SGX dan MAS Bersinergi, Singapura Percepat Ambisi Jadi Hub Emas Internasional



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Singapura secara resmi mengumumkan rencana besar untuk memperkuat infrastruktur pasar keuangannya.

Guna mengukuhkan posisi sebagai pusat (hub) perdagangan emas internasional, Singapura akan membangun sistem kliring emas over-the-counter (OTC) serta memperkenalkan layanan penyimpanan emas (gold-vaulting) berskala bank sentral.

Baca Juga: Pemimpin Dunia Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Harapkan Stabilitas Ekonomi Global


Rangkaian kebijakan strategis ini disampaikan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong dalam pembukaan konferensi Asia-Pacific Precious Metals Conference, Senin (15/6/2026) yang dilansir Reuters.

Dorong Sistem Kliring Finansial Bersama Enam Bank Global

Dalam cetak biru tersebut, Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange/SGX) ditargetkan meluncurkan sistem kliring komoditas OTC untuk skema Loco Singapore, istilah perdagangan untuk emas fisik yang disimpan secara lokal di Singapura pada akhir tahun ini.

Untuk memperkuat likuiditas dan kepercayaan pasar, sebanyak enam lembaga perbankan raksasa global telah ditunjuk untuk bergabung sebagai anggota kliring perdana, yaitu: DBS Bank, Deutsche Bank, ICBC Standard Bank, J.P. Morgan, OCBC Bank, dan UOB (United Overseas Bank).

Baca Juga: 10 Pemain Afrika Termahal di Piala Dunia 2026: Yan Diomande Teratas

Selain sistem kliring, SGX saat ini tengah menjajaki peluncuran kontrak berjangka (futures contract) emas dengan sistem penyerahan fisik.

Langkah ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi penemuan harga (price discovery) serta manajemen risiko aset Loco Singapore.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) Buka Brankas Cadangan Negara

Di paruh waktu yang sama, Otoritas Moneter Singapura (MAS) selaku bank sentral akan memperkenalkan layanan central bank gold-vaulting paling lambat Oktober tahun ini.

Baca Juga: Bursa Asia Melonjak Senin (15/6), Harga Minyak Anjlok, AS-Iran Capai Kesepakatan

Fasilitas keamanan tinggi ini ditujukan khusus bagi bank sentral asing dan lembaga pengelola dana abadi negara (sovereign entities) untuk menyimpan cadangan emas resmi mereka.

"Langkah ini memperkuat proposisi Singapura sebagai yurisdiksi hukum di mana aset cadangan devisa dapat disimpan dengan aman, dikelola secara aktif, dan terhubung langsung ke likuiditas pasar yang lebih luas selama jam perdagangan Asia," jelas Wakil PM Gan Kim Yong.

Insentif Pajak dan Ekspansi Sektor Perbankan Lokal

Sebagai bagian dari rekomendasi kelompok kerja khusus yang dibentuk awal tahun ini, MAS juga akan menghapus batas maksimum (cap) 5% untuk investasi fisik logam mulia di bawah skema insentif pajak.

Kebijakan pelonggaran fiskal ini sengaja menyasar entitas dana kelolaan memenuhi syarat (eligible funds) serta kantor pengelolaan kekayaan keluarga (family offices).

Baca Juga: Pemilik Anjing di China Makin Royal, Industri Hewan Peliharaan Tembus US$ 46 Miliar

Langkah agresif Singapura ini berjalan beriringan dengan ekspansi portofolio yang dilakukan oleh industri perbankan domestik:

  • DBS Bank: Mengumumkan peluncuran layanan emas fisik yang ditokenisasi (tokenised physical gold) untuk menjangkau basis nasabah ritel.
  • OCBC Bank: Menyediakan fasilitas bagi nasabah institusi dan private banking untuk membeli, menjual, sekaligus menyimpan emas fisik langsung di Singapura.
Persaingan Ketat di Kawasan Regional

Infrastruktur baru ini sekaligus memperuncing persaingan antar-pusat keuangan utama di Asia.

Sebelum langkah Singapura ini diumumkan, bursa saham Hong Kong (Hong Kong Exchanges and Clearing/HKEX) pada bulan Mei lalu telah menyatakan niat serupa untuk meluncurkan kembali kontrak berjangka emas, demi mengamankan status kota tersebut sebagai hub penyimpanan dan perdagangan emas internasional.