Simak Rencana Ekspansi dan Strategi Bisnis Pertamina Geothermal (PGEO) di 2024



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) optimistis raih kinerja moncer di tahun 2024. PGEO pun sudah menyiapkan sejumlah strategi dan rencana bisnis PGEO untuk tahun ini. 

Presiden Direktur Pertamina Geothermal Energy Julfi Hadi menyampaikan, PGEO punya ruang yang besar untuk tumbuh, seiring perbaikan ekosistem dan posisi penting panas bumi dalam transisi penggunaan energi bersih.

Julfi membeberkan, akselerasi pengembangan panas bumi dapat dicapai dengan aplikasi teknologi baru. Secara bersamaan, ada optimalisasi model bisnis lewat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) dengan kapasitas yang lebih ramping. 


"Dengan begitu operasional lebih cepat, dan revenue juga lebih cepat masuk," ungkapnya.

Selain itu, secara bisnis PGEO akan mengembangkan secondary product seperti carbon credit dan pilot plant di Ulubelu green hydrogen. Sedangkan dari sisi kapasitas terpasang, PGEO sedang mengejar target 1 gigawatt pada tahun 2026. 

Baca Juga: Laba Naik 28% di 2023, Pertamina Geothermal (PGEO) Komitmen Bagi Dividen

Hingga tahun lalu, kapasitas terpasang dalam operasi sendiri PGEO mencapai 672 megawatt (MW). Pada tahun ini, PGEO menargetkan kapasitas terpasang akan bertambah menjadi 727 MW. Tambahan sebesar 55 MW akan berasal dari PLTP Lumut Balai Unit 2 yang dijadwalkan beroperasi komersial kuartal IV-2024.

PGEO juga memiliki pipeline project baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam strategi inorganic project, PGEO sedang menjajaki pengembangan panas bumi di Kenya dan Turkiye.

Di Kenya, PGEO telah mendapat perjanjian untuk kegiatan eksplorasi. Sedangkan di Turkiye PGEO menjajaki operating fields.

"Kedua negara sedang mendorong pengembangan geothermal. Namun masih tahap awal, masih banyak due diligence yang kami kerjakan," kata Julfi.

Capex 2024

Rencana ekspansi PGEO memerlukan nilai investasi yang jumbo, dengan estimasi kebutuhan dana sekitar US$ 3 miliar hingga tahun 2029. Yurizki mengatakan, kebutuhan dana tersebut sudah mencakup rencana ekspansi organik dan potensi merger dan akuisisi (M&A).

Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy,Yurizki Rio bilang, investasi tersebut akan dipenuhi lewat kombinasi pendanaan. Selain fasilitas pembiayaan yang sudah ada, PGEO juga mendapatkan dukungan pendanaan dari sindikasi perbankan. Alternatif pendanaan lainnya adalah green bond untuk keperluan refinancing.

Sedangkan untuk tahun ini, Yurizki mengungkapkan PGEO mengalokasikan belanja modal (capex) senilai US$ 547 juta. Jika dikonversi memakai kurs rupiah saat ini Rp 15.580 per dolar AS, capex PGEO terbilang jumbo, yakni setara dengan Rp 8,52 triliun.

 
PGEO Chart by TradingView

Yurizki merinci, sekitar 10%-15% dari anggaran tersebut akan dipakai untuk maintenance capex. Sementara sisanya sebagai growth capex. Alokasi capex itu juga sudah menghitung potensi M&A yang akan dilakukan pada tahun ini.

"Asumsi ada inisiatif terkait M&A yang kami jalankan, jadi US$ 547 juta itu sudah termasuk. Jika itu terjadi di tahun ini, kami sudah mendapat semacam standby fasilitas dari sindikasi bank," tandas Yurizki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari