Simak Prospek Kinerja Adhi Karya (ADHI) di Tengah Penurunan Pendapatan dan Arus Kas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) tercatat masih membukukan kenaikan laba bersih sepanjang enam bulan pertama tahun 2026. Sayangnya, pendapatan dan arus kas tercatat tidak sejalan dengan raihan bottom line emiten konstruksi pelat merah ini.

Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026. Angka ini turun 18,35% dari Rp 3,81 triliun pada periode yang sama tahun lalu.


Secara rinci, segmen teknik dan konstruksi menyumbang Rp 2,65 triliun terhadap pendapatan pada periode ini. Lalu, segmen properti dan pelayanan berkontribusi Rp 154,84 miliar, segmen manufaktur Rp 166,46 miliar, dan segmen investasi serta konsesi Rp 138,43 miliar.

Beban pokok pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun per 30 Juni 2026, turun dari Rp 3,23 triliun per 30 Juni 2025. Laba bruto menjadi Rp 700,42 miliar sepanjang Januari–Juni 2026, naik 22,26% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 572,87 miliar.

ADHI pun mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026, naik 12,56% YoY.

Baca Juga: Laba Ambles di Semester I, Ancora (OKAS) Optimistis dengan Prospek Kinerja Tahun 2026

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan laba di tengah penurunan pendapatan menunjukkan bahwa fokus ADHI tidak hanya pada pertumbuhan top line, tetapi juga pada peningkatan kualitas laba.

Hal ini kemungkinan didorong oleh beberapa faktor. Pertama, adanya efisiensi operasional dan pengendalian biaya sehingga margin keuntungan menjadi lebih baik.

Kedua, perbaikan bauran proyek (project mix), di mana proyek dengan margin lebih tinggi mulai memberikan kontribusi lebih besar. Ketiga, kemungkinan adanya penurunan beban keuangan atau beban operasional dibandingkan periode sebelumnya.

“Selain itu, kontribusi dari entitas anak maupun pendapatan non-konstruksi juga dapat membantu menopang laba bersih,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Dengan karakter bisnis konstruksi yang berbasis progres proyek, penurunan pendapatan dalam satu semester belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental secara permanen.

“Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas dan kualitas eksekusi proyek,” katanya.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, kinerja ADHI tersebut didorong oleh penurunan beban pokok pendapatan yang lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatan sehingga margin kotor membaik. Kondisi itu pun disertai penurunan signifikan rugi entitas asosiasi dan beban pajak.

“Namun, kualitas laba masih terbatas karena laba usaha turun 67% YoY, menandakan bisnis inti masih berada di bawah tekanan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Per akhir Juni 2026, ADHI memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 813,09 miliar, turun jauh dari Rp 1,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

ADHI juga berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi Berkelanjutan (RUPO) IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024 dan Rapat Umum Pemegang Obligasi Berkelanjutan (RUPO) III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022. Kedua RUPO itu dijadwalkan pada 6 Agustus 2026.

Untuk RUPO Obligasi Berkelanjutan IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024, agendanya adalah meminta persetujuan terkait perubahan dan/atau penundaan pembayaran bunga ke-8, ke-9, dan ke-10.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham PGEO, AMRT, MTEL untuk Selasa (28/7)

Untuk RUPO Obligasi Berkelanjutan III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022, agendanya adalah meminta persetujuan terkait perubahan dan/atau penundaan pembayaran bunga ke-17, ke-18, dan ke-19.

Sukarno menilai ADHI masih menghadapi tekanan likuiditas, tercermin dari melemahnya arus kas operasional dan permohonan penundaan pembayaran bunga obligasi melalui RUPO.

Langkah tersebut lebih merupakan upaya menjaga fleksibilitas kas dibandingkan indikasi gagal bayar. Meskipun risiko kredit meningkat, potensi default penuh masih relatif terbatas. Hal ini mengingat status ADHI sebagai BUMN strategis serta peluang restrukturisasi kewajiban dan monetisasi aset.

“Risiko suspensi saham baru meningkat apabila terjadi gagal bayar material atau pelanggaran keterbukaan informasi,” ungkapnya.

Sentimen positif untuk kinerja ADHI berasal dari percepatan belanja infrastruktur pemerintah, perbaikan pencairan pembayaran proyek, efisiensi biaya, serta potensi monetisasi aset.

Sebaliknya, tekanan datang dari tingginya beban utang, kebutuhan modal kerja, lambatnya pembayaran proyek, dan ketidakpastian hasil RUPO.

“ADHI masih memiliki peluang untuk pulih, namun keberhasilannya sangat bergantung pada perbaikan arus kas dan penyelesaian restrukturisasi kewajiban,” paparnya.

Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk ADHI dengan target harga Rp 175 per saham.

“Perlu menjadi catatan, investor sebaiknya mencermati perkembangan hasil RUPO, perbaikan operating cash flow, dan percepatan pembayaran proyek sebagai katalis utama sebelum meningkatkan eksposur terhadap saham ADHI,” katanya.

Nafan menegaskan, isu yang paling perlu dicermati dari kinerja ADHI saat ini bukan semata laba, melainkan likuiditas. Penurunan arus kas yang cukup signifikan menunjukkan bahwa perusahaan masih menghadapi tekanan modal kerja.

Kondisi tersebut dinilai lazim terjadi pada kontraktor BUMN karena pembayaran proyek pemerintah maupun BUMN sering kali berlangsung lebih lambat dibandingkan kebutuhan pendanaan proyek.

Rencana RUPO untuk meminta persetujuan penundaan pembayaran bunga obligasi mengindikasikan bahwa manajemen sedang melakukan liability management atau penyesuaian struktur kewajiban agar arus kas tetap terjaga.

 
ADHI Chart by TradingView

“Dari sisi kreditur, langkah tersebut umumnya lebih baik dibandingkan perusahaan memaksakan pembayaran yang justru memperburuk likuiditas,” katanya.

Menurut Nafan, ADHI belum tentu terancam gagal bayar kupon maupun pokok obligasi dalam waktu dekat. Selama restrukturisasi mendapat persetujuan pemegang obligasi, proyek-proyek tetap berjalan, dan perusahaan masih memiliki akses terhadap sumber pendanaan maupun dukungan pemegang saham pengendali, risiko gagal bayar masih dapat dikelola.

Namun demikian, jika RUPO tidak mencapai kesepakatan atau tekanan likuiditas semakin berat, maka risiko tersebut tentu akan meningkat.

“Jadi, saat ini investor perlu lebih fokus pada perkembangan hasil RUPO, posisi kas, kemampuan menghasilkan arus kas operasi, dan perkembangan piutang usaha,” paparnya.

Sementara itu, ADHI juga belum dapat dikatakan berada pada kondisi yang tidak dapat diselamatkan.

Perseroan saat ini masih memiliki portofolio proyek yang besar, pengalaman panjang sebagai kontraktor BUMN, serta peluang memperoleh proyek strategis. Namun, kata Nafan, tantangan utamanya saat ini adalah mengubah laba akuntansi menjadi arus kas yang nyata.

“Selama likuiditas belum membaik, persepsi pasar terhadap saham ADHI kemungkinan masih akan cenderung berhati-hati,” ungkapnya.

Alhasil, Nafan belum memberikan rekomendasi untuk saham ADHI lantaran saham tersebut sudah mulai tidak likuid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News