Sidang Pemakzulan Sara Duterte Disebut Akan Pengaruhi Peta Politik Filipina 2028



KONTAN.CO.ID - MANILA. Persidangan pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte yang dimulai pada Senin (6/7/2026) diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam membentuk arah pemilihan presiden 2028, sekaligus memperdalam perpecahan antara dua dinasti politik besar yang telah mengguncang stabilitas Senat Filipina.

Proses hukum ini tidak hanya akan menentukan apakah Duterte masih memiliki peluang untuk mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi juga menjadi ujian terhadap kepercayaan publik terhadap institusi politik dan hukum di Filipina.

Para analis menilai, kunci utama dari dampak persidangan ini adalah persepsi publik terhadap putusan akhir—apakah dianggap kredibel atau justru dipengaruhi kepentingan politik.


“Jika dianggap bermuatan politik atau tidak kredibel, maka pertanyaan-pertanyaan akan tetap muncul tanpa memandang hasil akhirnya,” ujar Ederson Tapia, profesor administrasi publik dari Universitas Makati.

Durasi Persidangan dan Standar Pembuktian

Hingga kini belum ada kepastian berapa lama sidang akan berlangsung. Sejumlah faktor seperti perdebatan prosedural, jumlah saksi, serta penyajian bukti diperkirakan akan memengaruhi lamanya proses.

Sebagai perbandingan, sidang pemakzulan seorang mantan ketua mahkamah agung pada 2012 berlangsung selama empat bulan. Untuk menjatuhkan vonis bersalah, dibutuhkan sedikitnya 16 dari 24 suara senator.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Mindanao Filipina

Survei opini menunjukkan Sara Duterte masih menjadi salah satu kandidat terkuat dalam pemilu 2028. Namun, vonis bersalah dapat mengancam ambisi politiknya menuju kursi presiden.

“Jika publik menilai prosesnya adil, pembebasan dari tuduhan justru dapat memperkuat posisinya,” kata Tapia.

Sidang ini menjadi yang pertama terhadap seorang wakil presiden Filipina, dengan tuduhan utama meliputi penyalahgunaan dana publik, akumulasi kekayaan yang tidak dapat dijelaskan, serta ancaman terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr, ibu negara, dan mantan Ketua DPR.

Sara Duterte, putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte, membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa proses pemakzulan bermuatan politik.

“Hal itu sudah bisa diperkirakan,” kata anggota DPR Robert “Ace” Barbers selaku juru bicara pihak penuntut. “Kami akan membiarkan bukti yang berbicara.”

Pentingnya Proses yang Adil

Profesor ilmu politik dari Universitas Filipina, Jean Encinas-Franco, menekankan pentingnya kedua pihak mendapatkan kesempatan yang adil untuk menyampaikan argumen agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Ia menyinggung kasus pemakzulan Presiden Joseph Estrada pada masa lalu, di mana penolakan terhadap bukti kunci oleh Senat memicu kemarahan publik, menghentikan persidangan, dan berujung pada demonstrasi besar yang menggulingkan Estrada pada Januari 2001.

“Mereka harus memastikan bahwa baik pihak penuntut maupun pembela diberikan waktu dan ruang yang cukup… agar publik tidak melihat proses ini berpihak pada salah satu kubu,” ujarnya.

Pengacara Sara Duterte, Michael Poa, mengatakan pihak pembela siap membuktikan bahwa tuduhan tersebut “tidak berdasar”. Namun, ia belum dapat memastikan apakah Duterte akan hadir dalam sidang pembukaan, karena surat panggilan memungkinkan ia diwakili oleh kuasa hukum.

Retaknya Aliansi Dua Dinasti Politik

Marcos dan Duterte, yang merupakan pewaris dua dinasti politik paling berpengaruh di Filipina, sebelumnya memenangkan pemilu 2022 sebagai pasangan. Namun, aliansi tersebut kini runtuh dan berubah menjadi konflik politik yang semakin tajam, terutama setelah penangkapan Rodrigo Duterte dan pemindahannya ke tahanan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Maret tahun lalu.

Perpecahan ini juga merembet ke Senat, sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai jalannya persidangan pemakzulan.

Pada Mei lalu, di tengah persiapan Senat menerima pengaduan dari DPR, Senator Ronald “Bato” dela Rosa yang merupakan sekutu Duterte muncul kembali setelah lama tidak terlihat di publik. Ia kemudian memberikan suara penentu dalam pemilihan Alan Peter Cayetano sebagai Ketua Senat.

Baca Juga: Topan Maysak Picu Banjir, Kota Nanning di China Tetapkan Status Siaga Tertinggi

Dela Rosa kemudian bertahan di gedung Senat sebelum menghilang pada 14 Mei pagi, beberapa jam setelah terjadi kekacauan dan laporan tembakan di gedung parlemen. Hingga kini, keberadaannya belum diketahui.

Cayetano sendiri pernah menjadi pasangan wakil Rodrigo Duterte dalam pemilu 2016. Sementara Rodrigo Duterte kini ditahan di Den Haag dan menunggu proses hukum terkait tuduhan pembunuhan dalam perang melawan narkoba.

Dela Rosa, yang juga menghadapi tuduhan serupa di ICC, merupakan kepala kepolisian nasional saat operasi tersebut berlangsung, yang menewaskan ribuan orang. Keduanya membantah semua tuduhan.

Sebulan kemudian, kelompok senator lain berhasil mengumpulkan dukungan untuk mengangkat Senator Sherwin Gatchalian sebagai Ketua Senat.

Meski konflik internal ini menunjukkan peta aliansi politik di Senat, para analis menilai hal tersebut belum tentu mencerminkan bagaimana para senator akan memberikan suara dalam persidangan pemakzulan.

“Proses pemakzulan menciptakan insentif dan tanggung jawab konstitusional yang berbeda dibandingkan kontestasi kepemimpinan atau politik koalisi,” kata Tapia.

Hasil persidangan ini juga diperkirakan akan memengaruhi siapa yang akan menjadi tokoh utama dari kubu Marcos dalam pemilu 2028. Presiden Marcos secara konstitusional tidak dapat mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan kedua, sehingga peta persaingan politik diperkirakan akan semakin terbuka dan kompetitif.