Simak Strategi Investasi pada Semester II–2026 Agar Tetap Cuan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lanskap pasar keuangan domestik diperkirakan memasuki fase pemulihan secara bertahap pada semester II-2026. Sentimen kebijakan fiskal diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi prospek investasi. 

Founder Traderindo, Wahyu Laksono melihat secara umum, prospek investasi pada semester II – 2026 diperkirakan menghadapi fase pemulihan yang bergerak secara gradual atau bertahap, setelah pasar saham dan nilai tukar mengalami tekanan yang cukup besar pada semester pertama.

Meskipun fundamental pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia diproyeksikan tetap stabil pada kisaran lima persen, gejolak eksternal memaksa pelaku pasar untuk bersikap lebih realistis namun tetap optimis. 


Baca Juga: Alokasikan 98% Laba Bersih, Mitratel (MTEL) Tebar Dividen Tunai Rp 2,08 Triliun

“Tekanan pada nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar saham global memberikan ruang bagi pasar domestik untuk membentuk landasan baru yang lebih stabil menjelang akhir tahun,” ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (30/6/2026). 

Wahyu menilai strategi investasi yang disarankan dalam kondisi seperti ini adalah pendekatan defensif yang terukur dengan fokus utama pada diversifikasi aset. Investor sebaiknya menerapkan teknik Dollar-Cost Averaging atau melakukan akumulasi secara berkala untuk meminimalkan risiko volatilitas harga. 

Di pasar saham, fokus strategi perlu diarahkan pada emiten berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas tinggi, struktur keuangan yang sehat, serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Selain itu, pemanfaatan instrumen pendapatan tetap dan aset aman seperti emas sangat dianjurkan sebagai bantalan guna melindungi nilai portofolio secara keseluruhan. 

Wahyu menyebut sejumlah sentimen akan mempengaruhi pasar keuangan ke depan. Pertama datang dari ranah makroekonomi global, khususnya kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, serta pergerakan indeks dolar AS.

Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter yang ketat ini menjadi penentu utama dalam memicu arus keluar atau masuknya modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sentimen kedua adalah dinamika geopolitik internasional, terutama konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada lonjakan harga energi seperti minyak mentah dunia serta rantai pasok pangan global. Kenaikan harga komoditas ini memicu kekhawatiran atas tekanan inflasi lanjutan.

Baca Juga: Safe Haven Masih Diburu, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham HRTA di 2026

Sentimen ketiga bersumber dari fluktuasi volatilitas sektor teknologi global, terutama aksi koreksi massal yang terjadi pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan dan semikonduktor, yang secara psikologis ikut menekan minat risiko investor di pasar ekuitas global.

Sentimen keempat sekaligus penopang domestik adalah realisasi implementasi kebijakan fiskal, peluncuran paket stimulus ekonomi pemerintah, serta disiplin anggaran dari pemerintahan baru Indonesia yang dicermati ketat oleh lembaga pemeringkat kredit internasional untuk menilai stabilitas ekonomi nasional. 

Dalam konteks global, Hou Wey Fook, Chief Investment Officer DBS Bank melihat adanya dilema bank sentral yang dapat mempengaruhi arah pasar keuangan global. Menurutnya, The Fed harus mengambil keputusan sulit. Memperketat kebijakan moneter untuk menahan inflasi yang didorong oleh energi dan berisiko menghambat pertumbuhan, atau tetap sabar dan menghadapi risiko inflasi yang melonjak.

Fook menyarankan investor untuk tetap berada di obligasi tenor 5 tahun sampai 7 untuk ketahanan imbal hasil yang didorong oleh kupon. Ia menilai keuntungan capital gain terbatas karena spread berada pada level terendah secara historis dan lintasan suku bunga menjadi tidak pasti.

Ia juga menyarankan untuk tetap mempertahankan bobot struktural portofolio yang lebih besar pada sektor teknologi berdasarkan lintasan belanja modal artificial intelligence (AI). Investor juga bisa menambah diversifikasi ke sektor energi dan infrastruktur sebagai penggerak strategis ekonomi AI dan pada ketahanan energi. Private asset dan hedge funds turut meningkatkan ketahanan portofolio. 

“Tetap optimis terhadap emas di tengah kekhawatiran de-dolarisasi dan penurunan nilai mata uang” ucap Fook. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham LSIP, ERAA, CTRA untuk Rabu (1/7)

Terkait strategi investasi, DBS Bank merekomendasikan 25% portofolio investasi ditempatkan ke US equities, 17% ke obligasi korporasi di developed market (DM), 10% obligasi pemerintah (DM), 7% di Europe equities, 5% di Japan equities, 13% di Asia ex-Japan equities, 8% di emerging market bonds, dan 15% di aset alternatif. Aset alternatif ini diantaranya emas, hedge funds, real estate & infrastructure, private credit & private equity. 

Sementara Wahyu menyarankan bagi investor konservatif yang sangat mengutamakan keamanan modal dan stabilitas nilai aset, alokasi dapat dititikberatkan pada instrumen dengan risiko sangat rendah. Pertimbangan alokasi yang sesuai adalah menempatkan sebagian besar modal, yaitu sekitar 60% hingga 70%, ke dalam instrumen pasar uang seperti deposito syariah atau konvensional dan reksadana pasar uang.

Selanjutnya, sebesar 20% hingga 30% dialokasikan ke instrumen pendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara atau reksa dana pendapatan tetap untuk mendapatkan imbal hasil yang stabil. Sisa alokasi sebesar 10% dapat ditempatkan pada aset aman seperti emas fisik guna menjaga daya beli terhadap inflasi, tanpa menempatkan modal pada aset ekuitas yang fluktuatif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News