Simak analisa fundamental KIJA



JAKARTA. Tidak ada salahnya bagi para pelaku pasar untuk menengok saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) untuk transaksi hari ini. Setidaknya hal ini disampaikan oleh analis KDB-Daewoo Securities Indonesia Betrand Raynaldi dalam risetnya, (5/9).

Nama KIJA melekat pada sebuah emiten yang bergerak pda bidang kawasan industri. Namun, KIJA pada dasarnya lebih dari sekedar pengembang kawasan Industri, karena mereka mempunyai proyek perumahan, komersil dan bahkan kawasan wisata, belum lagi bisnis infrastrukturnya seperti pembangkit listrik dan pelabuhan darat (dry port).

Portofolio bisnis KIJA tersebar di Cikarang, Jawa Barat (Kawasan industri, komersil, perumahaan, wisata dan infrastruktur), Tanjung Lesung, Banten (Kawasan Wisata) dan Kendal, Jawa Tengah (kawasan industri). Namun, kontributor terbesar dari pendapatan KIJA masih dari Cikarang yang mencapai 99% karena lokasi lainnya masih relatif baru dan belum dikembangkan. Nah, menurutr Betrand, hal inilah yang perlu dicermati.


"Keunggulan kompetitif Cikarang dibanding dengan kawasan industri lainnya bukan hanya karena lokasi saja namun juga dikarenakan infrastruktur yang lebih lengkap seperti pembangkit listrik dan pelabuhan darat," tutur Betrand.

Untuk pembangkit listrik, pelanggannya pun tidak main-main, yakni Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kemudian, pelabuhan yang dimiliki perseroan juga merupakan yang pertama an satu-satunya di Indonesia yang terintegrasi dengan jasa kepabeanan.

Pelabuhan darat ini juga mempunyai nomor pelabuhan internasional sehingga dapat terhubung dengan seluruh pelabuhan di dunia. Pelabuhan darat ini terhubung dengan pelabuhan Tanjung Priok melalui jalur kereta.

Dari sisi kinerja, KIJA juga memiliki kualitas yang terus membaik. Lihat saja, pada tahun 2011, pendapatan berulang KIJA hanya sebesar 16%. Tapi, saat semester I lalu, angkanya meningkat jadi 55%.

Betrand memprediksi, besaran recurring income tersebut akan terus meningkay seiring dengan rencana pembangunan pembangkit listrik yang kedua dengan kapasitas yang sama seperti pertama yakni 130 MW.

"Walaupun saat ini harga saham perseroan diperdagangkan di level 8,06 x forward PE yang sama dengan industri, namun masih dibawah rata-rata historisnya di level 14,5 X," pungkas Betrand.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie