KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) berpotensi pulih di kuartal IV 2026, meskipun tak melaju kencang. Secara historis, kinerja IHSG tercatat positif di akhir tahun. Ambil contoh, pada kuartal III-2025 IHSG naik 16,36% secara kuartalan (QoQ) dan 7,08% tahunan (YoY). Melanjutkan tren, IHSG pada kuartal IV 2025 naik 7,27% QoQ dan 22,13% YoY. Namun, melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada kuartal II 2026 saja turun 19,93% QoQ dan 18,54% YoY.
Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG parkir di 6.036,88 dan sudah turun 30,18% sejak awal tahun alias
year to date (YTD).
Baca Juga: Tiga Indeks Unggulan di BEI Tertekan, Simak Peluang Rebound di Kuartal IV-2026 Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto memandang, secara kuartalan, sebenarnya IHSG masih membukukan kenaikan sekitar 8% sepanjang kuartal III 2026. Namun performanya sangat tidak merata. Reli yang cukup kuat pada periode Juli–Agustus 2026 berbalik tajam pada September, ketika IHSG terkoreksi sekitar 6,6%. “Memasuki awal Oktober tekanan juga belum sepenuhnya mereda, sehingga momentum pasar saat ini jauh lebih lemah dibandingkan pertengahan kuartal III,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Perbedaan kinerja IHSG di akhir 2026 dengan periode sebelumnya terutama berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, The Fed kembali menaikkan suku bunga, US Treasury yield tetap sangat tinggi, dolar Amerika Serikat (AS) masih kuat, dan harga minyak serta risiko geopolitik menambah tekanan terhadap emerging markets. “Kondisi ini membuat rupiah lebih rentan dan mengurangi
appetite investor asing terhadap aset Indonesia,” ungkapnya. Dari domestik, fundamental ekonomi secara umum masih cukup resilien, tetapi pasar menghadapi beberapa ketidakpastian tambahan. Termasuk, perubahan kebijakan, kondisi likuiditas domestik yang tidak terlalu longgar, serta sejumlah perubahan
market microstructure.
Baca Juga: Menakar Arah IHSG pada Kuartal III dan IV-2026 “Karena itu, likuiditas domestik masih mampu menjadi
buffer, tetapi belum cukup menggantikan
foreign demand terhadap saham-saham
large cap,” ungkapnya. Di kuartal IV, IHSG masih memiliki ruang pemulihan, tetapi kemungkinan bukan
broad-based rally. Kondisi pasar lebih mendukung
selective rebound pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang menarik setelah koreksi. Dia memproyeksi, IHSG bisa ada di rentang yang cenderung lebar yaitu 5.900 - 6.900 di akhir 2026. Rully mengatakan, sektor unggulan di pasar saham cukup berganti-ganti sepanjang kuartal III 2026 kemarin. Pada fase reli, sektor perbankan besar sempat menjadi motor utama, terutama ketika
foreign inflow kembali masuk. Namun ketika
foreign flow berbalik keluar pada September, saham-saham large-cap banks seperti PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) justru ikut menjadi sumber tekanan terhadap indeks.
“Ini menunjukkan bahwa
foreign participation masih sangat penting bagi
sustainability rally saham-saham
large cap,” paparnya. Sementara, untuk kuartal IV 2026 ini, sektor perbankan masih menarik secara selektif. Emiten bank dengan
funding franchise dan
liquidity yang kuat bisa memimpin pasar di tiga bulan terakhir tahun ini. Misalnya, BBCA yang punya posisi likuiditasnya relatif lebih baik dan lebih mampu menghadapi kondisi
funding system yang ketat. ”Sebaliknya, pasar harus lebih berhati-hati terhadap emiten bank yang
liquidity position lebih
stretched,” paparnya. Di sisi lain, investor asing juga cenderung lebih defensif selama rupiah masih berada dalam tekanan. Sebab, kerugian kurs bisa mengurangi imbal hasil mereka dalam dolar AS.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Batubara: ITMG, AADI, PTBA, dan BUMI Sebagai gambaran, aliran dana asing sudah menguap dari Bursa sebesar Rp 107,43 triliun YTD di pasar reguler.
Alhasil, Rully pun tidak menyarankan investor untuk mengejar momentum hanya karena secara historis akhir tahun sering terjadi
window dressing. Sebab, pada tahun ini kondisi global dan aliran dana asing cenderung berbeda dari periode sebelumnya. “Investor sebaiknya fokus pada perusahaan dengan balance sheet kuat, cash flow yang sehat, dan earnings visibility yang relatif tinggi,” ungkapnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News