Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Media di Tahun 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham-saham sektor media diperkirakan kurang cerah pada tahun ini. Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis memperkirakan, pendapatan TV free-to-air (FTA) pada kuartal II-2023 akan tetap lemah seiring dengan penurunan pendapatan iklan.

Peningkatan berpotensi terjadi pada kuartal IV-2023 sejalan dengan periode sebelum pemilihan umum (pemilu) dan kenaikan pengeluaran konsumen yang terkait dengan pemilu. Apalagi, awal tahun 2024 juga menjadi momen untuk menyambut Lebaran sehingga turut menjadi faktor yang dapat mendorong belanja iklan.

Para rumah produksi akan lanjut untuk membuat konten segar, sedangkan TV FTA kemungkinan masih akan berusaha untuk mengoptimalkan biaya konten mereka. Niko berpandangan bahwa pendapatan TV FTA akan tetap bertahan dengan CAGR sekitar 2% sampai tahun 2027.


Dari segi layanan streaming, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) juga akan tetap relevan. Pangsa konten lokal masih relatif rendah di pasar Advertising-based Video on Demand (AVOD) Asia Tenggara, namun sebagian besar dikendalikan secara lokal sehingga menahan pemain OTT asing.

Layanan streaming MNCN dan SCMA akan menarik lebih banyak konsumen secara berkelanjutan. Vidio.com milik SCMA dan Vision+ milik MNCN ditempatkan dengan baik oleh operatir telekomunikasi yang mempromosikannya di paket data inti dan pelengkap, baik di layanan seluler maupun fixed broadband.

Baca Juga: Harga Saham Naik, Cermati Kinerja Bisnis Emiten MNC Group

"Pendapatan TV FTA akan memberikan bantalan arus kas dalam jangka menengah hingga perusahaan media mengembangkan posisi yang berkelanjutan di kue layanan streaming," tutur Niko dalam risetnya tanggal 25 Mei 2023.

Dalam riset tanggal 16 Mei 2023, Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan dan Laurencia Hiemas juga melihat prospek kurang cerah pada SCMA. Kinerja SCMA di kuartal I-2023 jauh di bawah estimasinya.

SCMA membukukan pendapatan yang cenderung flat dengan penurunan 0,4% year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 1,5 triliun. Salah satunya akibat penurunan pendapatan FTA yang sebesar 6% yoy menjadi Rp 1,2 triliun.

Di samping itu, SCMA juga membukukan gross profit margin (GPM) dan operating profit margin (OPM) yang lebih rendah karena lonjakan opex sebesar 36% yoy menjadi Rp 495 miliar dan kembali masuknya pengeluaran terkait nilai tukar ke dalam opex-nya.

Alhasil, bottom line SCMA merosot 78% yoy menjadi Rp 63 miliar, setara 10% dari estimasinya dan 5% dari konsensus.

 
SCMA Chart by TradingView

Kedua analis ini melihat, bisnis FTA mungkin menurun lebih jauh di tengah lemahnya situasi makro dan analog switch-off (ASO). Padahal, menurut Nielsen, SCMA memiliki pangsa pasar yang tinggi dengan pangsa pemirsa sebesar 30,3% pada April 2023 (pasca-ASO).

"Terlepas dari pangsa pemirsa yang besar, kami percaya angka tersebut tidak mencerminkan pendapatan iklan karena sebagian besar perusahaan media akan mendapat tekanan karena lemahnya situasi makro dan peralihan ke media digital," ungkap kedua analis tersebut.

Selain itu, hampir 78% pendapatan SCMA berasal dari pendapatan FTA, sementara segmen digital dan OOH hanya menyumbang 16% dari total pendapatannya. Sebagai perbandingan, segmen digital MNCN (pesaing langsung SCMA) menyumbang 26% dari pendapatan utama perusahaan, khususnya melalui RCTI+.

Saat ini, SCMA banyak mengandalkan Vidio.com. Namun, mengingat tingginya biaya produksi untuk OTT, Samuel Sekuritas memprediksi, GPM SCMA akan menurun di kuartal mendatang menjadi sekitar 35% dari 37% di kuartal I-2023. Selain itu, amortisasi biaya lisensi Piala Dunia juga berpotensi menekan margin EBITDA di kuartal mendatang.

Samuel Sekuritas pun menurunkan sejumlah proyeksinya untuk kinerja keuangan SCMA. Perkiraan laba SCMA di 2023 diturunkan sebesar 71,4% menjadi Rp 325 miliar dan di 2024 menjadi Rp 364 miliar atau turun 72,9% dari proyeksi sebelumnya.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham MNCN dan SCMA yang Terdampak Ketentuan ASO

Dalam riset tanggal 8 Mei 2023, Analis Sinarmas Sekuritas Isfan Helmy juga menilai, pangsa pemirsa tidak lagi menjadi pendorong utama untuk pendapatan iklan. Selama kuartal I-2023, SCMA memperoleh pangsa pemirsa prime-time lebih tinggi 97 bps hingga 40,6%, yang didorong oleh rating serial drama yang lebih kuat.

Akan tetapi, pendapatan iklan SCMA merosot 6% yoy sehingga menyebabkan total pendapatan menjadi datar. Isfan menduga ini karena penerapan ASO yang menyebabkan pengiklan berada dalam mode wait and see karena pemirsa sekarang lebih terfragmentasi.

"Kami memperkirakan tren ini akan terus berlanjut menjelang akhir tahun, karena SCMA dan MNCN mencatatkan penurunan pendapatan iklan pada kuartal I-2023," ucap Isfan.

Selain itu, Isfan menilai sulit mengulang belanja iklan politik seperti tahun 2019. Pasalnya, sebesar 53% pemilih saat ini merupakan generasi millennial dan Gen Z yang dikenal sebagai generasi TikTok dan Instagram.

"Kami melihat, partai politik akan mengalokasikan lebih banyak belanja iklan di media sosial dan layanan streaming sehingga membuat belanja iklan di TV FTA lebih tumbuh secara organik," kata Isfan.

Dalam riset tanggal 9 Mei 2023, Isfan mengatakan, kini pihaknya mengurangi fokus pada pergerakan pangsa pemirsa. Pasalnya, program ASO menahan pengiklan untuk membelanjakan iklan FTA. Plaform digital akan menjadi "medan perang" baru dengan MNCN yang saat ini berada di atas angin.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham MNCN dan SCMA yang Terdampak Ketentuan ASO

Pada kuartal I-2023, MNCN menghasilkan pendapatan iklan digital Rp 714 miliar, yang kira-kira tiga kali lipat ukuran pendapatan digital SCMA. Isfan akan memantau dengan cermat seberapa cepat bisa SCMA mendapatkan pelanggan, karena platform Vidio.com hanya memiliki 5 juta pelanggan berbayar saat ini dan tengah bersiap untuk meluncurkan setidaknya 15 seri baru pada tahun ini.

Sementara itu, RCTI+ memiliki pengguna aktif bulanan hampir 70 juta dengan rata-rata waktu yang dihabiskan sekitar 1,5 jam. Pelanggan berbayar platform Video-on-demand (SVOD) MNCN, yakni Vision+ diperkirakan akan mencapai 3,5 juta tahun ini, dari 2,4 juta pada bulan Desember 2022.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy SCMA dan MNCN dengan target harga untuk SCMA di Rp 325 dan MNCN di Rp 800 per saham.

Sinarmas Sekurita juga merekomendasikan buy SCMA dengan target harga Rp 210 dan MNCN Rp 780. Sementara itu, Samuel Sekuritas merekomendasikan sell SCMA dengan target harga Rp 130 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari