KONTAN.CO.ID - Singapore Airlines memastikan tetap melanjutkan ekspansi kapasitas penerbangan meski sejumlah maskapai besar dunia mulai mengurangi jadwal terbang akibat lonjakan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah. Manajemen Singapore Airlines menilai, kondisi keuangan perseroan masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan operasional di tengah tekanan biaya avtur yang meningkat tajam.
Baca Juga: Laba Emiten Blue-Chip Eropa Diproyeksi Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak 2022 Dalam paparan kinerja pada Jumat (15/5), Chief Commercial Officer Singapore Airlines Lee Lik Hsin mengatakan perusahaan tidak memiliki kebutuhan untuk memangkas kapasitas penerbangan seperti yang dilakukan beberapa maskapai pesaing, termasuk Cathay Pacific dan Qantas. “Kami berada dalam posisi yang tidak perlu memangkas kapasitas. Posisi keuangan kami kuat sehingga kami justru tetap bertumbuh dibanding mengurangi kapasitas,” ujar Lee. Singapore Airlines tercatat memiliki kas sebesar 7,9 miliar dolar Singapura atau sekitar US$6,19 miliar. Perseroan juga melihat permintaan penerbangan masih solid, terutama karena banyak penumpang memilih transit melalui Singapura untuk menghindari kawasan Teluk yang terdampak konflik.
Baca Juga: Produsen Jack Daniel's Tolak Tawaran Akuisisi US$ 15 Miliar dari Rivalnya Sazerac Maskapai ini sebelumnya mengumumkan akan membuka rute baru dari Singapura menuju Madrid melalui Barcelona. Selain itu, frekuensi penerbangan ke Manchester, Milan, Munich, dan London Gatwick juga akan ditingkatkan pada paruh kedua tahun ini. Meski terus memperluas layanan, Singapore Airlines mengakui margin keuntungan mulai tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat yang menjadi komponen biaya terbesar perusahaan. Lee mengatakan kenaikan tarif tiket sejauh ini belum sepenuhnya mampu menutupi lonjakan harga avtur. “Kami ingin menetapkan harga yang masih bisa diterima pelanggan, sehingga kami harus mencermati kondisi pasar secara hati-hati,” katanya. Pada Kamis (14/5), Singapore Airlines melaporkan laba bersih tahunan turun 57,4% menjadi 1,18 miliar dolar Singapura. Penurunan ini dipengaruhi tidak adanya keuntungan satu kali sebesar 1,1 miliar dolar Singapura pada tahun sebelumnya dari integrasi usaha patungan Vistara ke Air India.
Baca Juga: AS Dikabarkan Cabut Kasus Penipuan Gautam Adani Pasca Capai Kesepakatan Kasus Perdata Selain itu, kerugian Air India turut membebani kinerja Singapore Airlines. Maskapai asal Singapura tersebut saat ini memiliki 25,1% saham Air India bersama grup Tata sebagai pemegang saham mayoritas. CEO Singapore Airlines Goh Choon Phong mengatakan, investasi di Air India merupakan strategi jangka panjang yang membutuhkan proses transformasi bertahap.
“Tidak ada jalan pintas,” ujar Goh. Ia juga membuka peluang adanya tambahan suntikan modal ke Air India di masa mendatang, seiring kebutuhan pendanaan besar untuk mendukung transformasi maskapai tersebut. Analis DBS Jason Sum menilai, Air India kemungkinan masih akan menjadi beban terhadap laba Singapore Airlines dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Menurut dia, Air India juga memiliki pesanan lebih dari 500 pesawat baru yang memerlukan pendanaan besar, sehingga maskapai tersebut kemungkinan perlu menyesuaikan jadwal pengiriman armada agar tetap sesuai kemampuan keuangan grup.