KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (
SIDO) diproyeksikan mulai membaik setelah menghadapi tekanan sepanjang Semester I-2026 akibat normalisasi persediaan di tingkat distributor. Pada semester I-2026, penjualan SIDO turun 19,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi sekitar Rp 1,47 triliun. Penurunan lebih dalam terjadi pada laba bersih yang terkoreksi 44,4% menjadi Rp 333,7 miliar. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, SIDO masih berada dalam fase pemulihan hingga akhir tahun ini. Namun, kinerja paruh kedua berpeluang lebih baik secara kuartalan seiring proses
destocking distributor yang relatif selesai.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Menguat hingga Akhir 2026, Target Optimistis 7.200 "Tahun 2026 lebih kami lihat sebagai tahun reset, sedangkan 2027 berpotensi menjadi
recovery year," ujar Elandry kepada Kontan, Rabu (9/9/2026). Menurut dia, basis perbandingan yang lebih rendah pada 2027 serta kondisi distribusi yang lebih sehat dapat membuka ruang bagi normalisasi pertumbuhan penjualan dan laba SIDO. Elandry bilang, katalis utama pemulihan berasal dari segmen herbal dan suplemen yang masih menjadi kontributor dominan. Perbaikan daya beli konsumen juga akan menjadi faktor penting untuk mendorong pemulihan volume penjualan. Selain itu, peluncuran produk baru, perluasan pasar ekspor, dan penetrasi kanal digital dapat memperluas jangkauan pasar SIDO. Ekspansi ekspor dan efisiensi produksi juga dinilai dapat membantu perseroan menjaga margin di tengah risiko kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan rupiah. "Kalau volume mulai pulih sementara efisiensi tetap terjaga,
operating leverage SIDO bisa kembali terlihat pada 2027," kata Elandry. Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata bilang, tekanan terhadap SIDO masih berlanjut akibat normalisasi persediaan distributor dan pelemahan margin. Dalam riset yang dikutip Kontan, Rabu (9/9/2026), Liza menyebut pendapatan SIDO pada Semester I-2026 turun sekitar 20% YoY dan laba bersih terkoreksi 44% YoY. Meski demikian, pemulihan mulai terlihat secara kuartalan pada kuartal II-2026.
"SIDO juga berpotensi memperoleh sentimen positif melalui produk herbal dan suplemen," ujar Liza dalam riset tersebut. Menurut Liza, produk-produk tersebut dapat memperoleh dukungan sentimen dari kebutuhan pemeliharaan daya tahan tubuh serta keluhan ringan pada tenggorokan dan saluran pernapasan. Untuk sahamnya, Elandry menyarankan investor mencermati laporan keuangan kuartal III dan IV-2026 sebagai konfirmasi awal pemulihan earnings SIDO sebelum meningkatkan eksposur secara agresif. Ia menilai kekuatan merek, market share yang tinggi pada produk herbal, serta neraca yang relatif sehat masih menjadi keunggulan SIDO. Elandry mempertahankan rekomendasi
Accumulate atau
Buy on Weakness dengan target harga sekitar Rp 650 per saham.
Baca Juga: Boy Thohir Borong 30 Juta Saham NexAI Digital Infrastruktur (MGLV) Sementara itu, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi
hold untuk SIDO dengan target harga Rp 394 per saham. Liza bilang, valuasi dan
dividend yield SIDO masih menarik. Risiko yang perlu dicermati antara lain pemulihan daya beli yang lebih lambat, tekanan bahan baku, serta pemulihan volume penjualan yang tidak sesuai ekspektasi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News