Sikat laba dari bahan makanan sehat



Tren hidup sehat yang sedang bergaung membuka berbagai celah bisnis. Yang paling marak adalah bisnis seputar makanan sehat.

Namun, bukan cuma menyajikan makanan yang siap santap, peluang berbisnis bahan mentah (raw material) sehat pun menjanjikan. Salah satunya adalah berbisnis biji-bijian.

Berbagai manfaat gizi dan khasiat yang terkandung dalam chia seed, misalnya, menginspirasi sejumlah orang untuk menambahkan biji-bijian itu dalam kudapannya. Chia seed merupakan biji tanaman chia yang berwarna hitam dan putih kecil.


Kandungan nutrisi biji chia disebut-sebut paling lengkap, bisa menjadi sumber energi, kaya akan asam lemak omega–3, omega–6, dan mengandung serat dan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh.

Adalah Antonius, pemilik Super Food Indonesia, yang jeli mengendus peluang dari bisnis bahan makanan sehat ini. Awal 2013 silam, Antonius mengawali bisnisnya dengan membuka gerai daring dengan alamat www.superfoodindonesia.com. 

Sebelum menggeluti bisnis makanan sehat ini, Antonius lebih dulu terjun sebagai distributor sejumlah bahan makanan. Dari sinilah, dia akhirnya melihat ada permintaan dari konsumen akan bahan-bahan makanan yang sehat. 

Ada 150 macam bahan makanan sehat yang ditawarkan oleh Super Food Indonesia. Berbagai produk tersebut terbagi menjadi beberapa kategori, seperti biji-bijian, buah kering, kacang-kacangan, dan herbal. 

Antonius mengatakan, konsumen produk makanan sehat ini terus berkembang. Sebagai gambaran, jika pada awalnya konsumen terkonsentrasi di Jakarta, kini pasarnya sudah menyebar hingga ke seluruh Indonesia. Meski begitu, Pulau Jawa masih menjadi pasar terbesar Super Food. 

Permintaannya pun terus meningkat. Tak heran, setelah tiga tahun berjalan, Antonius sudah mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah dari bisnis raw material sehat ini. 

Sampai sekarang, Super Food melayani pembelian ritel. “Pembelinya kebanyakan adalah ibu-ibu. Tapi, saya tidak tahu juga kalau mereka ternyata punya usaha sendiri,” kata Antonius. Maklum, bahan-bahan ini bisa diolah menjadi produk siap santap atau menjadi campuran sajian tertentu.

Pemain lainnya adalah Fifie Oktavia Hodiono, yang membuka Toko Organik di Bandung. Di tokonya, ia menjual biji-bijian organik. Selain itu, dia juga menjual buah kering dan bahan makanan organik lainnya.

“Yang paling laku chia seed karena makannya tak ribet. Tinggal dicampur saja dalam makanan atau jus,” jelas Fifie.

Menurut Fifie, prospek menjual makanan sehat ini menarik karena semakin banyak orang yang sadar untuk menjalani hidup sehat. Hanya saja, seiring dengan bertambahnya jumlah pemain, persaingan pun tak bisa dihindari. 

Salah satu imbasnya, keuntungan dari bisnis ini menipis. Antonius menuturkan, keuntungan yang diperolehnya sebesar 10%. “Bagi kami, yang penting bisa menutup biaya operasional sudah cukup,” terang dia. Sementara Fifie mengaku bisa mengantongi profit sekitar 15%. 

Fokus dan yakin

Namun, menggeluti bisnis ini butuh proses yang lama. Antonius bilang, dia banyak belajar dari pengalaman dalam mengembangkan Super Food hingga sebesar ini. Banyak hal yang harus dipelajari karena pelaku bisnis juga harus memahami produk dengan baik. 

Menurut pengalaman Antonius, sampai kini, banyak konsumennya yang masih menanyakan khasiat dari beberapa barang yang dijualnya sampai sekarang. Jadi, jika berminat terjun dalam bisnis ini, Anda pun harus bisa memberi jawaban yang benar. 

Nah, kalau Anda tertarik, memulai bisnis ini bisa dari modal berapa saja. Antonius bilang, tiga tahun lalu, dia bersama rekannya merintis Super Food Indonesia dengan modal hanya Rp 10 juta. 

Antonius mengatakan, resep untuk sukses dalam bisnis ini adalah fokus dan yakin. “Karena dulu saya beli barang juga bukan dari supplier besar, hanya dari toko,” kata Anton. 

Tak ada kesulitan mencari pemasok. Bahkan, pemasok dari luar negeri sekali pun. “Mereka justru datang memberi penawaran,” ujar dia. 

Sebagai importir, Antonius pun sangat memperhatikan kontrol kualitas terhadap produk yang datang. Di sinilah, banyak pelajaran berharga yang harus diambil.

Sebab, dia pernah mendapati kacang-kacangan yang datang ke gudangnya sudah keluar kumbang. “Saya harus menanggung risiko rugi lantaran barang itu tak bisa dikembalikan,” jelas dia.

Oleh karena itu, Antonius pun menetapkan sederet persyaratan ketat dan perjanjian bagi supplier yang memasok barang ke dia. “Prinsip saya tidak mau merugikan siapa pun, baik supplier maupun konsumen saya,” kata dia. 

Lantaran kebanyakan biji-bijian dan kacang-kacangan ini merupakan produk impor, Anda juga harus pandai dalam menetapkan harga. Pertama, karena pembeliannya masih menggunakan dollar sehingga ada risiko kurs. Kedua, adakalanya harga bahan tersebut terus melonjak di daerah asalnya. 

Jangan lupa bahwa penyimpanan produk makanan sehat ini juga harus mendapat perhatian khusus. Namun, Antonius selalu mengikuti prosedur penyimpanan seperti yang tertera dalam tiap produk.  “Kalau memang harus dingin, ya, kami simpan di lemari pendingin,” kata lulusan Universitas Bina Nusantara ini. 

Soal pemasaran, selain bisa dengan membuka gerai fisik, seperti yang dilakukan Fifie, Anda juga bisa menjaring pelanggan lewat lapak online. Bahkan, Antonius justru memilih memasarkan barangnya lewat daring sejak awal Super Food berdiri. 

Apa pun jalur yang Anda pilih, Anda juga harus memikirkan kemasan yang baik. Pastikan pengemasannya benar-benar rapat supaya barang tak berubah kualitas hingga sampai tangan konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News