KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham masih bergerak volatile. Di mana, Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup menguat 0,39% ke level 7.307,59 pada Kamis (9/4/2026). Padahal sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah. Jika dicermati pergerakan IHSG cenderung menguat usai pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Bahkan, pada penutupan Rabu (8/4), IHSG mampu menguat 4,42% dalam sehari. Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan pasar cenderung volatil di tengah ketidakpastian global dengan adanya konflik di Timur Tengah meskipun saat ini sedang berada di tengah gencatan senjata.
“Namun dari dalam negeri sendiri masih menghadapi beberapa hal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, risiko fiskal dan inflasi yang terjadi akibat naiknya harga komoditas minyak,” katanya kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham yang Layak Dilirik Hari Ini (10/4), IHSG Berpotensi Menguat Di sisi lain, kata Herditya, saat ini juga sedang musim pembagian dividen. Untuk itu dia menyarankan investor dapat lebih selektif terhadap emiten yang berkaitan dengan komoditas. “Selektif terhadap emiten-emiten dari komoditas
related karena rotasinya pun relatif cepat dan dapat memanfaatkan momentum dalam jangka pendek menengah ke depannya,” tuturnya. Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menambahkan momentum gencatan senjata memang mendorong market menjadi
risk-on, tetapi perlu diingat ini masih bersifat sementara dan sangat sensitif terhadap berita lanjutan. “Artinya, ada peluang tapi volatilitas masih tinggi sehingga momentum saat ini memang cocok untuk
scalping memanfaatkan momentum jangka pendek,” ucapnya. Alrich menambahkan, untuk
swing trading tetap dapat dipertimbangkan dengan
filtering yang ketat misalnya yang sudah mulai membentuk trend dengan volume yang solid. “Hindari emiten yang naik hanya karena euforia, yang biasanya cenderung membentuk
upper shadow,” tuturnya. Menurutnya, fundamental belum menjadi
driver utama untuk jangka pendek ini karena
market mover masih dari sentimen global, geopolitik, likuiditas sehingga untuk saat ini lebih ideal jika cukup melakukan
filtering terlebih dulu, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda bilang untuk
scalping masih cukup menarik karena volatilitas tinggi membuka peluang pergerakan cepat, tetapi tetap perlu disiplin karena market sangat sensitif terhadap perkembangan berita.
Baca Juga: Hari Ini (10/5) IPO Saham WBSA Listing di BEI, Harga Diprediksi Naik Tinggi “Sementara itu,
swing trading masih bisa dilakukan, tetapi lebih selektif dan sebaiknya tidak terlalu lama, mengingat potensi
reversal masih tinggi jika terjadi eskalasi lanjutan,” kata Reza. Dia menyarankan, pelaku pasar sebaiknya fokus pada saham yang sudah menunjukkan
rebound dari support dengan dukungan volume. Namun sektor komoditas juga bisa dicermati, kalau eskalasi konflik berlanjut. “Sektor komoditas seperti minyak, batubara, dan emas perlu dicermati , karena cenderung diuntungkan dari kenaikan harga energi dan meningkatnya permintaan aset
safe haven,” ucapnya. Adapun dari sektor komoditas itu saham pilihan Reza jatuh pada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI), PT Rukun Raharja Tbk (
RAJA) dan PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM).
Sementara, Alrich menambahkan investor dapat mencermati tanda pasar akan kembali drop dapat terindikasi jika IHSG tidak mampu bertahan di atas support area 7,200, volume penjualan dan false breakout. Di sisi lain, Herditya memproyeksikan IHSG masih bergerak volatile meskipun ada kecenderungan menguat terutama apabila mampu break dari area resistance 7.322 dengan area penguatan di kisaran 7.450–7.585. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News