Simak Rekomendasi Sektor Consumer Menurut BRI Danareksa Sekuritas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. IDX Sector Consumer Non-Cyclicals masih mencatatkan penurunan 0,65% sejak awal tahun. Kendati begitu, BRI Danareksa Sekuritas masih melihat prospek sektor barang konsumsi cukup baik untuk jangka pendek.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto dalam risetnya, Kamis (10/2) menuturkan bahwa sebagian besar terseret oleh saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan saham rokok. Walau begitu, dirinya masih mempertahankan rating netral untuk indeks tersebut.

Sebabnya, menyusul peningkatan jumlah kasus Covid-19 belakangan ini, pemerintah telah menerapkan pembatasan sosial lebih lanjut (PPKM Level 3), tetapi dengan kebijakan yang lebih longgar untuk menjaga momentum pemulihan. Kemudian, konsumsi rumah juga akan menguntungkan perusahaan barang konsumsi.


Baca Juga: IHSG Rekor Lagi Meski Cuma Naik Tipis ke 6.902 Pada Senin (21/2)

Pada Januari 2022, dilaporkan tingkat inflasi yang lebih tinggi sebesar 2,18% yoy yang juga merupakan angka tertingginya sejak Mei 2020 dibandingkan 0,57% yoy pada Desember 2021. Inflasi yang lebih tinggi tersebut didukung oleh pengeluaran yang lebih tinggi untuk F&B dan tembakau sebesar 1,17%, fashion dan sepatu 0,43%, dan utilitas & bahan bakar 0,51%.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi mengindikasikan aktivitas ekonomi yang lebih tinggi yang mendukung konsumsi. Selain itu, kenaikan harga komoditas dan produk makanan juga mendorong inflasi pada Januari 2022. Pemulihan ekonomi yang berkelanjutan diperkirakan akan terlihat ke depan.

Di sisi lain, perusahaan konsumen telah menaikkan harga produk yang mana hingga akhir 2021 beberapa perusahaan telah menaikkan rata-rata harga jual (ASP) seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) yang naik 5%-8%, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang meningkatkan harga produk mie 3%-4%, dan UNVR sebesar 5%-6%. Di awal tahun 2022, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga menaikkan harga produk tulang punggungnya, Tolak Angin, sedikit di atas inflasi.

Baca Juga: DRI: Pertumbuhan Ekonomi RI Terancam Melambat Bila ada PPKM Level 4

"Berdasarkan survei kami, beberapa produk juga melaporkan harga jual eceran yang lebih tinggi pada Januari 2022. Inflasi yang lebih tinggi dan kegiatan ekonomi yang lebih cepat yang mendukung pendapatan juga akan memberikan peluang bagi perusahaan consumer goods untuk terus menanggung biaya bahan baku yang lebih tinggi di masa depan," ungkap Natalia.

Selain itu, bulan puasa akan dimulai pada awal April 2022 sehingga penarikan penjualan untuk persediaan untuk bulan puasa (Ramadan) diharapkan pada akhir Februari/Maret 2022. Menurutnya, hal itu akan mendukung pendapatan kuartal I 2022 yang kuat untuk perusahaan barang konsumsi.

Baca Juga: Dianggap Berprospek Menarik, Simak Rekomendasi Saham ASII dari Analis Ini

Karenanya, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating netral. Adapun beberapa saham yang diperkirakan mendapatkan momentum positif dengan prospek kuartal I ini, antara lain PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan SIDO yang keduanya akan mendapatkan momentum dari peningkatan konsumsi vitamin/suplemen untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selanjutnya, ICBP dengan peluang mendapatkan CPO dengan harga DMO akan mendukung margin, serta secara historis, kuartal I merupakan salah satu kuartal terkuat bagi ICBP.

"Juga ada WOOD yang kami harapkan kinerja 2021 yang kuat akan menopang kinerja harga sahamnya," imbuhya.

Adapun untuk saham-saham tersebut, Natalia memasang rating buy untuk KLBF, SIDO, ICBP dan WOOD. Adapun target harga KLBF di Rp 1.900, SIDO Rp 1.100, ICBP 8.700, dan WOOD Rp 1.200.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham-Saham Berikut Ini Setelah IHSG Sentuh All-Time High

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati