Simak Strategi Hadapi Badai IHSG di Mei 2026! Cek Rekomendasi Saham Pilihannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Secara hestoris, pergerakan indeks cenderung lebih lesu di bulan Mei. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berpotensi terkoreksi semakin dalam di bulan Mei 2026.

Sekedar mengingatkan, pergerakan IHSG sepanjang April 2026 tercatat merah. Pada perdagangan di hari terakhir bulan April 2026 atau Kamis (30/4/2026), IHSG ditutup di level 6.956, turun 2,03% dari perdagangan di hari sebelumnya.

Dalam sebulan, IHSG turun 3,17%. Sejak awal tahun, koreksi IHSG sudah mencapai 19,55%.


Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, pelemahan IHSG sepanjang bulan April merupakan faktor teknikal lantaran masih banyak tantangan untuk pasar saham Indonesia.

Baca Juga: Emiten Blue Chip Ini Anggarkan Rp 1 Triliun untuk Buyback Saham

Sementara itu, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto melihat, kinerja IHSG sepanjang April yang berat disebabkan sentimen negatif dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS),

“Asing juga mendorong premi risiko yang cukup tinggi untuk Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Di sisi lain, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Chory Agung Ramdhani bilang, menjelang bulan Mei, data historis menunjukkan bahwa IHSG berada dalam fase dengan kecenderungan performa yang relatif lebih moderat dibandingkan bulan-bulan kuat lainnya dalam setahun. Namun, ini bukan berarti peluang menjadi hilang.

Sepanjang tahun 2017-2026, probabilitas kenaikan sebesar 33% dan probabilitas penurunan 67%. Hanya 3 dari 9 tahun terakhir IHSG mencatatkan kinerja positif di bulan Mei.

“Secara statistik, Mei memang memiliki win rate yang lebih rendah, namun tetap menghadirkan peluang pergerakan dan trading opportunity di dalamnya,” katanya kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Fenomena Sell in May and Go Away menggambarkan kecenderungan pasar yang melambat di pertengahan tahun dibanding periode awal dan akhir tahun.

“Artinya, pasar tetap bergerak dan tetap ada peluang, hanya saja membutuhkan pendekatan yang lebih selektif dan terukur,” katanya.

Baca Juga: Daftar Saham Bagi Dividen Awal Mei 2026, ASII hingga BMRI Jadi Incaran Dividen Hunter

Alhasil, potensi jual masih akan membayangi di awal Mei lantaran IHSG telah menembus level psikologis support di bawah 7.000.

Secara teknikal, IHSG di awal Mei 2026 memiliki support kuat di area 6.900 – 7.000. Jika mampu bertahan di atas area ini, ada peluang untuk rebound terbatas menuju resistance 7.200 – 7.300. 

“Namun, jika tekanan jual global masih masif, fase bearish jangka pendek bisa berlanjut,” katanya.

Saat ini, ketidakpastian di pasar saham memang sedang tinggi. Namun, ada tiga poin yang perlu dicermati.

Pertama, keputusan MSCI untuk menunda hasil review indeks saham Indonesia hingga Juni 2026 menciptakan kondisi wait and see bagi investor global. 

“Kurangnya kejelasan mengenai struktur free float dan transparansi pasar menjadi alasan penundaan ini, yang memicu outflow dana asing di saham-saham blue chip,” katanya.

Kedua, meskipun sebagian besar sudah lewat, masih ada beberapa emiten besar yang membagikan dividen di awal Mei, seperti ASII dan PGEO. Ini dapat menjaga likuiditas pasar.

Ketiga, rilis laporan keuangan kuartal I-2026 yang rata-rata masih solid, seperti kenaikan laba AGII, IMPC, dan emiten perbankan

“Serta stabilnya harga komoditas energi, seperti CPO dan batubara, yang diharapkan menjadi bantalan penahan koreksi lebih dalam,” paparnya.

 
ASII Chart by TradingView

Chory melihat, saham MDKA, RAJA, ACES, INCO, dan TKIM mencatatkan probabilitas kenaikan lebih dari 60% dalam 10 tahun terakhir, dengan dominasi sektor komoditas, energi dan konsumer.

“Strategi yang lebih optimal adalah akumulasi bertahap dan selective buying,” ungkapnya.

Harry melihat, risiko penurunan IHSG masih terjadi di beberapa bulan ke depan lantaran bobot indeks saham Indonesia yang diturunkan oleh MSCI.

Selain itu, sentimen negatif juga masih ada dari perang Iran dan depresiasi rupiah. 

“Namun, bagi saham-saham dengan dividen yang tinggi, mungkin dapat menjadi penopang sementara untuk pasar,” paparnya.

IHSG pun diproyeksikan akan ada di level 6.850-7.200 di akhir semester I 2026. 

Dengan kondisi saat ini, investor disarankan untuk mempertimbangkan saham emiten berpendapatan dolar AS untuk dikoleksi.

Harry merekomendasikan beli untuk BBCA, BMRI, ICBP, ISAT, dan ANTM dengan target harga masing-masing Rp 8.600 per saham, Rp 5.700 per saham, Rp 11.000 per saham, Rp 2.700 per saham, dan Rp 4.600 per saham.

Rekomendasi beli juga direkomendasikan untuk TINS, BKSL, DEWA, RAJA, dan WIFI dengan target harga masing-masing Rp 7.000 per saham, Rp 200 per saham, Rp 800 per saham, Rp 7.000 per saham, dan Rp 5.200 per saham.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (4/5), IHSG Berpeluang Lanjut Melemah

Rully melihat, pergerakan IHSG sepanjang Mei 2026 akan bergantung pada kondisi global, terutama konflik AS - Iran yang merupakan faktor pemberat paling besar.

“Di bulan Mei, investor bisa mencermati arah pergerakan rupiah, dengan sinyal dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam mengatasi hal ini,” tuturnya.

Sepanjang Mei, sektor saham yang bisa dipilih sepanjang Mei adalah sektor konsumer, telekomunikasi, dan komoditas. 

Di sektor komoditas, DEWA dan BRMS bisa dipilih lantaran siklus pertambangan dan emas, dengan narasi transformasi bisnis dan ekspansi volume produksi yang mendukung pertumbuhan laba beberapa tahun ke depan. Sementara, di sektor konsumsi, ada JPFA dan CMRY yang bisa dipilih.

Rully pun merekomendasikan beli untuk DEWA, BRMS, JPFA, dan CMRY dengan target harga masing-masing Rp 800 per saham, Rp 1.100 per saham, Rp 3.750 per saham, dan Rp 7.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News