropa - Amerika Artinya, secara global ada kemungkinan perbedaan visibilitas hilal antar kawasan.
Meski demikian, Thomas menegaskan bahwa kepastian tanggal Lebaran 2026 tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang akan digelar Kementerian Agama pada 19 Maret 2026. Sidang tersebut akan memadukan data hisab (perhitungan astronomi) dan hasil rukyatulhilal (pengamatan langsung) sebelum pemerintah menetapkan secara resmi 1 Syawal 1447 H. Dengan demikian, meski secara perhitungan astronomi Idul Fitri 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026, keputusan final tetap berada pada hasil sidang isbat pemerintah.