KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diproyeksi bisa menguat pada perdagangan hari ini (27/7/2026). Rebound IHSG terjadi setelah pasar saham Indonesia itu ditutup anjlok 1,88% ke level 6.196,43 di akhir perdagangan Jumat (24/7/2026) lalu. Meski demikian, secara akumulatif selama sepekan terakhir, IHSG masih membukukan kenaikan tipis 0,34%. Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto mengatakan, pelemahan IHSG dalam 3 hari terakhir pekan lalu membuka peluang jenuh jual.
“Arah tren IHSG masih menguat, kecuali menurun di bawah 6.000 lagi,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).
Baca Juga: Lolos dari PKPU, Adhi Commuter (ADCP) Ungkap Strategi Saat Bisnis Properti Lesu Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee bilang, penurunan IHSG di akhir pekan lalu akibat kenaikan harga minyak yang kembali menembus level US$100 akibat konflik Timur Tengah yang kembali naik. “Juga ada koreksi sehat secara teknikal karena secara teknikal analisis IHSG sudah di wilayah
overbought,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026). Hans bilang, saham teknologi kembali melemah lantaran investor melepas saham-saham semikonduktor di tengah kekhawatiran besarnya belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjelang rilis laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar, seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple. Tantangan perusahaan teknologi besar adalah belanja modal (capex) yang tidak lagi dapat sepenuhnya dibiayai dari arus kas bebas tetapi melalui pinjaman, serta semakin kuatnya ancaman model AI open source berbiaya rendah sampai gratis. Biarpun ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) meningkat di bulan ini, tetapi diperkirakan bank sentral AS itu akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini. The Fed juga berpeluang menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Bursa saham Eropa menguat dari faktor kinerja laporan keuangan sejumlah perusahaan yang positif. Tetapi pelaku pasar memperhatikan dampak kenaikan harga minyak terhadap arah kebijakan moneter ECB.
Baca Juga: Investor Asing Kurangi Eksposur di Negara Emerging Market, Ini Sebabnya “Kekhawatiran pelaku pasar terhadap ekonomi kawasan Eropa adalah potensi pertumbuhan ekonomi yang lemah disertai inflasi tinggi menuju potensi resesi,” katanya. Pada pekan lalu, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali naik akibat saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, turunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Harga minyak mentah dunia turun di akhir pekan setelah muncul berita China mendorong dimulainya kembali perundingan damai yang sempat terhenti antara Amerika Serikat dan Iran. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di Semester II diperkirakan masih cukup baik karena dukungan dari percepatan realisasi belanja pemerintah. “IHSG sempat naik dan menyentuh 20% dari titik terendah Juni yang merupakan indikasi pasar
bullish sebelum terkoreksi kembali,” ungkapnya. Hans memproyeksikan, IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.079 sampai level 6.002 dan resistance di level 6.286 sampai level 6.454 untuk perdagangan hari ini (27/7/2026). William menjelaskan, pelemahan pekan lalu memang lumayan drastis, namun tekanan masih lebih didominasi oleh saham-saham konglomerasi yang sudah menguat beberapa hari sebelumnya. Sehingga, masih termasuk koreksi sehat. “Efek pelemahan yang tercermin pada IHSG adalah efek bobot dari masing-masing saham,” paparnya.
Untuk besok, William memproyeksikan pergerakan IHSG pada 6.154 - 6.310 pada perdagangan esok Senin. William pun merekomendasikan beli untuk
JPFA dan
CPIN dengan target harga masing-masing Rp 2.250 - Rp 2.300 per saham dan Rp 3.500 - Rp 3.800 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News