KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan daya beli. Hal ini tercermin dari pertumbuhan simpanan nasabah dengan nominal di bawah Rp100 juta yang melambat menjadi sekitar 4,7% secara tahunan pada Juli 2026, dari 5,2% pada Juni 2026. Perlambatan pertumbuhan simpanan tersebut kembali memunculkan indikasi bahwa sebagian masyarakat masih harus menggunakan dana simpanannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau fenomena makan tabungan. Pengamat perbankan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, kondisi tersebut tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: LPS Catat Simpanan Bank Umum Tumbuh 0,18% Jadi Rp 10.368 Triliun pada Agustus 2026 “Karena daya beli yang belum membaik sehingga kelas menengah masih lesu dan dampaknya fenomena makan tabungan tidak bisa dihindari,” ujar Trioksa kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Menurut dia, tekanan terhadap kelas menengah masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun apabila belum terdapat perbaikan signifikan pada daya beli masyarakat. “Trennya sepertinya masih cukup berat sampai akhir tahun bila tidak ada perbaikan. Kelas menengah masih akan terhimpit,” katanya. Trioksa menilai masyarakat kelas menengah perlu mencari sumber pendapatan tambahan untuk menjaga kondisi keuangan rumah tangga di tengah tekanan tersebut. “Strategi bagi kelas menengah adalah jangan mengandalkan hanya satu penghasilan, perlu bekerja lebih keras untuk mencari penghasilan tambahan,” tutur dia. Sementara itu, Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan, segmen masyarakat menengah bawah memang masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi daya beli dan pengelolaan arus kas rumah tangga. Namun, kondisi tersebut menurut dia tidak serta-merta menunjukkan pelemahan fundamental secara permanen. BTN juga mencermati perkembangan simpanan dan perilaku transaksi nasabah secara lebih granular. Di BTN, kebutuhan masyarakat terhadap produk simpanan masih cukup tinggi, khususnya untuk kebutuhan transaksi, payroll, penerimaan pendapatan, hingga kebutuhan yang berkaitan dengan pembiayaan perumahan.
Baca Juga: Kinerja Bank Kecil Tetap Tumbuh hingga Agustus 2026 “Memang terdapat kecenderungan sebagian nasabah lebih aktif menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, di sisi lain, basis dana masyarakat yang bersifat transaksional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar,” kata Rully. Karena itu, BTN tidak hanya melihat perkembangan nominal saldo simpanan, tetapi juga aktivitas transaksi, customer engagement, serta potensi peningkatan saldo secara bertahap. Untuk 2026, Rully melihat tekanan terhadap kelas menengah bawah masih menjadi dinamika yang perlu diperhatikan. Namun, terdapat ruang perbaikan seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, serta aktivitas sektor-sektor yang menjadi basis ekonomi masyarakat. BTN juga memiliki peluang memperluas basis dana murah melalui ekosistem perumahan, mulai dari payroll, developer, pekerja, komunitas hingga transaksi yang berkaitan dengan kebutuhan perumahan. “Dengan demikian, kami melihat 2026 bukan hanya sebagai tahun untuk mempertahankan dana, tetapi juga sebagai momentum untuk memperluas basis funding dan meningkatkan kualitas CASA secara berkelanjutan,” ujarnya. Untuk memperkuat tabungan, BTN menjalankan sejumlah strategi. Di antaranya memperkuat akuisisi nasabah baru melalui payroll, komunitas, ekosistem perumahan dan segmen usaha. Bank juga mendorong
transaction-based CASA agar rekening nasabah tidak hanya digunakan sebagai tempat menyimpan dana, tetapi aktif untuk berbagai transaksi. Selain itu, BTN memperkuat ekosistem perumahan, meningkatkan digital engagement, serta memperkuat hubungan dengan nasabah melalui solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tahapan finansial masing-masing.
Baca Juga: Asuransi Asei Soroti Besarnya Potensi Proteksi di Balik Maraknya Event Olahraga Lari Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, kondisi simpanan masyarakat perlu dilihat secara lebih granular dan tidak hanya dari perubahan total nominal simpanan. Menurut dia, secara industri memang terdapat tekanan pada nominal simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta. Namun, jumlah rekening pada segmen tersebut justru masih menunjukkan peningkatan. “LPS sebelumnya juga menyampaikan bahwa data hingga Juni belum menunjukkan adanya fenomena masyarakat secara luas ‘makan tabungan’,” kata Destya. Di Allo Bank, perkembangan dana transaksional masih menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2026, saldo tabungan Allo Bank mencapai sekitar Rp1,01 triliun, tumbuh 26,35% yoy. Sementara itu, saldo giro tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar Rp479 miliar. Menurut Destya, kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan dan engagement nasabah untuk menggunakan rekening dalam aktivitas keuangan sehari-hari masih kuat. “Karena itu, kami melihat fenomena ini tidak semata-mata sebagai isu ‘makan tabungan’. Perilaku nasabah sangat beragam,” ujarnya. Sebagian masyarakat memang lebih selektif dalam mengelola pengeluaran dan likuiditas. Namun, pada saat yang sama, semakin banyak nasabah yang menggunakan rekening untuk bertransaksi, melakukan pembayaran, menerima maupun menyimpan dana. Destya menilai, peningkatan dana transaksional menjadi sinyal positif karena semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar peluang terbentuknya dana operasional yang lebih sticky dan berkelanjutan.
Baca Juga: LPS Catat Simpanan BPR dan BPRS Tumbuh 4,18% Jadi Rp 181,78 Triliun per Juni 2026 Destya mengatakan, kondisi masyarakat, khususnya segmen menengah bawah, masih akan dipengaruhi oleh perkembangan daya beli, lapangan pekerjaan, inflasi, serta tingkat kepercayaan terhadap perekonomian. Masyarakat diperkirakan masih selektif dalam mengalokasikan pendapatan antara konsumsi, pembayaran kewajiban, dan tabungan. Namun, terdapat sejumlah indikator yang dinilai konstruktif. Berdasarkan data OJK yang dikutip Allo Bank, per Juni 2026 simpanan dengan nominal di bawah Rp100 juta secara industri masih tumbuh 5,16% yoy, membaik dari pertumbuhan 1,84% yoy pada Maret 2026. Bahkan, simpanan rumah tangga di bawah Rp5 juta dan Rp5 juta-Rp10 juta masing-masing tumbuh 7,36% yoy dan 10,01% yoy per Juni 2026. Dengan kondisi tersebut, Allo Bank melihat masih terdapat ruang perbaikan secara bertahap, meski tetap mempertimbangkan ketidakpastian ekonomi. “Kami sendiri tidak menetapkan proyeksi berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan kembali menabung dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Fokus kami adalah membangun pertumbuhan dana secara gradual melalui peningkatan jumlah nasabah aktif, frekuensi transaksi, dan kebiasaan menabung,” jelas Destya. Untuk menggenjot tabungan, Allo Bank mengubah pendekatan dari sekadar menawarkan produk tabungan menjadi membangun saving habit dan transaction habit. Bank mendorong penggunaan QRIS, transfer, bill payment, serta berbagai kebutuhan transaksi harian. Semakin sering rekening digunakan, semakin besar peluang rekening tersebut menjadi rekening operasional utama nasabah. Dari sisi simpanan, Allo Bank juga mengembangkan produk seperti Allo Grow dan Allo Deposito. Allo Deposito dapat diakses mulai dari Rp 1 juta.
Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Bayar Dividen Interim Rp 6,16 Triliun, Ini Rinciannya Bank juga memanfaatkan data dan customer insights untuk memberikan penawaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan perilaku nasabah. “Tujuan kami bukan hanya meningkatkan nominal tabungan dalam jangka pendek, tetapi membangun customer engagement, retention, dan lifetime value dalam jangka panjang,” kata Destya. Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan simpanan dan dana pihak ketiga (DPK) akan dipengaruhi sejumlah variabel makroekonomi, baik dari kondisi eksternal maupun domestik. Secara konsolidasi, total DPK BCA mencapai Rp1.284 triliun per Juni 2026, tumbuh 7,9% yoy.
Adapun dana giro dan tabungan atau CASA berkontribusi sekitar 84,3% terhadap total DPK BCA. CASA tumbuh 10,2% yoy menjadi Rp 1.082 triliun. Hera mengatakan, mencermati kebutuhan nasabah yang semakin dinamis dan beragam, BCA konsisten menerapkan konsep hybrid banking melalui layanan online maupun offline. “Strategi ini dilakukan untuk mempertahankan posisi di pasar dan senantiasa bertumbuh,” ujar Hera. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News