Simak! Begini Arah IHSG dalam Jangka Pendek hingga Menengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergejolak dalam waktu dekat. Sekedar mengingatkan, IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,1 pada perdagangan Jumat (16/10/2026).

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, koreksi indeks sebesar 11,57% pada perdagangan sebelumnya menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian terhadap risiko yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan komposisi indeks.

Yang dipertanyakan MSCI adalah transparansi kepemilikan saham, kredibilitas pembentukan harga, dan efektivitas pengawasan pasar modal Indonesia.


Baca Juga: BEI Klaim Fundamental Pasar Modal Masih Solid

Dalam jangka pendek, Rully tidak menutup kemungkinan terjadinya technical rebound setelah koreksi yang sangat tajam. Namun, rebound tersebut belum tentu menandakan bahwa tekanan jual sudah berakhir.

Untuk jangka menengah, arah pasar akan sangat bergantung pada respons regulator dan perkembangan konsultasi MSCI. Sanksi OJK terhadap pihak-pihak terkait DSSA, BREN, dan CUAN merupakan langkah penegakan aturan yang penting. 

"Namun, pasar kemungkinan masih membutuhkan bukti bahwa penegakan tersebut dilakukan secara konsisten dan diikuti perbaikan struktural yang lebih luas," kata Rully kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).

Rully berpendapat, koreksi yang sangat dalam tentu membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya. Namun, penurunan harga belum otomatis berarti pasar sudah murah secara keseluruhan.

Ada dua hal yang perlu dibedakan, yaitu valuasi berdasarkan fundamental perusahaan dan premi risiko yang diminta investor. Saham dengan fundamental relatif stabil bisa menjadi menarik setelah mengalami koreksi besar. Tetapi apabila risiko struktural pasar meningkat, investor global juga dapat menuntut valuasi yang lebih rendah.

"Kami juga berhati-hati menggunakan valuasi IHSG secara agregat karena indeks sebelumnya cukup dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar dengan karakteristik likuiditas dan free float yang berbeda-beda. Karena itu, kami lebih memilih melihat valuasi masing-masing saham daripada menyimpulkan bahwa seluruh pasar sudah murah," tambah Rully.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Diproyeksi Tembus 104, Rupiah Diproyeksi Melayang ke Rp 18.300

Lebih lanjut, Rully bilang, risiko penurunan lanjutan masih ada, terutama apabila tekanan jual asing berlanjut atau respons reformasi pasar belum cukup meyakinkan investor.

Rully menjelaskan, katalis terpenting saat ini adalah kemajuan yang konkret dalam reformasi pasar modal, terutama transparansi beneficial ownership, kualitas free float, pengawasan terhadap perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan yang konsisten.

Sanksi yang diumumkan OJK dapat menjadi langkah awal yang positif, tetapi pemulihan kepercayaan membutuhkan lebih dari satu tindakan penegakan hukum. Pasar perlu melihat bahwa perbaikan tersebut benar-benar mengubah kualitas dan kredibilitas pasar.

Di luar MSCI, stabilitas rupiah, pergerakan yield obligasi global, kondisi likuiditas domestik, dan perkembangan kebijakan moneter juga akan memengaruhi ruang pemulihan IHSG.

Di samping itu, Rully memperkirakan, saham-saham blue chip, terutama yang memiliki bobot besar dalam indeks global dan kepemilikan asing tinggi, masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Ini tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan, tetapi juga penyesuaian portofolio investor global terhadap risiko Indonesia.

 
BBRI Chart by TradingView

Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI dapat tetap mengalami tekanan meskipun bisnis intinya relatif lebih mapan dibandingkan banyak emiten lain. Dalam situasi seperti ini, pergerakan harga saham tidak hanya ditentukan oleh kinerja laba, tetapi juga oleh arus dana dan perubahan persepsi risiko.

Namun, Rully juga melihat bahwa koreksi tajam pada saham-saham dengan fundamental baik pada akhirnya dapat membuka peluang investasi. 

"Perbedaannya, kami belum ingin terlalu agresif mengambil posisi sebelum tekanan jual mulai mereda," ujar Rully.

Jadi, secara keseluruhan Rully menyarankan investor untuk berhati-hati terhadap arah IHSG dalam jangka pendek.

Rully bilang, peluang secara selektif setelah koreksi besar, tetapi pemulihan pasar yang lebih berkelanjutan membutuhkan perbaikan kepercayaan investor, bukan hanya valuasi yang lebih murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News