KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) masih menghadapi sejumlah tantangan industri properti pada tahun ini. CTRA bahkan telah memproyeksikan raihan laba bersih turun 10% di tahun 2026. Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata mengatakan, pendapatan dan laba bersih perseroan di tahun 2026 diproyeksikan turun 10% dari raihan tahun lalu. Sebagai pengingat, pendapatan CTRA selama 2025 adalah Rp12,7 triliun atau meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp11,2 triliun. Laba bersih CTRA tercatat Rp2,7 triliun atau naik 25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp2,1 triliun.
Baca Juga: Longsor 4,55% dalam Sepekan, Begini Prediksi IHSG di Pekan Depan Di sisi lain, CTRA menargetkan pencapaian pendapatan prapenjualan alias marketing sales stagnan di Rp9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik. “Ini sudah ditargetkan dari awal tahun, turun 10% dari tahun lalu. Untuk presales, targetnya flat di Rp 9,5 triliun,” ujarnya saat ditemui di Public Expose CTRA, Jumat (26/6/2026). Menurut Aditya, target di 2026 ditetapkan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, karena melihat masih lesunya permintaan properti di beberapa wilayah akibat faktor penurunan daya beli. “Namun, CTRA optimistis mampu mencapai target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, disamping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP),” katanya. Aditya bilang, untuk memenuhi target marketing sales 2026, CTRA meluncurkan dua proyek residensial baru yakni Citra Homes Halim di Jakarta dan Citra Bukit Golf Sentul di Bogor, serta klaster-klaster baru. Segmen ini mayoritas menyasar masyarakat menengah ke atas, dengan harga di atas Rp 1,5 miliar. Segmen ini juga dinilai lebih resilien di tengah gejolak ekonomi. Sepanjang kuartal I 2026, CTRA telah meluncurkan Klaster Cedarwood@Forestine di proyek CitraGarden City Jakarta, KlasterHortis Phase 2 di proyek Citra Garden Serpong, dan juga klaster-klaster lainnya. Sementara itu pada semester II 2026, CTRA akan meluncurkan Klaster Lacewood Phase 1@The Forestine dan Klaster Solea Terrace di CitraGarden City Jakarta, Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar, dan lainnya. “CTRA selalu berkomitmen menghadirkan produk-produk properti yang inovatif serta menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam menjalankan bisnis,” tuturnya. Di sisi lain, saham CTRA juga terkoreksi 31,93%
year to date (YTD) ke Rp 565 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie mengatakan, secara tahunan pendapatan kuartal I CTRA turun 6,37% dibanding tahun sebelumnya ke level Rp 2,56 triliun dan laba bersih juga turun 21,52% ke level Rp 518 miliar. Hal tersebut turut menjadi pendorong penurunan harga saham CTRA. Namun, perlu diperhatikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 juga turut mengalami penurunan yang signifikan sebesar 31,81% YTD. Selain itu, ada peningkatan suku bunga yang agresif sebesar 100 basis poin (bps) ke level 5,75%. “Sehingga penurunan saham CTRA ini merupakan faktor kombinasi dari kedua faktor tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/6). Menurut Adrian, kinerja CTRA di semester I 2026 akan mengalami tantangan dan laba bersih emiten akan terdampak. Didorong iklim investasi yang kurang baik dan juga suku bunga yang tinggi, sehingga
development income perusahaan akan terdampak.
“Secara umum emiten yang bergerak di bidang properti akan menghadapi tantangan yang sama, terutama yang berfokus terhadap
development income,” tuturnya. Adrian pun merekomendasikan
trading buy dengan target harga terdekat di level Rp 605 per saham.
Baca Juga: Emiten Grup Salim Kompak Bagi Dividen, Ada yang Yield Tembus 6% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News