SIG Combibloc Optimistis Bisnis Tumbuh hingga Akhir 2026, Indonesia Pasar Strategis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT SIG Combibloc Indonesia (SIG) optimistis bisnis kemasan aseptik di Indonesia masih akan bertumbuh hingga akhir 2026. Seiring prospek industri makanan dan minuman yang dinilai tetap positif. Perusahaan menyebut permintaan dari produsen masih terjaga, dan didukung meningkatnya inovasi produk di pasar domestik. Director Commercial Southeast Asia, Japan & Korea SIG Noer Wellington mengatakan kinerja bisnis perusahaan pada semester I-2026 menunjukkan perkembangan yang baik. Indonesia juga menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan positif dibandingkan negara lain di kawasan. “First half actually it’s good. Dibandingkan dengan negara lain Indonesia cukup bagus pertumbuhannya,” ujar Noer dalam media roundtable di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: SIG Combibloc: Minuman Bernutrisi & Produk Berprotein Bakal Jadi Tren Pertumbuhan Memasuki semester II-2026, SIG berharap mampu mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut. Namun, Noer belum mengungkapkan target pertumbuhan bisnis maupun target penjualan perusahaan hingga akhir tahun. Meski demikian, ia mengatakan perusahaan menargetkan kinerja tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, meski belum dapat membeberkan target angkanya. “Tahun ini kita harapkan kita tumbuh dibanding dengan tahun lalu. Mungkin dari segi numbers belum bisa, tapi actually trend-nya sangat-sangat baik,” kata Noer. Menurut Noer, Indonesia masih menjadi salah satu pasar strategis bagi SIG karena didukung jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi makanan serta minuman kemasan yang masih memiliki ruang untuk tumbuh. Bahkan, menurutnya, pertumbuhan bisnis SIG di Indonesia saat ini menjadi salah satu yang terbaik dibandingkan negara lain di kawasan.

Baca Juga: Prospek Industri Minuman Kemasan Masih Positif hingga Akhir 2026, Ini Pemicunya Selain mengandalkan pertumbuhan pasar, SIG juga terus mendorong inovasi bersama pelanggan melalui solusi pengemasan yang lebih fleksibel. Salah satunya melalui teknologi SIG Drinksplus, yang memungkinkan produsen mengemas minuman dengan tambahan partikel seperti nata de coco, jelly, hingga potongan buah dalam kemasan karton aseptik. Noer menjelaskan, inovasi menjadi salah satu strategi untuk menjaga pertumbuhan industri di tengah perubahan preferensi konsumen. Menurutnya, produsen kini tidak lagi hanya menghadirkan varian rasa baru, tetapi juga menawarkan pengalaman konsumsi yang berbeda melalui tekstur maupun kandungan nutrisi. Dengan tren tersebut, SIG meyakini prospek industri makanan dan minuman kemasan di Indonesia masih akan tetap positif hingga akhir tahun, didukung besarnya pasar domestik, populasi yang masih muda, serta meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk yang praktis, aman, dan bernilai tambah.


Baca Juga: Industri Mamin Optimistis Tumbuh 7% Meski Dibayangi Tekanan Biaya Produksi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News