KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Hari ini, IHSG anjlok 163 poin atau 2,16% ke 7.378,60 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebanyak 192 saham naik, 505 saham turun, dan 123 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 53,55 miliar saham dengan total nilai Rp 20,19 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG hari ini seiring aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) yang mencapai Rp 1,36 triliun. Dari sentimen global, perpanjangan gencatan senjata belum sepenuhnya mampu meredakan ketidakpastian geopolitik, sehingga mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. “Harga minyak WTI tercatat berada di kisaran US$ 94 per barel, sementara minyak Brent di level US$ 103 per barel,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja ASII, GOOD, HEAL, dan BULL yang Gelar RUPS Rabu (23/4) Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah kembali melemah dari area Rp 17.000 per dolar AS menuju Rp 17.300 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global, penguatan dolar AS, serta capital outflow dari pasar keuangan domestik. ”Tekanan pada mata uang juga turut mempengaruhi sentimen investor di pasar saham,” tuturnya. Untuk perdagangan Jumat (24/4/2026), IHSG diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah terbatas seiring tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Secara teknikal, IHSG memiliki potensi melanjutkan koreksi menuju area support gap berikutnya di kisaran 7.305–7.300. Level tersebut menjadi area penting yang akan diuji pasar dalam jangka pendek. Sementara di sisi atas, resistance terdekat berada pada rentang 7.460–7.500.
Baca Juga: Rupiah Anjlok, IHSG Diproyeksikan Lanjut Melemah pada Perdagangan Jumat (24/4) Sentimen utama yang akan dicermati pelaku pasar besok adalah pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali melemah ke kisaran Rp 17.300 per dolar AS atau mendekati level terendah baru.
Tekanan pada rupiah terjadi setelah dolar AS menguat akibat meningkatnya permintaan aset safe haven menyusul belum tercapainya perkembangan signifikan dalam negosiasi damai AS–Iran. “Kondisi ini mendorong investor global cenderung keluar dari aset berisiko, termasuk emerging markets,” ungkapnya. Reza pun merekomendasikan beli untuk PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan target harga masing-masing Rp 2.000 – Rp 2.100 per saham, Rp 770 – Rp 800 per saham, dan Rp 1.780 – Rp 1.820 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News