Simak rekomendasi saham blue chip berikut



KONTAN.CO.ID - Sejumlah emiten, tercatat memasuki top ten trading value. Dari penelusuran, ada beberapa emiten yang selama sepekan selalu masuk dalam top ten. KONTAN mencermati saham seperti SRIL, TLKM, ASII, BBRI, BBCA, dan RIMO.

Di antaranya, sejumlah saham berkapitalisasi besar hampir selalu masuk top trading berdasarkan volume. Namun, bagaimanakah prospek emiten itu?

Wijen Ponthus, Analis Royal Investium Sekuritas menyatakan keenam saham tersebut secara jangka panjang kurang menarik. Dia menilai, dalam waktu 1-2 tahun mendatang, kecenderungan saham blue chip ini akan menurun. "Kalau mau investasi jangka panjang, lebih baik masuknya setelah dua tahun yang akan datang," kata Wijen kepada KONTAN, Selasa (5/9).


Dia mencermati saham TLKM, ASII, BBRI, BBCA itu secara Elliot Wave sudah berada di puncak uptrend jangka menengah. Ada potensi untuk berbalik arah turun dalam hitungan beberapa bulan ke depan. SRIL masih cukup menarik untuk jangka menengah, mengingat target SRIL masih bisa di level sekitar Rp 400.

"Untuk saham TLKM, ASII, BBRI, dan BBCA rekomendasi sell on strength dan SRIL rekomendasi buy on weakness. RIMO no comment," ujar Wijen.

Wijen menambahkan, TLKM, ASII, BBRI, dan BBCA memang memiliki transaksi besar. Sebagai saham blue chip, emiten itu memiliki fundamental yang terbukti solid. Selain itu, saham tersebut juga mengisi portofolio fund manager besar.

Wijen menambahkan, saat ini saham blue chip masih bisa untuk trading. Namun, dengan tetap memperhatikan IHSG juga. Lantaran saham blue chip inline dengan IHSG. Untuk itu dia merekomendasikan sell on strength saham blue chip. Sebab dia memprediksi target IHSG selama 1-2 bulan ke depan berada pada 5.500-5.600 alias turun.

"Saat ini, sebaiknya investor fokus pada emiten berbasis consumer goods seperti ROTI, AISA, GGRM, dan HMSP. Atau juga emiten berbasis plantation seperti LSIP, AALI, dan BWPT," tambahnya

Alasannya, secara historis harga CPO menjelang akhir tahun hampir selalu naik. Hal ini dinilai akan menjadi sentimen positif emiten perkebunan. Sedangkan emiten consumer goods merupakan sektor yang cukup kuat. Pasalnya, bila terjadi perlambatan ekonomi, konsumsi akan tetap ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati