KONTAN.CO.ID - Pemerintah Singapura menyiapkan paket dukungan ekonomi senilai hampir S$1 miliar (US$780 juta) untuk meredam dampak konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global. Paket tersebut mencakup bantuan tunai bagi warga, voucher bahan bakar untuk pekerja transportasi, hingga peningkatan insentif pajak bagi korporasi. Melansir
Reuters, Senior Minister of State for Finance Jeffrey Siow mengatakan, langkah ini diambil menyusul kenaikan tajam biaya energi akibat perang Iran.
Baca Juga: China Kembali Naikkan Harga BBM, Bensin dan Solar Melonjak Bahkan, nilai stimulus kali ini disebut lebih besar dibandingkan paket bantuan pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. “Kami tidak tahu berapa lama konflik dan dampak ekonominya akan berlangsung, namun pemerintah terus mencermati situasi ini,” ujar Siow, Selasa (7/4/2026). Secara rinci, pemerintah akan menyalurkan bantuan tunai kepada warga yang memenuhi syarat, serta memberikan voucher bahan bakar bagi pengemudi taksi, pengemudi kendaraan sewa, dan pekerja platform ride-hailing. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan potongan pajak perusahaan menjadi 50%, lebih tinggi dari sebelumnya 40% yang diumumkan dalam Anggaran FY2026 pada Februari lalu.
Baca Juga: Bos IEA: Krisis Minyak dan Gas Saat Ini Lebih Parah dari 1973, 1979, dan 2002 Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menyebutkan, data awal menunjukkan aktivitas ekonomi Singapura masih cukup tangguh pada kuartal I-2026. Namun, ia mengakui pertumbuhan ekonomi tetap berpotensi tertekan akibat konflik. Kementerian Perdagangan Singapura sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 2%–4%, dan penyesuaian proyeksi akan diumumkan setelah evaluasi rutin bulan depan. Sementara itu, Menteri Koordinator Keamanan Nasional K Shanmugam menyoroti tingginya ketergantungan Singapura pada energi impor. Sekitar 95% kebutuhan listrik negara tersebut berasal dari gas alam impor, dengan sekitar 9% pasokan tahun ini berasal dari Qatar. Ia menambahkan, Singapura belum menggunakan cadangan energinya, namun tengah mempertimbangkan untuk meningkatkannya meski membutuhkan biaya besar.
Baca Juga: India Akan Beri Jaminan Kredit untuk Bisnis yang Terdampak Perang Iran Sebagai salah satu pusat perdagangan minyak terbesar dunia, peringkat ketiga secara global Singapura tetap mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus kewajiban ekspor energi. “Hal ini menjaga relevansi Singapura dalam perdagangan energi global dan memungkinkan kami tetap memiliki akses terhadap minyak mentah,” ujar Shanmugam. Dalam Anggaran Februari lalu, pemerintah memperkirakan surplus fiskal FY2026 (April–Maret) sebesar S$8,5 miliar, yang memberikan ruang bagi peluncuran stimulus tambahan ini.