Simak Propek Pasar Obligasi Saat Investor Asing Kembali Masuk



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar obligasi domestik kembali bergairah. Yield Surat Berharga Negara (SBN) sempat berada di level 7,5%, walau kemudian turun ke 7,1% pada Rabu (10/8). Tak hanya itu, investor asing juga mulai melakukan aksi beli di pasar SBN.

Hal ini tercermin dari naiknya kepemilikan investor asing di SBN. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), per 8 Agustus, jumlah kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 761,96 triliun. Jumlah ini naik Rp 10,72 triliun dari posisi akhir Juli yang hanya Rp 751,24 triliun.

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang mendorong investor asing kembali masuk ke pasar SBN. Pertama, turunnya level persepsi risiko alias credit default swap tenor 5 tahun menjadi 140, dari sebelumnya 120 yang merupakan level tertinggi.


Kedua, penguatan nilai tukar rupiah juga menjadi penopang. Meskipun laju inflasi tahunan tinggi, nyatanya pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 mampu bertahan di atas 5% dan sejumlah indikator makro, seperti indeks manufaktur PMI dan penjualan ritel membaik mampu membuat rupiah berkinerja solid.

Baca Juga: Inflasi Mencekik, Sukuk Ritel Terbaru SR017 Bisa Dilirik

“Selain itu, BI yang tetap mempertahankan BI 7 Day Repo Rate di level 3,5% sehingga kondisi yield 10 tahun SBN yang berada di level 7,5%-an menjadi relatif menarik, ditopang dengan tren yield US Treasury 10 tahun juga cenderung menurun,” kata Praska ketika dihubungi Kontan.co.id, Rabu (10/8).

Ia memperkirakan, investor asing mayoritas cenderung memburu SUN tenor seri pendek-menengah atau di bawah 10 tahun, karena investor asing tetap mengantisipasi potensi gejolak harga karena efek penyesuaian kenaikan suku bunga acuan jika ekonomi membaik dan laju inflasi tahunan bertahan terus tinggi.

Sementara Fixed Income Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management Gama Yuki justru menilai, dengan kondisi saat ini di mana resesi AS sudah mulai diprediksi dan akan adanya economic slowdown di dunia,  diperkirakan investor asing cenderung masuk ke tenor mid-long tenor, hal ini dikarenakan yield dengan tenor tersebut lebih menarik.

Lebih lanjut, ia melihat masuknya investor asing ke pasar obligasi Indonesia menandakan bahwa pasar obligasi di tanah air masih sangat menarik. Hal ini bisa dilihat dari menariknya real yield Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki rating sama.

Selain itu, nilai tukar rupiah yang masih cukup stabil juga mendorong investor asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan dalam negeri.

“Dengan rupiah yang cukup stabil, risiko berinvestasi di Indonesia menjadi lebih terjaga bagi investor asing. Terlebih, rupiah juga didukung dengan fundamental yang kuat, sehingga semakin menambah kepercayaan investor asing kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia,” imbuhnya.

Senada, Praska menilai masuknya dana asing ke pasar SBN domestik turut membuat risk appetite investor domestik di pasar SBN ikut meningkat. Pasalnya, ekspektasi mulai masuknya dana investor asing menjadi gambaran membaiknya persepsi risiko oleh investor asing di pasar SBN domestik, sekaligus kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar SBN di Indonesia.

Baca Juga: Dana Kelolaan Industri Reksadana Turun Jadi Rp 543,49 Triliun di Juli 2022

Hanya saja, menurutnya tren aliran dana asing ini berpotensi berlangsung jangka pendek saja. Hal ini dikarenakan investor asing diperkirakan masih mengantisipasi (wait and see) terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan ke depan jika laju inflasi terus meningkat sejalan dengan membaiknya ekonomi.

“Selain itu, investor asing juga diperkirakan masih lebih mempertimbangkan SUN tenor pendek-menengah karena antisipasi terhadap potensi fluktuasi SBN di tenor panjang,” ungkap Praska.

Gama justru percaya tren masuknya aliran dana investor asing ke pasar obligasi masih bisa terus berlanjut ke depan. Hanya saja, hal ini harus diimbangi dengan nilai tukar rupiah yang masih cukup stabil ke depannya, serta data makro ekonomi Indonesia masih cukup baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari