KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) memperkuat kepemilikan aset rumah sakit melalui akuisisi tiga perusahaan dengan total nilai transaksi Rp 828,67 miliar. SILO bersama anak usahanya, PT Megapratama Karya Bersama (MKB), telah menyelesaikan transaksi tahap pertama akuisisi PT Buton Bangun Cipta (BBC), PT Menara Abadi Megah (MAM), dan PT Nusa Bahana Niaga (NBN). Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, akuisisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap SILO dalam jangka panjang, terutama melalui penguatan kepemilikan aset rumah sakit dan pengurangan biaya sewa. Namun, Alrich mengingatkan bahwa tambahan beban bunga dan depresiasi berpotensi menekan laba SILO dalam jangka pendek.
Menurut Alrich, konsolidasi kinerja keuangan ketiga perusahaan tersebut dapat dilakukan sejak kendali efektif atas perusahaan target beralih ke SILO. Meski demikian, ia menilai dampak utama dari transaksi ini lebih berkaitan dengan struktur kepemilikan aset dan efisiensi biaya, bukan penambahan pendapatan yang signifikan.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke RP 18.022 per Dolar AS pada Rabu (21/10) "Karena aset tersebut sebagian sudah digunakan dalam operasionalnya, dampak utama lebih pada struktur kepemilikan aset dan efisiensi biaya, bukan tambahan pendapatan signifikan," ujar Alrich kepada Kontan, Rabu (21/10/2026). Terkait ekspansi berikutnya, Alrich menilai peluang akuisisi SILO masih terbuka. Namun, perusahaan sebaiknya mengoptimalkan aset hasil akuisisi terlebih dahulu. Ia menambahkan, rencana akuisisi lanjutan perlu mempertimbangkan kapasitas pendanaan, arus kas, serta tingkat pengembalian investasi. Menurut Alrich, risiko terbesar dalam ekspansi SILO adalah kenaikan utang dan beban bunga yang dapat menekan profitabilitas. Investor juga perlu mencermati arus kas, biaya operasional, serta realisasi penghematan sewa. Dari sisi prospek saham, Alrich menilai SILO cukup menarik untuk jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek investor perlu mencermati risiko pendanaan dan tekanan laba, terutama di tengah kondisi pasar yang volatil. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Alrich menyarankan investor untuk cenderung
wait and see terlebih dahulu terhadap saham SILO. Baca Juga: Tokenisasi Aset Membuka Peluang Investasi, Hati-Hati Tetap Mengintai Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai akuisisi tiga perusahaan tersebut berpotensi memperkuat prospek pertumbuhan SILO dalam jangka menengah hingga panjang. Menurut Nafan, akuisisi dapat menjadi katalis pertumbuhan apabila mampu menciptakan sinergi operasional, memperluas ekosistem layanan kesehatan, serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas aset. Meski demikian, dampak positif terhadap kinerja keuangan akan bergantung pada kontribusi pendapatan dan laba ketiga perusahaan yang diakuisisi, struktur pendanaan transaksi, serta kemampuan SILO mengoptimalkan aset dan kegiatan usaha setelah akuisisi. Nafan menjelaskan, konsolidasi laporan keuangan dapat dilakukan apabila SILO atau MKB telah memperoleh pengendalian sesuai standar akuntansi yang berlaku dengan mempertimbangkan tanggal efektif pengambilalihan dan penyelesaian seluruh persyaratan transaksi. Oleh karena itu, investor perlu mencermati tanggal efektif pengambilalihan dan keterbukaan informasi perusahaan untuk mengetahui kapan konsolidasi mulai dilakukan serta seberapa besar kontribusinya terhadap pendapatan dan laba bersih SILO. Untuk ke depannya, Nafan melihat SILO masih memiliki peluang melanjutkan ekspansi melalui akuisisi selama memiliki kapasitas pendanaan yang memadai, posisi neraca yang sehat, serta peluang target akuisisi yang sesuai dengan strategi bisnis jangka panjang.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,84% ke 5.234,3 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: WIFI, MAPI, HRTA Nafan menilai, ekspansi anorganik dapat menjadi katalis pertumbuhan SILO apabila mampu memperluas jangkauan layanan, meningkatkan skala ekonomi, dan menghasilkan imbal hasil investasi yang menarik. Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain risiko integrasi operasional, valuasi akuisisi yang terlalu tinggi, kebutuhan belanja modal tambahan, potensi peningkatan beban keuangan, serta ketidakpastian dalam merealisasikan sinergi yang ditargetkan. Selain itu, SILO perlu memastikan bahwa ekspansi tetap diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan medis, efisiensi operasional, dan pertumbuhan pasien.
“Dengan demikian, prospek SILO relatif konstruktif untuk jangka menengah hingga panjang. Tetapi keberhasilan strategi akuisisi sebaiknya dinilai berdasarkan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan laba, arus kas, dan imbal hasil modal, bukan semata-mata dari besarnya nilai transaksi atau penambahan aset,” tuturnya Adapun rekomendasi Nafan untuk saham SILO adalah
accumulative buy dengan target harga Rp 2.030. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News