Simak Rekomendasi Saham dan Prospek Kinerja Emiten CPO Grup Haji Isam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) grup Haji Isam tengah menjadi sorotan lantaran pergerakan sahamnya terus melesat.

Lihat saja, saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) terbang 76,05% dalam sebulan terakhir. Anak usahanya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), juga mencatatkan kenaikan saham 18,24% sebulan terakhir.

Pergerakan saham JARR itu bahkan sudah membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan perdagangan efeknya pekan lalu.


Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan JARR dan PGUN memang berkaitan erat dengan tema B50, tetapi tidak sepenuhnya murni karena B50. 

Baca Juga: Gagal Bayar Kupon, Rating Adhi Karya (ADHI) Dipangkas Pefindo Jadi Selective Default

JARR memiliki eksposur yang kuat terhadap bisnis biodiesel alias FAME. Sehingga, implementasi B50 meningkatkan ekspektasi terhadap utilisasi fasilitas, volume penyerapan CPO, serta prospek bisnis hilir perseroan. 

Namun, kenaikan JARR yang sangat signifikan dalam sebulan terakhir juga mencerminkan kombinasi sentimen terhadap prospek B50, pergerakan harga CPO, ekspektasi terhadap ekspansi bisnis Grup Haji Isam, serta faktor teknikal dan momentum perdagangan. 

Sementara itu, PGUN lebih mendapatkan sentimen dari ekspektasi meningkatnya permintaan CPO domestik akibat B50.

“Meskipun secara fundamental kinerja PGUN tetap sangat dipengaruhi oleh produktivitas kebun, harga CPO, volume produksi, dan efisiensi biaya,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana berpandangan, kenaikan saham JARR dan PGUN dalam sebulan terakhir tidak semata-mata karena sentimen B50, meski kebijakan tersebut menjadi salah satu katalis fundamental terpenting. 

JARR memiliki eksposur langsung karena merupakan produsen FAME, bahan baku utama biodiesel, sehingga peningkatan mandatori biodiesel dari B40 menuju B50 berpotensi meningkatkan kebutuhan dan volume produksi FAME. 

“Namun, pasar juga sedang mengantisipasi pertumbuhan volume, peningkatan utilisasi fasilitas, harga CPO yang tetap kuat, serta posisi JARR dalam ekosistem bisnis sawit Jhonlin,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Penawaran SR025 Berakhir, Dana Dihimpun Tembus Rp 29,77 Triliun dari 93.548 Investor

Akibat kenaikan saham yang sangat cepat hingga beberapa kali mengalami suspensi, sebagian ekspektasi pertumbuhan tersebut sudah tercermin dalam harga saham. 

“Artinya, tantangan JARR sekarang bukan lagi sekadar mendapatkan katalis, tetapi membuktikan bahwa pertumbuhan laba mampu mengejar kenaikan harga saham,” ungkapnya.

Untuk prospek JARR hingga akhir 2026 dan 2027, katalis utamanya adalah keberlanjutan implementasi B50, peningkatan utilisasi fasilitas biodiesel, serta kemampuan perseroan memperoleh pasokan CPO dengan biaya yang kompetitif. 

Nafan bilang, peningkatan kontribusi CPO internal juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembelian bahan baku eksternal. 

Namun, peningkatan volume penjualan FAME tidak otomatis membuat laba meningkat secara proporsional. Sebab, margin tetap dipengaruhi oleh harga CPO sebagai bahan baku, formula harga biodiesel, volume alokasi, utilisasi pabrik, biaya operasional, serta kebutuhan modal kerja. 

“Dengan demikian, B50 merupakan katalis struktural bagi JARR, tetapi kemampuan perusahaan mengonversi peningkatan permintaan menjadi pertumbuhan laba tetap menjadi faktor penting,” katanya.

Untuk PGUN, prospeknya hingga 2027 lebih banyak ditentukan oleh pemulihan produktivitas perkebunan, perkembangan harga CPO, peningkatan produksi, serta program replanting. 

Kebijakan B50 dapat memberikan dukungan dari sisi permintaan domestik CPO, sehingga secara struktural positif bagi produsen sawit. Namun, PGUN juga menghadapi risiko dari sisi produktivitas tanaman, kondisi cuaca, biaya pemeliharaan dan replanting. 

Apabila harga CPO tetap tinggi, PGUN berpotensi memperoleh dukungan dari sisi pendapatan dan margin.

