Simak rekomendasi saham konsumer di tengah sentimen kenaikan PPN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Baru-baru ini pemerintah memutuskan untuk menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% menjadi 11% yang akan dimulai pada 1 April 2022. Lalu akan dinaikkan kembali menjadi 12% pada 2025. Keputusan ini tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (RUU HPP) yang telah disetujui oleh DPR.

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Willy Goutama dalam risetnya pada 5 Oktober 2021 menjelaskan kenaikan PPN ini cenderung memberi dampak yang relatif minim terhadap daya beli masyarakat maupun ke sektor konsumer. 

Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari sebagian besar produk makanan pokok (sekitar 22% dari pengeluaran rumah tangga bulanan) dikecualikan dari kenaikan PPN tersebut.


Lalu, dari sisi angka inflasi masih akan terjaga tetap rendah. Ia memperkirakan tingkat inflasi hanya akan naik 10 hingga 20 bps, dan Maybank pun telah menaikkan perkiraan inflasi untuk 2022 menjadi 3,2% (dari 3,0%).

Baca Juga: Harga tembaga terkoreksi, intip rekomendasi saham Merdeka Copper (MDKA)

Lebih lanjut, Willy meyakini mayoritas perusahaan konsumer yang berada di bawah coverage Maybank juga tidak akan terlalu terdampak oleh kenaikan PPN ini. Menurutnya, emiten-emiten tersebut sudah memiliki branding produk yang kuat sehingga akan mengurangi potensi penurunan volume penjualan dari dampak PPN yang membuat average selling price (ASP) jadi lebih tinggi.

“Lagipula, produk para emiten ini adalah barang pokok yang harganya masih terjangkau bagi kebanyakan konsumen. Perkiraan kami menunjukkan bahwa produsen hanya perlu menaikkan ASP sebesar Rp 25 hingga Rp 2.900 per item untuk meneruskan kenaikan PPN kepada pelanggan mereka di mana penyesuaian harga ini masih dapat ditolerir konsumen,” kata Willy dalam risetnya.

Walau begitu, saat ini Willy masih mempertahankan rating neutral untuk sektor konsumer di tengah perkembangan terbaru ini. Adapun, untuk pilihan emiten konsumer, Willy lebih memilih emiten konsumer yang punya pangsa ekspor besar serta branding produk yang kuat. 

Menurutnya, skema PPN yang baru masih akan mengecualikan produk ekspor, alhasil, dengan memiliki pangsa ekspor yang besar akan mengurangi dampak dari kenaikan PPN. Selain itu, segmen ekspor juga masih akan membantu pemulihan pendapatan emiten ke depannya.

Baca Juga: PPKM makin longgar, cermati saham-saham sektor retail berikut

“Kami memilih raksasa ekspor PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebagai top pick kami seiring beroperasinya Pinehill Company Limited (PCL) akan secara signifikan meningkatkan basis pasar ICBP,” imbuh Willy.

Selain itu, ia meyakini pemulihan pendapatan ICBP ke depan akan kuat karena produk mie instan (berkontribusi sebesar 73% dari penjualan ICBP pada 2022) masih akan tetap penting untuk segmen targetnya. Willy pun merekomendasikan untuk beli saham ICBP dengan target harga Rp 12.500 per saham.

 
ICBP Chart by TradingView

Selanjutnya: Bisnis perbankan diramal membaik, ini rekomendasi saham BBNI, BMRI, BBRI hingga BBCA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi