KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti Grup Aguan, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (
CBDK), di tahun 2026 diproyeksikan masih prospektif. PANI mencatatkan marketing sales Rp 4,3 triliun sepanjang tahun 2025. Ini setara dengan 100% dari target tahun lalu. Sementara, CBDK membukukan
marketing sales Rp 430 miliar sepanjang 2025, hanya setara dengan 85% dari target tahun lalu yang sebesar Rp 508 miliar.
Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 8 Orang di Gaza di Tengah Gencatan Senjata Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, perbedaan hasil raihan marketing sales itu lantaran adanya beda fokus portofolio antara produk PANI dan CBDK. Product mix PANI dilihat jauh lebih luas dan matang, sehingga serapannya lebih stabil dan masif. “Sementara, portofolio CBDK yang baru IPO terkonsentrasi di penjualan kaveling tanah komersial berskala besar, yang mana tren high-ticket item tahun lalu masih terkendala,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (26/2). Wafi melihat, prospek kinerja PANI dan CBDK masih solid di tahun 2026. Kinerja PANI juga dilihat bisa lebih bagus tahun ini karena telah mengkonsolidasikan laporan keuangan CBDK. Sentimen positif untuk keduanya di tahun ini adalah potensi kelanjutan tren penurunan suku bunga acuan serta mulai beroperasinya fasilitas pendukung.
Baca Juga: Impor Rare Earth Jepang dari China Turun 5,7% pada Januari 2026 “Sementara sentimen negatif adalah pelemahan daya beli yang bisa membuat investor menunda ekspansi bisnis dan memperlambat penjualan lahan,” katanya. Meskipun begitu, kinerja saham PANI dan CBDK tengah terkoreksi sejak awal tahun 2026. Melansir RTI, saham PANI sudah turun 24,01% year to date (YTD) dan CBDK amblas 36,57% YTD. Kata Wafi, koreksi saham keduanya wajar, karena pasar lagi merasionalisasi valuasi yang sudah mahal alias premium, terutama PANI yang memiliki price to earning ratio (PER) lebih dari 100x. “Sahamnya masih menarik untuk dikoleksi, tapi untuk jangka panjang di atas 3-5 tahun. Sebab, kawasan PIK 2 adalah proyek jangka panjang,” tuturnya. Di sisi lain, aksi divestasi Grup Salim di saham CBDK juga menjadi sorotan. Ini lantaran Grup Salim melalui PT Tunas Mekar Jaya melepas kepemilikannya hingga di bawah 1%.
Baca Juga: Krisis Chip, Pasar Smartphone Akan Turun Terdalam Sepanjang Sejarah di Tahun Ini Sebelum transaksi, perusahaan afiliasi Grup Salim ini punya 77,51 juta saham CBDK yang setara dengan 1,37%. Setelah transaksi, saham yang digenggam tinggal 0,93% atau sebanyak 52,51 juta. Mengingatkan kembali, self regulatory organization (SRO) tengah melakukan reformasi pasar saham Indonesia. Salah satu poin aksi tersebut adalah penguatan transparansi yang dilakukan melalui perluasan keterbukaan data kepemilikan saham. Jika sebelumnya publikasi data kepemilikan saham difokuskan pada kepemilikan di atas 5%, ke depan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan menambahkan pengungkapan kepemilikan di atas 1% yang disampaikan secara bulanan. Wafi bilang, walaupun alasan resmi dari manajemen adalah "realisasi nilai investasi", aksi tersebut tetap berkaitan dengan langkah BEI membuka data pemilik saham hingga 1%.
Namun, hal ini tidak akan berdampak kepada kinerja operasional PANI dan CBDK ke depan. Sebab, Salim dan Aguan tetap jadi pengendali utama ekosistem lewat Multi Artha Pratama yang menguasai mayoritas saham PANI, di mana PANI sendiri kini menguasai 90% saham CBDK.
Baca Juga: Hakim AS Tolak Permintaan Arbitrase Binance, Gugatan Nasabah Kripto Tetap Jalan “Jadi ini lebih ke konsolidasi struktural internal,” katanya. Wafi pun menyarankan investor untuk memerhatikan saham PANI dan CBDK dengan target harga masing-masing Rp 13.500 per saham dan Rp 6.000 per saham.