KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek investasi untuk produk
Exchange Trade Fund (ETF) emas dinilai tetap menarik saat pasar menghadapi ketidakpastian. Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan sejak diluncurkan pada 10 Agustus 2026 hingga akhir September 2026, telah terbit tujuh produk ETF emas dari tujuh manajer investasi. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, mengatakan total dana kelolaan atau
asset under management (AUM) untuk produk ETF emas tercatat Rp 105,63 miliar per September 2026.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,21% ke 6.192 pada Selasa (6/10), GOTO, AMMN, INDY Top Gainers LQ45 "Sejak diluncurkannya ETF Emas pada 10 Agustus 2026 lalu hingga akhir September 2026 terdapat tujuh produk ETF Emas yang diterbitkan oleh tujuh manajer investasi. Total dana kelolaan mencapai Rp 105,63 miliar," kata Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK September, Senin (5/10/2026). Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menyampaikan prospek ETF Emas tetap menarik. Dana kelolaan menembus Rp 105 miliar dalam dua bulan sejak dan masih bertambah sekitar 12% dalam sebulan, menunjukkan minat awal yang baik untuk produk baru. "Di tengah ketidakpastian pasar, emas tetap dicari sebagai aset lindung nilai, dan ETF memberi akses yang lebih praktis bagi investor pasar modal," kata Wawan kepada Kontan, (6/10/2026). Hanya saja nilainya masih sangat kecil dibanding industri reksa dana, sehingga pertumbuhan ke depan akan bergantung pada likuiditas di bursa, edukasi, dan masuknya investor institusi. Dari sisi keunggulan, investor tidak perlu memikirkan penyimpanan dan keamanan, bisa membeli dengan nominal kecil, dan transaksi dilakukan secara
real time di bursa seperti saham. Selisih harga jual dan beli juga berpotensi lebih tipis dibanding emas fisik yang spread-nya cukup lebar. Risikonya, harga ETF tetap mengikuti naik turunnya harga emas dunia dan kurs rupiah. Selain itu ada risiko likuiditas karena produk masih baru, sehingga harga di pasar bisa menyimpang dari nilai aktiva bersihnya. "Investor juga tidak memegang emasnya secara langsung dan ada biaya pengelolaan yang mengurangi imbal hasil," tambah Wawan.
Wawan juga mengingatkan sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor.
Pertama, likuiditas dan volume transaksi harian, termasuk selisih antara harga pasar dan NAB per unit.
Kedua, biaya pengelolaan serta biaya transaksi broker.
Ketiga, reputasi manajer investasi, dealer partisipan, dan bank kustodian yang menyimpan emasnya.
Keempat, posisi harga emas saat ini yang sudah tinggi, sehingga sebaiknya masuk secara bertahap. Terakhir, emas lebih tepat diposisikan sebagai diversifikasi portofolio, bukan sebagai satu-satunya instrumen
Baca Juga: Volume Produksi dan Efisiensi Menguat, Intip Prospek dan Target Saham NCKL Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News