KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank digital memandang prospek penyaluran kredit pada 2026 tetap menjanjikan, meski dihadapkan pada tantangan ekonomi global, persaingan industri, hingga dinamika risiko domestik. Corporate Secretary Allo Bank, Stacey Aryadi Suryoputro, mengatakan perseroan cukup optimistis menatap 2026. Menurutnya, berbagai program pemerintah seperti insentif likuiditas serta kebijakan suku bunga yang kondusif menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan kredit. “Allo Bank menargetkan pertumbuhan kredit dan pendanaan di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan agar dapat tumbuh positif secara berkelanjutan,” ujar Stacey kepada kontan.co.id.
Jika dilihat dari laporan keuangan Allo Bank yang belum di audit, hingga Desember 2025, kredit Allo Bank tercatat tumbuh 22,2% mencapai Rp9,14 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara umum dan juga melampaui capaian tahun sebelumnya.
Baca Juga: Bank Digital Semakin Selektif Ekspansi Kredit di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Pertumbuhan tersebut ditopang oleh segmen kredit ritel yang menjadi kontributor utama, sementara kredit nonritel juga tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri yang tercatat 7,74% secara tahunan (yoy). Untuk mendorong kinerja pada 2026, Allo Bank masih akan mengandalkan strategi direct lending. Perseroan terus mengembangkan proses credit underwriting yang prudent dengan mengoptimalkan berbagai sumber data. Selain itu, Allo Bank juga akan memperkuat inovasi dan pengalaman nasabah melalui pemanfaatan data analytics dan artificial intelligence (AI) guna menghasilkan customer insight yang lebih efektif serta manajemen risiko yang efisien. Optimisme serupa juga disampaikan oleh Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan. Ia menilai penyaluran kredit Krom Bank pada 2026 masih berpeluang tumbuh sehat dan berkelanjutan, meski tetap mencermati risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, dan isu geopolitik. “Krom Bank menargetkan pertumbuhan kinerja kredit hingga dua digit dengan memanfaatkan momentum pasar dan hari-hari besar nasional,” kata Anton.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Bank Digital Tetap Kuat di 2025, Direct Lending Makin Dominan Dalam menyalurkan kredit, Krom Bank akan mengandalkan strategi channeling melalui mitra yang sudah ada maupun mitra baru sebagai strategi utama. Selain itu, penyaluran kredit juga dilakukan secara langsung kepada nasabah melalui aplikasi Krom Kredit. Fokus pembiayaan diarahkan pada sektor UMKM, konsumsi produktif, dan pembiayaan ritel. Hingga November 2025, penyaluran kredit Krom Bank tercatat mencapai Rp8,40 triliun, melonjak 121% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,80 triliun. Di sisi lain, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mengambil langkah yang lebih konservatif. Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menyampaikan bahwa kredit BNC pada November 2025 tercatat sebesar Rp7,05 triliun, turun 16,78% secara tahunan. Penurunan tersebut terutama berasal dari segmen korporasi, seiring dengan pengetatan risiko yang dilakukan perseroan. “Kami masih fokus pada segmen konsumer dan lebih berhati-hati melihat kondisi ekonomi saat ini. Penurunan kredit terutama dari segmen korporasi,” ujar Eri. Meski kredit mengalami kontraksi, Eri menegaskan kualitas portofolio justru membaik. Pengetatan risiko dilakukan agar pertumbuhan kredit ke depan lebih selaras dengan risk appetite dan tujuan bisnis perseroan. “Loan memang turun, tetapi dari sisi kualitas justru lebih sehat. Ke depan, BNC ingin bertumbuh secara selektif dengan segmen yang lebih efisien,” pungkasnya.
Baca Juga: Laba Bank Digital Melejit, Kinerja Melesat Kalahkan Bank Konvensional Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News