Simak Strategi Fintech Samir Guna Menarik Minat Lender Luar Negeri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) menerapkan sejumlah strategi guna menarik minat lender luar negeri. Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan pihaknya secara konsisten menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), serta menerapkan mitigasi risiko yang ketat 

"Selain itu, membangun infrastruktur teknologi yang siap terintegrasi dengan sistem lembaga keuangan formal melalui skema channeling," katanya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Lebih lanjut, Handy menyampaikan Samir menyambut baik peluang untuk terus memperluas dan memperkuat kolaborasi dengan lender institusional luar negeri secara lebih masif ke depannya. Hal itu juga sejalan dengan tren positif pertumbuhan pendanaan dari lender luar negeri di industri.


Baca Juga: AAUI Beberkan Tantangan Asuransi Umum Saat Menggarap Proyek Berskala Besar

Sebagai penyelenggara yang berizin dan diawasi OJK, Samir melihat perluasan basis pendanaan institusional baik domestik maupun luar negeri merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem pendanaan yang lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan. 

Saat ini, Handy bilang ada sebanyak 3 lender institusi dari luar negeri yang menjadi pendana di Samir dari total 12 lender institusi yang ada. Dia mengatakan Samir juga menjalin kerja sama dengan lender perbankan, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna. 

Sementara itu, Handy mengatakan Samir akan terus secara aktif memperluas penetrasi ke sektor produktif, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ditambah, meningkatkan proporsi penyaluran pembiayaan ke daerah-daerah luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, hingga Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku.

"Kami juga berkomitmen untuk selalu patuh terhadap regulasi yang ada dengan mengedepankan transparansi maupun perlindungan terhadap konsumen," ucapnya.

Berdasarkan situs resmi perusahaan, Samir mencatatkan total disbursement mencapai Rp 7,45 triliun per 10 Agustus 2026. Adapun angka kredit macet secara agregat atau TWP90 tercatat sebesar 2,61%.

Asal tahu saja, pendanaan industri fintech lending atau yang berasal dari lender luar negeri mengalami peningkatan signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pendanaan industri yang berasal dari lender luar negeri mencapai Rp 17,28 triliun per Juni 2026, atau meningkat 34,18% secara Year on Year (YoY).

Baca Juga: Keuangan Konvensional Makin Luas, Inklusi Syariah Malah Turun

Jika menelaah secara rinci, pendanaan dari lender luar negeri per Juni 2026 tercatat makin meningkat dibandingkan capaian secara kuartalan atau per Maret 2026. OJK mencatat, pendanaan industri yang berasal dari lender luar negeri mencapai Rp 14,06 triliun per Maret 2026, atau meningkat 18,28% YoY. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News