 
JARR Chart by TradingView

“Namun, apabila kenaikan harga CPO terlalu tinggi, bagi JARR kondisi tersebut justru dapat meningkatkan biaya bahan baku dan kebutuhan modal kerja,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan peers emiten CPO lain, karakter JARR dan PGUN relatif berbeda. JARR lebih tepat dipandang sebagai emiten yang memiliki eksposur terhadap tema hilirisasi dan biodiesel, sehingga sensitivitasnya terhadap kebijakan energi pemerintah dan volume penyaluran FAME lebih besar. 

Sementara PGUN lebih mencerminkan eksposur terhadap bisnis perkebunan sawit, sehingga kinerjanya lebih sensitif terhadap harga CPO, produktivitas kebun, yield, cuaca, serta biaya produksi.

“Investor perlu membedakan katalis B50 terhadap kedua emiten tersebut, sebab jalur transmisinya terhadap pendapatan dan laba tidak sama,” ungkapnya.

Terkait persoalan Agrinas-Duta Palma, risikonya perlu dipisahkan antara dampak terhadap operasional dan dampak terhadap sentimen.

Apabila persoalan tersebut hanya berkaitan dengan transaksi historis dan tidak mengganggu pasokan bahan baku maupun kegiatan produksi JARR, dampak langsung terhadap fundamental perusahaan berpotensi relatif terbatas. 

Namun, isu tersebut tetap menjadi overhang karena perkembangan aspek hukum dapat meningkatkan risk premium investor terhadap saham JARR. 

“Apabila kemudian muncul konsekuensi hukum yang material, barulah dampaknya terhadap persepsi investor dan valuasi dapat menjadi lebih signifikan,” katanya.

Baca Juga: Saham PACK Kembali Diperdagangkan, Analis Wanti-wanti Risiko Profit Taking

“Sentimen pemberat kinerja mereka antara lain potensi koreksi harga CPO, tekanan biaya, kondisi cuaca, kebutuhan capex dan modal kerja. Khusus JARR, ada sentimen buruk dari risiko hukum terkait persoalan Agrinas-Duta Palma,” ungkapnya.

Hendra berpandangan, kebijakan B50 memberikan pasar yang lebih besar dan bersifat struktural bagi FAME, sehingga berpotensi meningkatkan volume penjualan dan utilisasi pabrik JARR. 

Sementara PGUN memiliki cerita yang berbeda karena lebih merupakan pemain hulu dengan bisnis perkebunan dan CPO. Manfaat B50 bagi PGUN datang secara tidak langsung melalui meningkatnya kebutuhan CPO sebagai bahan baku biodiesel. 

Hubungan dalam ekosistem Jhonlin juga menjadi katalis karena PGUN memiliki captive market, tetapi konsentrasi penjualan kepada entitas dalam grup juga menjadi risiko yang harus diperhatikan. 

Sementara, sentimen pemberatnya yaitu volatilitas harga CPO, perubahan kebijakan biodiesel, biaya produksi, risiko konsentrasi pelanggan PGUN serta valuasi saham yang sudah meningkat tajam. Ini penting dicermati karena kenaikan harga saham JARR sudah jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan fundamentalnya. 

Dengan kata lain, pasar sedang membeli ekspektasi 2027 hari ini. Jika realisasi produksi dan laba tidak sesuai ekspektasi, risiko koreksi tentu semakin besar. 

Baca Juga: IMC Pelita (PSSI) Bakal Jual 85 Juta Saham Treasuri Mulai 21 September

“Kenaikan JARR dan PGUN perlu dilihat sebagai kombinasi antara fundamental yang membaik dan ekspektasi pasar yang sangat agresif, bukan semata-mata sebagai refleksi kinerja saat ini,” ujarnya.

Terkait persoalan Agrinas-Duta Palma, JARR telah menyampaikan klarifikasi bahwa transaksi CPO yang dipersoalkan telah melalui proses penerimaan, administrasi, penagihan dan pembayaran sesuai kesepakatan. Sementara, perselisihan utama berada antara Agrinas Palma Nusantara dan Duta Palma Group.

Risiko dari kasus tersebut terhadap JARR akan menjadi lebih material apabila kemudian muncul keputusan hukum atau fakta baru yang secara langsung menimbulkan kewajiban finansial ataupun mengganggu operasional perusahaan. 

“Untuk saat ini isu tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai risk factor yang harus dimonitor, bukan sebagai alasan tunggal untuk mengubah prospek fundamental JARR,” paparnya.

Nafan belum memberikan rekomendasi saham untuk JARR dan PGUN. Sementara, Hendra merekomendasikan speculative buy untuk JARR dan PGUN dengan target harga masing-masing Rp 4.400 per saham dan Rp 10.300 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: