KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) diproyeksikan bakal memulih pada tahun 2026. Emiten properti ini membukukan penurunan kinerja sepanjang tahun 2025. Pendapatan neto SMRA tercatat Rp 8,76 triliun sepanjang 2025. Pendapatan ini turun 17,47% dari Rp 10,62 triliun pada tahun 2024. Segmen pengembangan properti menyumbang mayoritas ke pendapatan, yaitu Rp 5,5 triliun. Lalu, segmen properti investasi Rp 2,22 triliun dan segmen lain-lain Rp 981,12 miliar.
SMRA juga mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menjadi Rp 766,55 miliar di 2025, menyusut 44,18% YoY dari Rp 1,37 triliun di 2024.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Prospek Emiten Terkait Kendaraan Listrik Dinilai Menarik Meskipun sepanjang tahun mengalami penyusutan, kinerja SMRA sepanjang kuartal IV 2025 melonjak drastis secara kuartalan. Tim Riset MNC Sekuritas mencatat, laba bersih di kuartal terakhir melesat 372% dibandingkan kuartal sebelumnya. “Ini menunjukkan adanya momentum penjualan yang kembali aktif di penghujung tahun,” ujarnya dalam riset yang diterima Kontan pekan lalu. Sepanjang 2025, pendapatan berulang (
recurring revenue) dari penyewaan mal dan hotel masih tumbuh 5% YoY. “Kondisi ini menjadi bantalan yang menjaga stabilitas pendapatan perusahaan saat penjualan rumah sedang fluktuatif,” ungkapnya. Sementara, penurunan laba bersih hingga 44,18% YoY berada di bawah ekspektasi pasar. Hasil itu juga hanya mencapai sekitar 81-83% dari target para analis. Tim Riset MNC Sekuritas bilang, ada beberapa penyebab penurunan laba SMRA pada tahun lalu.
Pertama, biaya pemasaran yang naik, sehingga pengeluaran untuk promosi proyek-proyek baru meningkat.
Kedua, kenaikan biaya bunga pinjaman menekan laba bersih perusahaan. Terakhir, efek capaian kinerja pada tahun sebelumnya. “Tahun 2024 adalah tahun dengan rekor penjualan yang sangat tinggi (
high base), sehingga angka tahun 2025 terlihat menurun secara persentase,” paparnya. Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi melihat, penurunan kinerja di tahun 2025 disebabkan oleh terhambatnya pengakuan pendapatan. “Penjualan lahan ke BUVA nilainya belum material untuk mengkompensasi penurunan volume serah terima unit residensial secara konsolidasian tahun lalu,” katanya kepada Kontan, Selasa (31/3).
Baca Juga: Rupiah Tak Berdaya Ditutup Lemah Rp 17.041 Selasa (31/3), Waspada Tekanan Lanjutan Dalam pemberitaan sebelumnya, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) telah merampungkan transaksi pembelian aset milik di Bali pada 28 November 2025. BUVA resmi mengambil alih PT Bukit Permai Properti, anak usaha SMRA, dengan nilai transaksi mencapai Rp 536,28 miliar. Di tahun 2026 kinerja SMRA berpotensi membaik dibandingkan tahun lalu. Wafi melihat, raihan pendapatan prapenjualan alias marketing sales tahun 2025 yang naik dari tahun sebelumnya akan mulai diserahterimakan dan diakui sebagai pendapatan tahun ini. Marketing sales SMRA di tahun 2025 sebesar Rp 5,52 triliun, naik 27% YoY dan realisasinya 11% lebih tinggi dari target yang ditetapkan untuk tahun buku 2025. Sentimen positif penggerak kinerja SMRA berasal dari potensi pemangkasan suku bunga acuan, perpanjangan insentif PPN DTP, dan solidnya pendapatan berulang alias
recurring income. Sementara, sentimen negatif datang dari daya beli kelas menengah yang masih rentan terhadap inflasi. “Penopang kinerja tahun ini adalah
recurring income dari jaringan mall dan penjualan rumah tapak di township di Serpong, Bekasi, dan Crown Gading,” katanya. Valuasi saham Summarecon saat ini dilihat Wafi juga tergolong
undervalued. Namun, harga saham yang tertekan sudah priced-in lantaran pelemahan laba 2025. “Dengan ekspektasi kenaikan pengakuan pendapatan di 2026, valuasi
forward price to earning ratio (PER) menjadi menarik,” ujarnya. Wafi pun merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp 750 per saham. Gani, Equity Analyst OCBC Sekuritas menambahkan, katalis pemulihan laba SMRA pada tahun 2026 didukung marketing sales yang stabil pada tahun lalu. Kondisi itu juga ditambah dengan pendapatan dari
investment property yang baru beroperasi yaitu, Bekasi Mall fase 2 dan hotel baru di Serpong. “Selain itu ada potensi
one off earnings dari penjualan aset villa yang kemungkinan akan dibukukan di kuartal II atau semester II 2026,” katanya kepada Kontan, Selasa (31/3). Di tahun ini, tantangan untuk SMRA berasal dari kemungkinan inflasi yang tinggi akibat kenaikan harga minyak. Kondisi itu pun berpotensi menyebabkan proyeksi suku bunga akan cenderung ditahan di level sekarang, yaitu 4,57%.
“Sehingga, beban bunga akan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dan potensi
unlock value jadi lebih terbatas,” ungkapnya. Gani pun merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp 480 per saham.
Baca Juga: IHSG Turun 0,61% ke 7.048, Top Losers LQ45: MEDC, BUMI dan EMTK, Selasa (31/3) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News