Simak Strategi Emiten Properti di Tengah Pelemahan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di beberapa waktu belakangan bisa berimbas ke kinerja sejumlah emiten properti yang memiliki surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Kamis (18/4), rupiah spot ditutup menguat 0,25% ke level Rp 16.179 per dolar AS. Walau terlihat menguat dibanding penutupan hari sebelumnya, namun pergerakan rupiah sepanjang tahun ini sudah melemah hampir 5%

Berdasarkan penelusuran Kontan.co.id, setidaknya ada empat emiten properti yang memiliki surat utang berdenominasi dolar AS yang tercatat dalam laporan keuangan.


Keempat emiten itu adalah PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Baca Juga: Targetkan Marketing Sales Rp 11,1 Triliun pada 2024, Begini Rekomendasi Saham CTRA

MDLN memiliki beban bunga dalam dolar AS yang setara Rp 24,98 miliar dan beban lain-lain sebesar Rp 5,07 miliar. Utang obligasi dalam dolar AS juga tercatat dalam rupiah sebesar Rp 5,75 triliun per akhir 2023.

ASRI memiliki utang obligasi jangka panjang, yang jika dirupiahkan, sebesar Rp 3,49 triliun. APLN memiliki senior notes dengan jumlah pokok yang masih terutang sebesar US$ 131,96 juta.

BSDE punya senior notes Global Prime Capital (GPC) VI sebesar US$ 300 juta yang akan jatuh tempo pada tanggal 23 Januari 2025.

“Tahun lalu kami sudah melakukan tender offer atas outstanding obligasi dolar AS, sehingga saat ini tersisa US$ 88,91 juta. Dana ini sudah kami siapkan dalam bentuk dolar AS,” ujar Direktur BSDE Hermawan Wijaya, kepada Kontan, Selasa (16/4).

Corporate Secretary ASRI Tony Rudiyanto mengatakan, ASRI sudah melakukan lindung nilai (hedging) sampai dengan Rp 16.000 terhadap obligasi dolar AS.

“Saat ini kami terus memantau dengan ketat pergerakan rupiah tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (17/4).

 
ASRI Chart by TradingView

Terkait hal ini, Kontan juga sudah menghubungi Corporate Marketing Director APLN Agung Wirajaya. Namun, APLN menolak untuk memberikan tanggapan.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham ASRI saat ini ada di level support Rp 144 per saham dan resistance Rp 160 per saham. Herditya pun merekomendasikan wait and see terlebih dulu untuk ASRI.

“Untuk ASRI wait and see dulu saja hingga muncul pembalikan arah,” katanya kepada Kontan, Rabu (17/4).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari