KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) September 2026 tercatat sebesar 118,1, turun tipis dibandingkan 118,5 pada Agustus 2026. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penilaian yang lebih rendah terhadap kondisi ekonomi saat ini, yang turun 1,9 poin ke level terendah dalam 12 bulan di 107,5. Sementara itu, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja selama enam bulan terakhir turun 3,0 poin menjadi 101,1. Pada saat yang sama, ekspektasi terhadap kegiatan usaha menurun 0,6 poin menjadi 121,5.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan pelemahan data IKK ini menjadi
early warning sign bagi emiten, terutama dari persepsi lapangan kerja yang melemah. Sebab, masyarakat akan lebih hati-hati belanja apabila penghasilannya terasa kurang aman.
Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Memasuki Fase Pertumbuhan, Produksi Emas Pani Jadi Penopang Tapi penurunan IKK dari 118,5 ke 118,1 masih tipis dan tetap di atas 100, sehingga belum bisa langsung disimpulkan konsumsi bakal jatuh. Ekspektasi konsumen secara keseluruhan juga masih naik, meski kondisi ekonomi saat ini terasa lebih berat. Buat emiten, yang perlu diwaspadai adalah konsumen makin cari promo, pindah ke merek lebih murah, atau mengurangi jumlah belanja. "Penjualan bisa tetap jalan, tapi untungnya makin tipis. Peluang tetap ada untuk produk kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau, ditambah momentum belanja Natal dan akhir tahun," kata Liza kepada Kontan, Jumat (9/10/2026). Secara terpisah, Analis Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus menyampaikan penurunan IKK sebanyak 0.4 poin menjadi sinyal bahwa adanya perlambatan kondisi konsumsi di domestik. Namun sentimen ini tidak serta-merta dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia lemah karena masih di atas 100. Artinya masih masuk dalam kategori optimistis.
Baca Juga: ADHI Alihkan Dana Rights Issue untuk Modal Kerja, Ini Pandangan Analis Menurut Revo, saham-saham konsumer memang cenderung mengalami tekanan dari awal tahun di tengah sentimen global yang berkembang selama ini. Selain itu juga terdapat sektor lain yang menjadi perhatian investor sehingga tekanan terhadap sektor consumer menjadi semakin besar. "Saran bagi investor adalah bisa mempertimbangkan
tactical trading mengikuti
story yang berkembang saat ini apabila menjadi seorang
trader," jelas Revo.
Saham yang Terdampak
Liza berpendapat, emiten seperti ERAA & MAPI lebih sensitif apabil konsumen mulai menunda beli gadget, pakaian, atau barang lifestyle, meski produk baru dan kekuatan merek tetap bisa menarik pembeli. Selanjutnya, untuk emiten seperti ICBP, INDF & AMRT relatif lebih tahan karena masyarakat tetap perlu makan dan belanja kebutuhan harian, walaupun isi keranjangnya bisa berkurang. "Jadi emiten kebutuhan pokok pun tetap harus diperhatikan marginnya, apalagi kalau biaya naik sementara menaikkan harga jual makin sulit," ucap Liza. Bagi investor, Liza menyarankan untuk mengecek laporan berikutnya. Perhatikan pertumbuhan volume penjualan, penjualan gerai yang sama, dan pertumbuhannya harus dibayar dengan diskon sebesar apa.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,94% dalam Sepekan, Ini Pendorongnya "Saya lebih suka emiten yang tetap bisa jualan dan menjaga keuntungan, dengan valuasi masuk akal. Jangan membeli hanya karena merasa konsumer pasti aman," tambah Liza. Di samping itu, Revo bilang sentimen yang memberatkan sektor consumer yakni cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang direncanakan akan diimplementasikan mulai semester II-2027. Ini berpotensi meningkatkan beban biaya bagi produsen minuman berpemanis.
Meski demikian, besarnya pendapatan segmen minuman tidak secara langsung mencerminkan besarnya eksposur terhadap cukai MBDK, mengingat tidak seluruh produk minuman otomatis termasuk dalam cakupan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, investor perlu mencermati risiko tekanan margin dan penurunan permintaan, khususnya apabila produsen tidak dapat sepenuhnya mengalihkan beban cukai kepada konsumen. "Investor dapat mencermati emiten konsumer yang basis fundamental sudah sangat kuat diikuti dengan produk yang relatif defensif dan dibutuhkan di tengah kondisi ekonomi saat ini," tutur Revo. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News