KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah simpanan masyarakat kelas menengah-bawah di perbankan berhasil tumbuh cukup signifikan pada April 2026. Akan tetapi, pertumbuhan ini dinilai belum menjadi tanda pulihnya perekonomian masyarakat. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat per April 2026, jumlah simpanan dalam rekening dengan tier nominal di bawah Rp 100 juta meningkat 5,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding Maret 2026 yang tumbuh 1,8% yoy dan Februari 4,4% yoy. Jika dilihat dari awal tahun hingga akhir April 2026, jumlah simpanan dalam rekening tier di bawah Rp 100 juta justru tumbuh lebih tinggi dibandingkan tier simpanan lainnya. Jumlah simpanan tier ini tumbuh 1,2% year-to-date (ytd).
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertumbuhan simpanan masyarakat menengah bawah ini lebih disebabkan oleh faktor musiman. Paska Idul Fitri pada akhir Maret 2026 lalu, Josua menyebut simpanan masyarakat menengah-bawah mendapat tambahan dana dari tunjangan hari raya (THR). Selain itu, pada April 2026, pemerintah juga mencairkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). "Akselerasi ini lebih banyak mencerminkan efek musiman pascalebaran dan sisa THR yang mengalir ke rekening tabungan, ketimbang perbaikan daya beli yang sesungguhnya," kata Josua saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Daya Beli Tekan Tabungan Kelas Menengah Bawah, Bank Mandiri Yakin Simpanan Tumbuh 10% Adapun secara tahunan Josua menyebut pertumbuhan tabungan kelas menengah-bawah masih jauh tertinggal oleh kelas di atasnya. Josua pun menyebut tren pertumbuhan simpanan ini sangat rentan memudar dengan sejumlah faktor, di antaranya pelemahan rupiah, inflasi yang masih tinggi, serta dana pengembangan daerah yang kian dipangkas oleh pemerintah pusat. "Pemulihan simpanan menengah-bawah saat ini lebih tepat dibaca sebagai pemulihan siklus jangka pendek yang rapuh, bukan perbaikan fundamental," tuturnya. Sejumlah perbankan juga mencatatkan tren pertumbuhan simpanan nasabah kelas menengah-bawah pada April 2026, di antaranya PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto mencatat, per April 2026, jumlah volume simpanan nasabah dengan tier di bawah Rp 100 juta di Bank Mandiri berhasil tumbuh diatas 8% yoy. "Simpanan tier ini juga mencatatkan pertumbuhan bulanan yang solid di saat tier di atasnya cenderung fluktuatif," ucapnya. Senada dengan Josua, Mega menyebut pertumbuhan simpanan nasabah menengah-bawah Bank Mandiri utamanya didorong oleh tambahan dana berkat THR dan tunjangan pemerintah.
Baca Juga: OJK Sorot Perlambatan Simpanan Kelas Menengah Bawah di Tengah Ketidakpastian Global Selain itu, Mega juga menilai layanan perbankan saat ini kian mudah diakses oleh masyarakat berkat gencarnya digitalisasi. Kemudahan akses ini mendorong nasabah menabung lebih banyak dana. Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan juga mencatat adanya pertumbuhan yang cukup signifikan pada simpanan nasabah kelas menengah-bawah BTN. Rully juga menyebut tren pertumbuhan simpanan itu sejalan dengan basis nasabah BTN yang memang kuat dari kalangan ritel. Ia pun menambahkan, BTN juga cukup banyak menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi. Ia bilang, pertumbuhan KPR subsidi sejalan dengan meningkatnya segmen nasabah berpenghasilan menengah-bawah.
"Segmen ini memang menjadi salah satu sumber yang cukup baik untuk penghimpunan dana BTN. Kami mencatat pertumbuhan positif yang konsisten dengan tren industri," tuturnya. Selain itu, Rully menyebut BTN juga banyak mendapat nasabah baru dari pertumbuhan layanan payroll, kemitraan strategis, serta aktivasi event.
Baca Juga: Kelas Menengah Bawah Kian Terhimpit, Pertumbuhan Jumlah Simpanan di Bank Masih Lesu Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News