Simak prospek Kioson setelah IPO



KONTAN.CO.ID - Menjadi pionir start-up yang mencari pendanaan melalui penawaran perdana saham kepada publik alias initial public offering (IPO), PT Kioson Komersial Indonesia memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan pertama, yaitu terkait cara perusahaan agar bisa mencatatkan laba pada tahun depan.

Mengacu laporan keuangan Kioson per April 2017, yang tercatat dalam prosepektus IPO, perusahaan mencatatkan kerugian sejumlah Rp 4,45 miliar, meski pendapatan melonjak 445% menjadi Rp 25,96 miliar.


Oleh karena itu, saat ini, perusahaan sedang berusaha untuk memperbaiki bottom line. "Kami akuisisi Narindo yang mudah-mudahan kalau dari forecast bisa memberikan kontribusi kepada bottom line," kata Jasin Halim, Direktur Utama PT Kioson Komersia Indonesia, Jumat (15/9).

Dalam aksi korporasi tersebut, Kioson menawarkan maksimal 150 juta saham atau 23,07% dari modal ditempatkan dan disetor. Harga IPO sebesar Rp 280 hingga Rp 300 per saham. Jadi, kioson membidik Rp 42 miliar hingga Rp 45 miliar dari hajatan ini.

Nantinya hasil IPO tersebut akan dipergunakan oleh perusahaan untuk melakukan akuisisi 99% saham PT Narindo Solusi Komunikasi dengan menggunakan sekitar 75,76% dana hasil IPO atau sebesar Rp 31 miliar.

Muhammad Nafan Aji, analis Binaartha Parama Sekuritas mengatakan, kemungkinan IPO Kioson akan lancar, meskipun Kioson masih rugi. Apalagi, emiten anyar ini merupakan start-up pertama yang melantai di bursa

"Selama penggunaan hasil IPO untuk ekspansi bisnis, seperti misalnya mengakuisisi PT Narindo, dan meningkatkan modal perusahaan, maka hal tersebut diharapkan akan mendongkrak kinerja perusahaan ke depan," kata Nafan, Jumat (15/9).

Nafan mengatakan, ada kemungkinan tujuan Kioson mencaplok PT Narindo, karena Narindo menjalankan berbagai proyek berupa apana.co.id, Bank Mega Recurring Top Up, Twitter Enabler, dan Switching Packet Data . Sehingga tujuan besarnya adalah untuk memperkuat struktur dan menambah portofolio Kioson dan diharapkan agar ada kontribusi positif ke depannya.

Nafan menilai, hal ini merupakan strategi Kioson, apalagi klien PT Narindo merupakan perusahaan-perusahaan besar, seperti Bank CIMB, Twitter, Johnson&Johnson, hingga Indomart.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini