Simak Rekomendasi 2 Analis Ini untuk Saham BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten bank BUKU 4 menguat di atas 2% dalam satu minggu terakhir, di mana PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat kenaikan tertinggi hingga 5,34%.

Bahkan saham emiten perbankan BUMN tersebut sempat kembali mencatatkan all time high pada pada perdagangan hari Jumat (19/5) di level Rp 5.375 per saham.

Kemudian disusul Bank Mandiri (BMRI) dengan penguatan 4,50%, dan Bank Central Asia (BBCA) naik 2,27%. Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BBNI) masih mencatatkan penurunan 1,67%.


Penguatan saham bank buku 4 ini sejalan dengan kencangnya pertumbuhan laba dan menyentuh rekor keuntungan pada kuartal I/2023 ini.

Ambil contoh BBRI yang berhasil meraup laba bersih konsolidasian sebesar Rp 15,56 triliun di kuartal I-2023 atau tumbuh 27,37% secara tahunan. Sementara, total kredit BRI Group juga tercatat sebesar Rp 1.180,12 triliun ditopang oleh segmen mikro yang tumbuh sebesar 11,18%.

"Sentimen yang mempengaruhi kenaikan saham BBRI karena pertumbuhan kredit UMKM (KUR) masih menjadi porsi terbesar penyaluran kredit dan masih berpotensi tumbuh di 2023-2024 dengan margin kredit ke UMKM yang memang lebih tebal dari kredit consumer atau kredit korporasi. hal ini bisa membuat laba BBRI tumbuh lebih tinggi," kata Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki kepada kontan.co.id, Senin (22/5).

Baca Juga: Beda Arah, Ini Harga Saham BBRI & GOTO di Perdagangan Bursa Senin (22/5)

 
BBRI Chart by TradingView

Disusul oleh BMRI yang juga berhasil meraup laba bersih konsolidasian sebesar Rp 12,6 triliun di Q1 2023, tumbuh 25,2% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara kredit BMRI tercatat tumbuh 12,36% YoY menjadi Rp 1.205 triliun.

BBCA juga berhasil meraih laba bersih secara konsolidasi sebesar 43,0% secara tahunan menjadi Rp 11,5 triliun di kuartal I 2023. Total kredit BCA, secara keseluruhan naik 12,0% menjadi Rp 713,8 triliun di Maret 2023.

BBNI tercatat berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 5,2 triliun di Q1 2023, tumbuh 31,8% secara tahunan dibandingkan periode tahun lalu. Sementara kredit konsolidasi BNI tumbuh 7,2% yoy mencapai Rp 634,3 triliun.

Achmad Yaki menyebut, pemulihan ekonomi dan daya beli berpotensi membuat loan performing dan loan disbursement masih tetap tumbuh dan membaik di 2023, minimal di high single digit. "Di sisi lain, beberapa Bank juga mulai aktif menjual aset-aset kredit bermasalah mereka," katanya.

Menurut Yaki, dari saham big 4, bank BBNI dan BMRI secara tehnikal, pergerakannya lebih tertinggal daripada BBCA dan BBRI, dan potensi untuk akumuluasi BUY di harga saat ini masih cukup menarik.

Yaki pun merekomendasikan saham BMRI BUY TP 6.000, BBNI BUY TP 11.550, dan BBRI BUY TP 5.800.

Setali tiga uang, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menilai, prospek saham bank-bank besar masih cukup positif, apalagi ekonomi Indonesia diproyeksi masih akan tumbuh kuat, di tengah efek kampanye politik pemilu.

 
BBCA Chart by TradingView

Baca Juga: Menakar Daya Tahan Saham Perbankan Big Caps

Menurutnya, prospek untuk saham bank-bank besar tidak jauh berbeda dengan outlook ekonomi Indonesia, dimana diproyeksi masih dapat tumbuh dengan optimal.

Sementara itu, masih longgarnya tingkat likuiditas di bank-bank besar, sehingga belum akan mengerek bunga deposito secara signifikan, sehingga labanya masih berpotensi tinggi.

"Secara fundamental, sebetulnya ke-empat bank tersebut cukup menarik. Namun secara teknikal, saham BBCA dan BMRI menarik untuk dicermati," kata Fajar.

Fajar pun menargetkan harga saham BBCA terdekat ada di 9.050, sementara BMRI terdekat di 5.250.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto