KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya pembenahan ekosistem timah di Tanah Air menunjukkan hasil signifikan setelah bertahun-tahun dihadapkan dengan persoalan tata kelola dan aktivitas pertambangan ilegal. Hal itu tercermin dari kinerja positif PT Timah Tbk (TINS). Pemerintah tercatat telah menertibkan 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung untuk menjaga kekayaan nasional agar manfaat ekonominya kembali kepada negara dan masyarakat. Sepanjang semester I 2026, kinerja TINS melesat. Pendapatan mencapai Rp10,42 triliun atau naik 146,9% secara tahunan, sedangkan laba bersih melonjak 804,7% menjadi Rp2,72 triliun.
Pertumbuhan juga terlihat dari sisi operasional. Produksi bijih timah naik 74,8% menjadi 12.232 ton, sementara volume penjualan tumbuh 85,1% menjadi 10.984 ton. Kinerja ini menunjukkan pembenahan TINS mulai berdampak pada operasional perusahaan. Di tengah pembenahan ekosistem timah, TINS juga melakukan penyegaran manajemen. Melalui RUPSLB pada 2 Mei 2025, pemegang saham menunjuk Restu Widiyantoro sebagai Direktur Utama dan Agus Rohman sebagai Komisaris Utama/Independen.
Baca Juga: Timah (TINS) Dapat Fasilitas Cash Management dari BNI Perubahan kepemimpinan ini turut memperkuat tata kelola dan pengamanan aktivitas pertambangan di wilayah operasi TINS. Berbekal pengalaman panjang dalam organisasi yang menekankan disiplin, pengawasan, dan pengelolaan operasi lapangan, keduanya berperan dalam memperkuat tata kelola serta proses bisnis perusahaan. Pemulihan kinerja itu disambut baik oleh investor di pasar modal. Saham TINS tercatat menguat 29,26% dari awal tahun hingga penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026) di level Rp 4.020. Dalam setahun, harganya sudah terbang 298,02%. Kinerja semester I 2026 belum dipandang sebagai puncak pemulihan TINS. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat laba bersih perseroan telah mencapai 80,7% dari proyeksi setahun penuh dan 92,6% dari konsensus. Analis BRIDS Andhika Audrey menilai ruang perbaikan operasional masih terbuka pada semester II 2026. “Meredanya gangguan operasional dan mulai beroperasinya tambahan kapal produksi dinilai dapat mendorong pemulihan produksi hingga akhir tahun,” kata Andhika, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Harga Timah Menguntungkan Indonesia, Nikel Masih Dibayangi Surplus Pasokan Atas prospek tersebut, BRIDS menaikkan proyeksi laba bersih TINS 2026 sebesar 34,1% menjadi Rp4,51 triliun. Pendapatan diproyeksikan mencapai Rp22,83 triliun dan EBITDA Rp6,81 triliun. Revisi ini terutama ditopang asumsi harga timah yang lebih kuat, cash margin yang tetap resilien, serta perbaikan penyerapan biaya seiring pemulihan operasional. Meski saham TINS telah naik hampir 30% sepanjang tahun berjalan, BRIDS masih melihat ruang kenaikan. BRi Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy terhadap TINs dengan target harga dinaikkan dari Rp4.500 menjadi Rp4.800 per saham, berdasarkan valuasi 8 kali proyeksi P/E 2026. BRIDS menilai harga timah yang tetap tinggi, cash margin yang resilien, dan visibilitas operasional semester II yang membaik masih memberikan upside menarik, meski dengan asumsi volume yang lebih konservatif. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News