KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diproyeksi lanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini (5/10/2026). Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup menguat 0,46% atau 27,39 poin ke level 6.036,89 pada Selasa (2/10/2026). Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG berpeluang melanjutkan menguat pada perdagangan hari ini (5/10/2026). Meski demikian, penguatan tersebut masih dibayangi oleh arus dana keluar (
outflow) yang cukup besar. Untuk perdagangan di awal pekan ini, Herditya memperkirakan, IHSG berada dalam rentang support 5.973 dan resistance 6.118.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 0,46%, Analis Proyeksi Rebound pada Senin (5/10) Sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor antara lain rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS), pergerakan yield US Treasury dan dolar Amerika Serikat (AS), serta perkembangan harga minyak dunia di tengah negosiasi antara AS dan Iran. Untuk pilihan saham, Herditya menyarankan untuk cermati Gudang Garam Tbk (
GGRM) dengan harga di kisaran Rp 17.575-Rp 18.250, PT Indosat Tbk (
ISAT) di rentang Rp 2.400–Rp 2.480 dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (
NCKL) Rp 880-Rp905. Sementara itu, Analis Republik Investor Hendra Wardana bilang, tekanan terhadap IHSG cukup berat memasuki kuartal IV-2026, tetapi masih terlalu dini menyebut kondisi ini sebagai era suram pasar modal Indonesia secara permanen. Menurut Hendra, tekanan IHSG saat ini lebih tepat dilihat sebagai periode krisis kepercayaan yang diperparah oleh tekanan global. Terlebih net sell investor asing di pasar reguler yang telah mencapai sekitar Rp 108 triliun secara year to date. "Tekanan IHSG saat ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Yield US Treasury yang masih tinggi membuat aset dolar AS relatif lebih menarik sehingga dana global cenderung bertahan di pasar AS atau mengurangi eksposur ke emerging market," ujar Hendra kepada KONTAN, Minggu (4/10/2026).
Selain itu, Hendra bilang, pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000, serta kenaikan harga minyak turut meningkatkan risiko inflasi dan biaya impor. Untuk perdagangan hari ini (5/10/2026), Hendra merekomendasikan saham
ANTM dengan strategi
speculative buy dan target Rp 3.350,
TINS direkomendasikan
speculative buy dengan target Rp 4.900, serta
SSIA dan
SRTG dengan rekomendasi
buy on weakness. SSIA memiliki kisaran beli Rp 1.620-Rp 1.650 dengan target Rp 1.800, sedangkan target SRTG pada Rp 1.680-Rp 1.700 dengan target Rp 2.000. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News